Home / ؞ Opini / Viral / Memaknai Lagi Kemerdekaan
Ilustrasi Hari Kemerdekaan Republik Indonesia oleh Google

Memaknai Lagi Kemerdekaan

Sudah 73 tahun yang lalu negara kita berhasil mengusir para penjajah. Namun, apakah dengan terusirnya mereka itu berarti menihilkan ‘penjajah-penjajah’ lain yang hendak merongrong negeri kita? Sayangnya tidak.

Buktinya sekarang kita merasakan sendiri adanya penjajahan-penjajahan dalam bentuk lain yang masih menjadi problem bangsa kita saat ini. Semisal adanya penjajahan ideologi, dengan munculnya oknum-oknum yang mencoba memecah belah rakyat melalui pembenturan paham agama dan bangsa. Atau penjajahan teknologi, dengan adanya pemanfaatan sebagai alat perusak moral bangsa melalui berbagai aplikasi atau unggahan publik yang berkonten tidak wajar, dan lain sebagainya.

Jika demikian, apakah di era sekarang ini arti kemerdekaan negara kita tersebut akan terus kita maknai dengan “terbebasnya suatu wilayah dari penjajahan” saja, dengan hanya mencukupkan seremonial dan euforia sebagai bentuk kegiatan untuk mengenang dan mengisi sebuah kemerdekaan? Kita rasa, hal tersebut tidaklah cukup.

Kita telah hidup di zaman yang berbeda dengan musuh dan tantangan yang berbeda. Maka sikap kita dalam menghadapinya pun pastinya juga berbeda (menyesuaikan). Jika dahulu para pendahulu kita bersatu melawan para penjajah dengan memekikkan takbir dan mengangkat senjata untuk memerangi mereka, maka generasi sekarang tidaklah demikian, karena musuh yang sedang kita hadapi kini bukanlah berbentuk fisik lagi, akan tetapi berwujud abstrak. Seperti kebodohan, kesenjangan sosial, kemiskinan, dikuasainya sumber ekonomi oleh orang asing, dimanfatkanya arus teknologi sebagai  perusak moral atau alat pemecah-belah umat, dan lain sebagainya.

Kesemuanya itu mengharuskan kita untuk memaknai arti kemerdekaan di era sekarang ini tidak hanya dengan pengertian di atas. Akan tetapi, harus lebih luas daripada itu, yakni terbebasnya suatu wilayah berikut hak penduduknya dari segala penjajahan. Baik berupa fisik maupun non fisik.

Dengan pengertian yang lebih luas tersebut, kiranya kita bisa mulai mengukur seberapa merdeka bangsa kita sampai detik ini.  Kita bisa muhasabah atau intropeksi keadaan bangsa kita sekarang. Apakah sudah benar-benar mutlak merdeka, atau baru merdeka dari satu bentuk penjajahan merangkak menuju kemerdekaan atas penjajahan-penjahan yang lain?

Melihat kenyataan, agaknya keadaan yang kedua tersebut lebih pas kiranya untuk mencerminkan keadaan bangsa kita yang sekarang. Bahwa bangsa kita saat ini memang belum sepenuhnya mutlak merdeka, tetapi masih berproses mempertahankan kemerdekaan dan memperjuangkan “kemerdekaan” selanjutnya.

Oleh karenanya, kita sebagai rakyat bangsa, haruslah ikut berkontribusi dalam rangka mempertahankaan kemerdekaan, mengisi dan berjuang demi membawa bangsa kita menuju ke kemerdekaan hakiki yang selanjutnya. Dengan cara apa? Dengan cara berperan semaksimal mungkin di bidangnya masing-masing.

Yang berada di intansi pemerintahan, bisa memaksimalkan dirinya dalam memakmurkan dan mensejaterahkan rakyat. Yang bergerak di bidang pendidikan, bisa menanggulangi kebodohan dengan cara memaksimalkan dirinya demi memberikan pendidikan yang terbaik untuk SDM bangsa. Yang menjadi ekonom, bisa memaksimalkan dirinya demi meningkatkan kualitas ekonomi rakyat, dengan cara memberikan training-training kewirausahaan atau memperbanyak lapangan pekerjaan. Yang berada di bidang teknologi, bisa mengerahkan dirinya semaksimal mungkin dalam menangkis berita-berita hoak atau paham-paham radikal yang mencoba menyusup dengan cara memperbanyak menebar konten-konten kebaikan, dst.

Dengan cara demikian, bergeraknya seluruh elemen masyarakat semaksimal mungkin di bidangnya masing-masing tersebut tentu akan mampu membawa bangsa kita menuju hakikat kemerdekaan yang sesungguhnya.

 

Tentang Hasyim Danten

Fans berat Prof. Quraish Shihab. Sekarang kuliah di Azhar. Meniti jalan sang idola.