Berita Terkini
Home / KSW NEWS / ALMAMATER / Mengkritik KSW: Mengkritik Diri Sendiri

Mengkritik KSW: Mengkritik Diri Sendiri

Kata kritik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti suatu kecaman atau tanggapan, kadang-kadang disertai uraian dan pertimbangan baik buruk terhadap suatu hasil karya, pendapat, dan sebagainya. Dari uraian singkat ini, kritik berarti respon dari kejadian masa lampau; kejadian yang sebenarnya dapat diantisipasi sebelumnya, bukan berarti mendahului kehendak tuhan tentunya, tetapi manusia dengan akal budinya, sebenarnya mampu untuk memprediksi lima atau mungkin lebih, langkah untuk maju ke depan, jauh-jauh hari sebelum perihal kritik-mengkritik itu terjadi. Banyak sarjana Barat yang mengkaji tentang future methodology seperti ini, sebut saja misalnya: Wendell Bell dengan karyanya Foundations of Futures Studies, atau Richard L. Henshel dengan On the Future of Social Prediction, dan lain sebagainya. Buku yang sebenarnya sangat penting untuk diaplikasikan sebagai langkah awal dalam membantu kesuksesan program kerja KSW; dengan memahami masa depan secara tepat dan terstruktur, yang artinya langkah pertama adalah (sekaligus) langkah terakhir, peluang kemungkinan kesuksesan organisasi meningkat setidaknya 30% dari presentasi sebelumnya.

Di antara langkah pertama itu adalah pemilihan personalia anggota kepengurusan baru. Kita sangat memahami bagaimana mekanisme kaderisasi itu: amat sulit dan seringkali menjengkelkan. Kesulitan dalam menemukan organisatoris sejati sudah menjadi problem paling akut sekaligus problem paling purba di semua organisasi Masisir. Sekali lagi, kita menyadari hal ini dan sudah banyak solusi yang diberikan oleh para pakar. Namun tetap saja ada semacam “ketakutan berkelanjutan” yang sayangnya masih ditambah kecendrungan mahasiswa baru akhir-akhir ini yang lebih memilih berkiprah di lingkungan formal al-Azhar daripada lingkungan non formal seperti organisasi. Padahal bila dicermati lebih jernih, dunia yang sekarang kita tinggali ini sarat akan persaingan global; persaingan yang tidak lagi menggunakan standar lokal (Masisir), tetapi yang menjadi standar pengukuran dan juga letak titik acuan keberadaan dan perubahannya yaitu dengan melihat standar global dunia. Karena itu, dibutuhkan sosok muslim yang multitalenta. Tidak hanya multitalenta dalam standar lokal Masisir, tetapi ia juga mampu menapaki standar inter lokal. Tidak hanya mahir dalam urusan akademik, walaupun tak dapat dipungkiri ia merupakan modal utama, melainkan juga sosok yang mampu survive secara kolektif dan terstruktur. Kita tidak mungkin bekerja sendirian di dunia yang menuntut adanya kerja kolektif ini; dan itu hanya diperoleh lewat jalur makro: organisasi. Bila disarikan urutannya adalah: Kesadaran > Kasih > Kebenaran > Pengorbanan > Kolektif > Keseimbangan > baru lahirlah Keadilan. Di sini saya hanya ingin mengatakan, pemilihan anggota pengurus secara tepat yang berarti menuntut kaderisasi yang tepat pula, walaupun tentu sangat sulit sekali, diharapkan tidak akan pernah lagi memunculkan pertanyaan tahunan seperti: kenapa program ini dan itu kurang maksimal? Kenapa tidak ada inovasi ini dan itu? Kenapa program ini dan itu tidak berjalan? Kenapa sirkulasi keuangannya macet? What’s going on, Brother!

Yang kedua, tujuan kritikan tentu adalah untuk intropeksi diri ke arah yang lebih baik; ke arah perubahan sosial yang lebih cerah. Max Weber menyebutkan tiga syarat adanya perubahan sosial: figur yang kuat, ideologi yang jelas, dan gerakan rakyat. Bila kita telisik dari tiga hal tersebut, sudah ada beberapa figur yang representatif di tubuh KSW dan dibutuhkan lebih banyak lagi. Tujuan dari terwujudnya banyak figure yang kuat tak lain adalah untuk mengurangi beban teknis maupun psikologis yang sebelumya ditanggung oleh (hanya) beberapa figure. Untuk poin kedua; ciri wanci corak pola pikir dan ideologi KSW sepertinya belum begitu kentara. Status ideologi KSW secara de facto, bukan de jure, belum begitu jelas dalam pandangan saya; misalnya saja statusnya dalam hal instansi formal; apakah ia hanya sebatas “tempat berteduh”, ataukah sebagai “barak militer”, atau mungkin mencakup kedua-duanya. Saya rasa KSW menyediakan pola arah kedua-duanya. Dan jika hal ini benar, ada beberapa kegiatan KSW yang berjalan selama ini hanya terkesan acara ceremonial belaka, tidak ada yang namanya data statistik yang lengkap mengenai berapa presentase kuantitas dan kualitas keberhasilan dari tiap program yang telah dan sedang dijalankan. Padahal keberhasilan kematangan ideology suatu organisasi terletak di dalam data statistik itu, dan dari sana kita mampu bercermin kembali untuk menjadi lebih baik. KSW sebagai organisasi dengan makna ketatnya, inilah yang saya sebut KSW sebagai “barak militer” itu. Sedangkan KSW sebagai “tempat berteduh”, KSW termasuk kekeluargaan yang patut diberi apresiasi tinggi karena mampu menyuguhkan dinamika sosial bercorak kultural.  Artinya, kerukunan, keharmonisan, dan kejujuran dalam berekspresi sosial sangat kental aura positifnya di sini. Tinggal menambah sedikit arus laju untuk megembangkan fungsinya sebagai pelopor dalam kebijakan publik sekala luas dalam hal intelektual maupun kebudayaan. Poin terakhir; gerakan rakyat, bahwa manusia adalah “Makhluk Air” yang membutuhkan banyak air. Bayangkan saja manusia dewasa memiliki tubuh dengan kadar air 70% yang awalnya pada saat dilahirkan, 90% tubuhnya adalah air. Manusia tidak hanya membutuhkan air sebagai sumber kehidupannya, tapi air juga merupakan symbol kehidupan, kesegaran dan kesejukan. Sekali lagi, manusia menyukai hal-hal yang sesuai dengan tabiatnya dan diantaranya adalah sifat air ini. KSW ingin dibanjiri manusia, ingin ada gerakan rakyat? Jadikan dulu KSW seperti istana air. Apa dan bagaimana bentuk aplikatifnya? Ada banyak buku yang membahas hal ini dan yang paling saya sukai yaitu Sun Tzu The Art of War. Buku yang cukup terkenal mengenai seni penaklukan dengan cara membaca mekanisme kerja alam.

Yang ketiga, apa yang telah saya paparkan mungkin terlalu norak, karena standar pengukuran yang saya pakai adalah ukuran global, bukan lokal. Alhasil –mengingat kondisi medan geografis yang cukup berat, saling berebut jam terbang antar instansi, dan juga kondisi psikologis tiap individu –mengingat faktor-faktor ini, KSW Mesir menurut saya pribadi, dan bukan standar global yang saya pakai sebelumnya, sudah sangat baik. Tinggal mempertahankan hal-hal positif yang sudah ada saja, baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Saya tahu di era globalisasi ini kita dituntut untuk lebih praktis, tidak terlalu teoritis seperti ini. Mungkin satu saja kritikan praktis yang menurut kami penting disuarakan, yaitu menurunnya kinerja Website KSW. Sejak terpilihnya Mas Susalit menjadi Gubernur KSW, ada semacam kabar angin yang saya dengar mengenai Website KSW, semoga saja hal ini tidak benar, yaitu:

  1. Dari segi waktu, Website KSW lambat dalam memberikan informasi. Hal ini kami cermati pada saat berita itu harus disebarluaskan melalui Website KSW, akan tetapi faktanya tidak terealisasikan.
  2. Jika sudah lewat hari, kru Website KSW mudah mengabaikan informasi yang sebenarnya harus dipublikasikan.
  3. Sebagai pembaca, kami membaca (karakter kata) berita yang disajikan tergolong sedikit. Umumnya, sebuah berita yang baik adalah bukan jumlah karakter kata yang banyak, melainkan isi berita itu proporsional.

Masih jelas teringat dalam memori kita bagaimana Qadafi dan Mubarak tumbang, pemerintahan Turki dan Korut menutup medsos, kemenangan Trump dan Presiden Jokowi, dan akhir-akhir ini bagaimana sesosok manusia menjadi begitu dibenci gara-gara keceplosan mencatut surat Al-Maidah; karena apa? Karena media sosial. Hal itu menjadi mungkin karena bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga merupakan representasi sebuah kekuasaan. Apa yang menjadi persepsi masyarakat adalah apa yang mereka telah terima. Dengan bahasa lain, sesiapa yang merajai media komunikasi seketika itu pula mendominasi kehidupan di Masisir. Kita semua secara gamblang melihat kenyataan fenomena itu.

Di sisi lain, saran saya, inovasi terstruktur dalam segala lini perlu ditingkatkan lagi dan lagi, agar lebih indah dan berwarna. Dimulai dengan mencermati hal yang “PALING DIBUTUHKAN sekaligus MENYENANGKAN” bagi anggota KSW sendiri dan masisir pada umumnya. Tentu yang namanya kebutuhan ada banyak sekali macamnya dan tiap individu berbeda, namun hal yang paling kentara manfaatnya adalah program pemberdayaan manusia –apapun bidang dan bentuk pengejawantahannya. Dari situ, kelak ketika kita sampai tua (dan hampir mati), kita masih merasakan manfaatnya. TERIMAKASIH, KSW!

Lihat Juga

La Decima:10 Komentar Walisongo

Pagelaran Jawa Cup XIV memang telah berakhir. Namun, euforia La decima Walisongo FC masih terasa …