Home / FEATURE / Menjadi Ibu seperti Bu Naim
Ilustrasi seorang ibu dan anak | sumber foto: Pexels.com

Menjadi Ibu seperti Bu Naim

Ini adalah kisah yang menritakan ketabahan seorang ibu dengan putrinya yang terserang katarak konginetal, jenis penyakit akibat virus rubella yang menyerang saat dalam kandungan.

 

Rubella bisa menyerang siapa saja. Terutama anak-anak. Gejalanya sendiri bisa dikatakan ringan. Seperti batuk, pilek, bahkan ruam-ruam merah di kulit. Namun, jika ia menginfeksi ibu hamil, akibatnya pada janin tidak main-main.

Bu Naim mengalami itu.

Seminggu setelah melahirkan, ia melihat mata Ummu Humaira anaknya berbeda. Kedua bola mata anaknya berwarna abu-abu dan keruh. Tak seperti bayi pada umumnya: iris hitam dan sklera yang bersih. Merasa khawatir dengan keadaan itu, Bu Naim bergegas menghubungi suaminya yang masih bekerja.

“Kita bawa ke Puskesmas dulu, ya, Bu,” ajaknya.

Sayangnya, dokter umum di desa tak bisa memastikan apa yang menyerang anaknya. Dia hanya menyarankan pasiennya merujuk ke dokter spesialis mata di kota.

Bu Naim pun kian khawatir.

“Anak ibu ini terkena katarak konginetal namanya, Bu. Kemungkinan besar penyebabnya ialah penyakit rubella yang menyerang Ibu saat hamil. Salah satu tandanya ialah bintik-bintik merah pada kulit yang dialami ibu saat itu,” ujar Dokter Halida.

“Langsung cek darah, ya, supaya tau sebab pastinya.”

Hasil diagnosis menunjukkan Bu Naim positif rubella. Dokter Halida menyarankan agar Umma dioperasi untuk mengangkat selaput katarak sebelum ia berusia enam bulan. Alasannya, syaraf-syaraf mata pada anak-anak akan mati di atas umur tersebut.

“Kalau hanya diobati, tanpa operasi, kemungkinan besar malah dapat menimbulkan kebutaan di kemudian hari,” kata dokter saat bicara konsekuensi antara jalur operasi dan konsumsi obat saja.

Di antara dua pilihan pengobatan, operasi memang lebih menjanjikan. Namun, bukan berarti tanpa konsekuensi lanjutan. Selain biaya pascaoperasi yang tinggi, efek sampingnya juga serius. Bisa menganggu kemampuan melihat, mendengar, bahkan kehilangan nyawa.

“Terkejut, tapi, ya, saya harus kuat dan mendengarkan apa kata dokter. Demi Umma, saya harus mengusahakan yang terbaik,” ujarnya mengenang.

Di antara anggota keluarga besar, tak seluruhnya setuju dengan rencana operasi. Mereka tak tega jika bayi semuda Umma harus menjalani operasi layaknya orang dewasa. Bu Naim jadi bimbang. Namun setelah berbicara panjang dengan suami, operasi menjadi pilihan.

“Kita ikut kata dokter saja, Bu,” katanya.

Dokter Halida menyarankan agar Umma mendapat nutrisi yang cukup sebelum operasi. Rencananya, operasi akan dilakukan jika Umma sudah berusia dua bulan dan memiliki berat badan sekitar empat sampai lima kilogram.

Tepat pada usia dua bulan sebelas hari, Umma dioperasi selama delapan jam. Umma mengalami kehilangan semua fungsi saraf motorik setelah operasi. Kemampuan melihatnya secara otomatis berkurang, begitu pula pendengarannya. Kehilangan fungsi saraf motorik membuat tubuhnya kaku dan sulit digerakkan.

“Kaget saat mengetahui banyaknya efek samping yang bermunculan, tetapi saya selalu yakin dengan semua ketentuan yang sudah Allah berikan. Saya tetap semangat berusaha, semangat mencarikan terapis untuk Umma sehingga fisiknya menjadi normal kembali.”

Umma harus menjalani terapi fisik untuk memulihkan fungsi motorik dan menunjang perkembangan tubuhnya. Adapun untuk merangsang fungsi penglihatan dan pendengaran, Umma menjalani terapi indra.

Terapi fisik di lakukan dua kali dalam seminggu di sebuah klinik terapi di kota. Di klinik tersebut Bu Naim bertemu seorang dokter terapi bernama dr. Ambar. Dialah yang membantu Umma memulihkan fungsi motoriknya. Dokter Ambar berpesan agar terapi rutin dilakukan sesuai jadwal yang ditentukan. Dia juga menawarkan terapi tambahan di kediamannya, jika Bu Naim berkenan.

Dr. Ambar memulai terapi dengan menggerakkan semua sendi-sendi tubuh Umma yang kaku. Dia melatih tubuh Umma supaya dapat duduk dengan tegak, merangkak, lalu meluruskan kaki agar dapat berdiri tegak. Pak Dokter juga selalu mengajaknya berkomunikasi dan bermain.

Di klinik terapi, Bu Naim bertemu banyak orang tua dengan keadaan serupa. Selagi menunggu anak menjalani terapi, mereka berkenalan, bertukar pengalaman, dan saling memberi semangat satu sama lain untuk memperjuangkan anak-anak mereka. Berawal dari situ, Bu Naim  tak lagi merasa sendiri.

“Kita ini orang pilihan, Bu. Tuhan memilih keluarga kita karena Tuhan tahu kita ini  kuat dan mampu merawat serta membesarkan anak yang istimewa,” kata salah seorang kenalan Bu Naim.

Selain terapi, Umma masih harus menjalani operasi pemasangan lensa tanam untuk mengurangi kerabunan di kedua matanya. Berbagai obat-obatan langka juga harus dikonsumsinya. Tidak hanya itu, kacamata dan alat bantu dengar juga dikenakan Umma.

 “Yang ada dalam benak saya itu hanya bagaimana Umma bisa seperti anak-anak pada umumnya. Lelah fisik itu sudah pasti. Bahkan tak hanya fisik, tetapi juga lelah kantong, lelah pikiran, dan lain-lain.”

“Namun, (lelah) itu hilang dengan adanya keyakinan dan semangat bahwa saya akan melihat anak saya tumbuh seperti layaknya anak normal,” kata Bu Naim.

Keadaan fisik Umma memang tak sama dengan anak-anak lain. Hal inilah yang membuat beberapa kawan, tetangga, bahkan keluarga serta orang-orang yang melihatnya menganggapnya aneh.

Bu Naim sering mengeluhkan hal ini dan tidak bisa menerimanya. Namun, seiring berjalannya waktu, ia mengabaikan anggapan orang lain dan memilih berfokus dengan pertumbuhan Umma. 

“Umma adalah amanat yang harus dijaga dan disayangi,” kata Bu Naim.

***

Setelah dua tahun lebih sembilan bulan, Umma tak perlu terapi lagi. Saraf motorik dan fisik Umma sudah berfungsi lebih baik. Dia bisa duduk, merangkak, dan berdiri tanpa bantuan terapis maupun ibu kandungnya. Bila dibandingakan dengan bayi normal, Umma terhitung telat. Namun, Bu Naim tak mengeluh. Apalagi, kini Umma juga bisa berlari seperti balita pada umumnya.

“Bersyukur sekali melihat keadaan Umma sekarang, yang terus tumbuh dan berkembang. Harapan saya, Umma bisa mandiri dalam menjalani kehidupannya sendiri, terlebih bagi orang lain di sekitarnya.” 

Menginjak usia enam tahun, Bu Naim menyekolahkan Umma ke Sekolah Luar Biasa kategori B (SLB-B) untuk membantu mengasah keterampilannya. SLB-B merupakan sekolah yang diperuntukkan bagi anak yang memiliki kekurangan dalam indra pendengaran atau tunarungu.

Sekolah ini menganut sistem pembelajaran yang mengharuskan siswa-siswinya untuk mengeluarkan suara dalam berkomunikasi dan melarang penggunaan bahasa isyarat. Hal ini untuk mengoptimalkan potensi yang ada dalam diri anak itu sendiri, yaitu memiliki oral atau alat bersuara untuk menyampaikan maksudnya walau ia tak mendengar layaknya orang pada umumnya.

Di sekolah, Umma juga belajar mengenal berbagai macam alat musik, angka, dan huruf alfabet. Para guru juga selalu memancing pendengaran mereka dangan mengeja kata dan bernyanyi agar pendengaran anak-anak menjadi lebih peka dengan suara.

Kini, Umma sudah dua belas tahun. Perkembangannya cukup signifikan, bahkan di luar ekspektasi Bu Naim. Dia sudah seperti anak-anak normal pada umumnya. Bisa membaca, menulis, berhitung, bahkan menari sesuai iringan lagu serta bermain dengan sebayanya sepulang sekolah.

“Alhamdulillah. Ini lebih dari yang saya bayangkan.”

Fauzia Nur Layly

Artis ternama Youtube KSW Mesir. Di jagad maya, menjadi satu-satunya artis yang rela tak dibayar. Baru-baru ini, sedang tertarik mengikuti kajian filsafat. Jadi, hati-hati.

Tentang KSWMESIR.org

Adalah situs web yang dikelola oleh mahasiswa Al-Azhar asal Jawa Tengah dan Jogjakarta. Opininya berfokus pada isu sosial-keagamaan. Sekarang, menyajikan pula rubrik FEATURE.