Home / ؞ Opini / Viral / Memetik Hikmah dari Kesalahan Ust. Hanan Attaki
Foto Ust. Hanan Attaki. Diunduh dari laman islamedia.id

Memetik Hikmah dari Kesalahan Ust. Hanan Attaki

Dakwah adalah ajakan, bukan tuntutan. Maka sudah seharusnya ia disampaikan dengan bahasa yang santun, persuasif, tidak terkesan menggurui apalagi memaksa.

Dakwah memliki aturannya tersendiri. Seorang yang menyampaikannya tidak bisa sebebas komika, sekocak pelawak, sekeras pendemo atau bahkan se-alay artis Tiktok. Kalaupun seorang pendakwah hendak melucu, maka melucunya itu hanya dijadikan sebagai selingan atau sisipan belaka. Sebagai pencair suasana saja, bukan malah menjadi prioritas utama, sebab tujuan dari dakwah adalah tersampaikannya informasi keagamaan sesuai sasaran.

Karena itulah, pakar tafsir Indonesia, Muhammad Quraish Shihab mengatakan bahwa dakwah adalah ajakan yang sebaiknya menambah wawasan yang diajak. Beliau memandang bahwa kesuksesan dakwah tidak diukur dari gelak tawa atau ratap tangis sasaran dakwahnya, tetapi dengan tambahan pengetahuan atau tersingkirnya kesalahpahaman yang menyelebungi benaknya, atau paling tidak bertambahnya kesadaran untuk melakukan kebaikan.

Selain mempersiapkan materi dakwah yang sesuai dengan tingkat kecerdasan sasaran dakwah, akan lebih baik jika seorang dai mampu membahasakan materi dakwahnya itu sesuai dengan bahasa kalangan yang ia dakwahi pula, dengan tetap menjaga etika.

Misal: seorang dai yang berdakwah di pelosok desa pulau Jawa, dengan mayoritas masyarakat yang terdiri diri orang tua, ia akan lebih diterima dan dihormati jika ia menyampaikan materi dakwahnya itu menggunakan bahasa krama. Lain halnya dengan seorang dai yang berdakwah di kalangan akademisi, tentu ia akan lebih dihormati dan diterima mitranya jika ia mampu menggunakan bahasa ilmiah. Begitu pula seorang dai yang berdakwah di kalangan anak muda. Ia akan lebih diterima jika mampu membahasakan materi dakwahnya dengan bahasa anak muda. Atau yang biasa disebut dengan bahasa gaul, yang kekinian. Namun demikian, kesemuanya itu harus tetap mempertimbangkan aspek kesopanan dan tidak boleh berlebihan.

Berangkat dari prinsip-prinsip di atas, seorang ustaz tidak boleh terjebak dalam ketenaran yang sudah disandang. Misalnya, ia terkenal dikalangan pengikutnya sebagai ustaz gaul lantas ingin membahasakan semua materi dakwahnya dengan memilih diksi-diksi yang dianggapnya gaul pula. Padahal, diksi yang dipilihnya itu bisa jadi keliru, karena bertentangan dengan norma dan ajaran yang berlaku. Maka, tidaklah bijak seorang ustaz lebih mengedepankan diksi yang dianggapnya gaul itu jika memang pada kenyataannya diksi tersebut mengalami peyorasi. Sehingga, tidak menutup kemungkinan jika hal semacam ini terlontar di publik nantinya akan membuahkan banyak kontroversi.

Maka dari itu, Islam telah mengajarkan umatnya untuk tidak berlebihan. Dalam hal apapun itu, termasuk berbahasa. Sebagai contoh, seorang ustaz, demi mengikuti bahasa kekinian maupun tren anak muda, menggunakan kalimat “Nabi Musa adalah ‘premannya’ para Nabi”, untuk mengungkapkan maksud bahwa beliau adalah jagoan atau jawaranya para Nabi. Seperti yang diungkapkan oleh Ustaz Hanan Attaki yang terekam publik belakangan ini. Ini adalah kekeliruan, karena hal itu sudah berlebihan. Sebab, ketika kalimat tersebut diperdengarkan, ia jelas telah mengalami peyorasi atau perubahan makna yang mengakibatkan sebuah ungkapan menggambarkan sesuatu yang tidak etis.

Oleh karenanya, sejak dini Alquran telah mengajarkan bahwa selain hendaknya dakwah itu dilakukan dengan cara hikmah, ia juga harus dilakukan dengan cara mauizah hasanah (QS. an-Nahl: 145), yakni kata-kata atau sikap baik yang menyentuh hati serta yang mendorong pada hal-hal yang positif. Di samping itu, Alquran juga telah berpesan kepada mereka yang hendak tampil menyampaikan sesuatu untuk bisa tampil dengan apa yang diistilahkan oleh Alquran sebagai qoulan sadîdâ(QS. al-Ahzab: 70), yakni kata-kata yang tidak hanya benar, tetapi juga tepat.

Karena itu, pemilihan diksi dalam peyampaian materi saat berdakwah itu sangat penting. Terlebih jika berkaitan dengan nilai-nilai ajaran keagamaan dan atau norma yang berlaku di masyarakat.  Karena di situ ada adab dan tata kramanya. Jadi, seseorang tidak bisa seenaknya saja dalam berbicara. Semisal mengatakan “Bahwa nanti akan ada pesta seks di surga” untuk mengungkapkan maksud bahwa nanti ketika seseorang telah di surga maka ia akan dilayani oleh banyak bidadari. Atau semisal juga “Nabi Musa adalah premannya para nabi” untuk menggambarkan maksud bahwa beliau adalah seorang jawara, yakni nabi yang telah diberi anugerah oleh Allah berupa kegagahan fisik dan keberanian. Sekali lagi, itu adalah hal yang tidak pantas.

Bukankah Alquran sendiri yang mengajarkan untuk membahasakan sesuatu yang vulgar atau terkesan jorok itu dengan bahasa kiasan, yang tentunya akan terasa lebih indah dan enak didengar? Coba perhatikan QS. al-Baqarah: 223 yang berbunyi: “Istri-istrimu adalah ‘ladang’ bagimu, maka datangilah ‘ladangmu’ kapan saja dan dengan cara yang kamu sukai”. Atau QS. al-Baqarah: 222 yang berkata: “… Karena itu, ‘jauhilah’ istrimu pada waktu haid, dan jangan kamu ‘dekati’ mereka sebelum mereka suci…”. Atau QS. an-Nisa’: 15 yang berbunyi: “Dan para perempuan yang melakukan ‘perbuatan keji’ di antara perempuan-perempuan kamu, hendaklah terhadap mereka ada empat orang saksi di antara kamu (yang menyaksikannya)… .”

Kesemuanya diksi dalam tanda petik yang digunakan oleh Alquran tersebut menandakan bahwa Alquran, dalam berbahasa sangatlah memperhatikan diksi. Selain agar makna yang dikandungnya tetap tersampaikan, juga agar tetap terkesan indah dan enak didengar (tidak vulgar). Maka sudah seharusnya pula bagi kita untuk sebisa mungkin meneladaninya. Karena kesalahan diksi dalam berbicara bisa jadi berdampak fatal. Terlebih jika yang bersangkutan adalah publik figur atau tokoh kenamaan. Seperti pada polemik yang terjadi pada Ustaz Hanan Attaki di atas.

Tetapi, jika hal itu memang sudah telanjur terjadi, dan tokoh yang bersangkutan memang telah mengakui bahwa hal itu memang murni karena kesalahannya dalam memilih diksi, pun juga ia telah meminta maaf kepada publik atas kesalahannya itu, maka tidak ada alasan bagi kita untuk mempermasalahkannya lagi. Sebab, siapapun pasti memiliki kesalahan, dan yang terpenting dari sebuah kesalahan adalah usaha untuk memperbaiki kesalahan tersebut.