Home / masisir / Mengenal Lebih Dekat Dr. K. H. Mahmudi Mukhson, MA

Mengenal Lebih Dekat Dr. K. H. Mahmudi Mukhson, MA

Kairo, kswmesir.org (23/11) — Tiga bulan yang lalu, seorang mahasiswa Indonesia program doktoral di Universitas al-Azhar Kairo berhasil menyelesaikan studinya.

Setelah menempuh jenjang pendidikan enam tahun lamanya, usaha mahasiswa ini tidaklah sia-sia. Gelar Mumtâz ma’a Martabati Asy-Syaraf Al-Ûla atau Summa Cum Laude berhasil diraih oleh salah satu mahasiswa Indonesia terbaik di al-Azhar.

Beliau adalah KH. Mahmudi Muhson, MA. Berasal dari kabupaten Kudus, Jawa Tengah, dan sampai saat ini masih aktif menjabat sebagai wakil Rais Syuriah PCINU Mesir. Dalam desertasinya, beliau mengajukan judul “Takhrîj al-Fatâwâ al-Maushiliyah Li Sultôn al-‘Ulamâ al-‘Izz ibn ‘Abd as-Salâm ‘Ala al-Qawâ’id al-Ushûliyah.” Adapun dalam versi Indonesia, desertasi tersebut berjudul “Mentakhrij Fatwa Maushiliyah Karya Sulthan al-Ulama al-Izz bin Abd Salam dengan Perspektif Usul Fikih.” Mengutip numesir.net, desertasi ini di bawah bimbingan langsung dari Prof. Dr. Muhammad Muhammad Abdul Latif (Pembimbing I/Guru Besar Ushul Fiqh Universitas Al-Azhar). Desertasi ini diuji oleh Prof. Dr. Mahmud Abdul Rahman (Direktur Program Ushul Fiqih Universitas Al-Azhar) dan Prof. Dr. Farouq Ahmad Husein (Guru Besar Ushul Fiqih Universitas Al-Azhar Damanhour).

Dalam karyanya, beliau mentakhrij fatwa-fatwa Sulthan al-Ulama al-Izz bin Abd as-Salam, seorang ulama yang berani menentang kemungkaran yang dilakukan pemerintah di zamannya sampai ia dikurung dalam penjara. Setelah itu, Mahmudi mencari akar dari fatwa-fatwa Sang Imam untuk dijadikannya sebagai kaidah ushul fikih.

Dengan demikian, kaidah tersebut akan berperan sebagai sarana untuk istinbath (kesimpulan) hukum kontemporer. Dalam sidang yang dihadiri oleh para masyayikh Azhar, Mahmudi juga tampil gemilang. Bahkan salah satu penguji mengatakan, “Ini…ini jawaban yang bagus! Mana tepuk tangan kalian untuk Mahmudi?” ujar Prof. Dr. Mahmud Abdul Rahman di salah satu pertanyaan yang dijawab secara cekatan oleh Mahmudi. Selain itu, dalam sejarah persidangan desertasi di al-Azhar, karya Mahmudi ternyata memegang rekor sidang terlama, yaitu selama 6,5 jam. Sidang tersebut dilaksanakan pada pukul 13:00 CLT sampai dosen pembimbing I yang membawakan sidang membacakan keputusan sidang. “…Pelajar dengan nama Mahmudi Mukhson asal Indonesia mendapat predikat Syaraf Ula (summa cumlaude)…”. Sontak tepuk tangan hadirin memenuhi seisi ruang sidang. Melihat prestasi beliau yang amat gemilang, mahasiswa al-Azhar, khususnya fakultas Syariah Islamiyah tentunya harus termotivasi dengan sosok Mahmudi Mukhson, demi lahirnya banyak generasi intelektual yang akan menjadi pilar bangsa. (kaha)

Tentang admin

Lihat Juga

Mahasiswa Pascasarjana Asal Jawa Tengah Raih Gelar Magister Usul Fikih

Mahasiswa pascasarjana jurusan Usul Fikih, Ahmad Munafidzul Ahkam  meraih predikat Jayyid Jiddan pada sidang tesis …