Home / ؞ Opini / Monolog dan Rumah Kaca

Monolog dan Rumah Kaca

Sebuah kontempelasi untuk seorang Amrizal Batubara, juga Masisir lainnya

Lihat saja. Beranda facebook begitu ramai seperti pasar. Orang-orang tak perlu berpikir dua kali untuk mempromosikan secara brutal dagangannya, menawar paksa harganya, bersungut-sungut memaki orang yang tak dikenal hanya karena tanpa sengaja menjatuhkan handphone mahalnya, bahkan menyatakan cinta sekaligus menolaknya. Yang kebanyakan tidak terjadi sungguhan di pasar. Masih akan ada jejak rasa menyesal di wajah seseorang yang melakukan hal memalukan lalu meredam egonya. Kecuali satu; preman. Preman-preman ini, (bahkan) sampai sekarang, belum lelah menuntut pengakuan sepihak agar opininya -katakanlah- di-like semerta diamini. Tentu, mereka tidak punya malu. Tapi untungnya, di facebook kita masih bisa dengan waras menghindari preman tersebut dengan aman. Tidak seperti di pasar, mau waras atau tidak, kita akan tersudutkan sampai pada titik bertahan hidup adalah prioritas. Hanya saja yang menjadi masalah adalah wajah-wajah itu tersembunyi. Kita bahkan tidak tahu apa mereka bercanda atau sungguhan. Apa mereka tersenyum keasyikan saat kita kalang kabut tidak siap menerima opini itu, lalu pergi begitu saja? Bukankah itu sedikit keterlaluan? Ternyata dimensi komunikasi dalam media sosial sebegitu bercandanya, sebegitu abu-abunya. Bahkan pasar agaknya masih lebih bersih ketimbang media tersebut, lebih jujur. Begitukah?

Analogi pasar dengan facebook ini mungkin masih belum utuh dan naif. Akan tetapi untuk mengindikasi adanya preman-preman yang mengganggu ketenteraman beranda media sosial itu tidak salah. Sejauh mana kita menindaklanjuti preman tersebut merupakan pengujian juga untuk tingkat kedewasaan kita. Karena tentu sangat tidak berarti bila kita membalasnya dengan cara preman pula, maka “lingkaran setannya” akan terpenuhi dan mulai berputar terus-menerus. Lagipula yang perlu dicermati melalui tulisan ini ialah bentuk komunikasi yang baik. Mengapa facebook, misalnya, sebagai salah satu media sosial yang tentunya bertujuan mengeratkan komunikasi antar manusia agar lebih intens lagi, justru menjadi perantara yang sangat manjur untuk menghakimi bahkan menghina dengan aman? Itulah yang sangat disayangkan, terutama melihat beberapa peristiwa akhir-akhir ini. Contoh yang paling dekat, seorang Masisir, yang berjasa mengembalikan Masisir kepada para kyai-kyai Azhar, seorang Amrizal Batubara mantan Presiden PPMI 2013/2014. Bagi yang tidak terbesit kekecewaan padanya di akhir-akhir ini, mungkin adalah mereka yang tidak terlalu mengerti situasi dan kondisi ke-Masisir-an saat ini.

Masisir hari ini bagai berada di dalam rumah kaca. Siapa yang tak mengetahui apa yang terjadi pada seorang Masisir? Baik itu diwartakan oleh jurnalis ataupun disampaikan sendiri dalam bentuk curhat-an yang mengendap di beranda media sosial, tentunya. Barangkali inilah yang menjadi pemicu mudahnya penyebaran isu-isu tak berdasar oleh para preman. Menyoal kembali mengenai seorang Amrizal Batubara, keputusannya untuk -entah secara sadar atau di bawah paksaan- membuat kericuhan dengan meramaikan facebook oleh gerakan penolakan LPJ PPMI 2014/2015-nya untuk yang kedua kalinya, bagi sebagian dirasa sangat mengganggu. Ia menyalahkan PPMI atas ketidaktuntasan mengatasi masalah pemakzulan Atdik tempo hari. Bahwa Fahmi Lukman tidak berhasil dipulangkan atau setidaknya tidak lagi menjabat posisi apapun di KBRI, sebaliknya malah hanya dialih-fungsikan dengan Fungsi Pensosbud, yaitu Ibu Lauti Lauti. Tapi hal ini justru menunjukkan ketidakpahaman Amrizal akan strategi politik dimana senaif-naifnya hal tersebut tetap diperlukan untuk kepentingan yang lebih besar, yaitu ketentraman dan penjagaan citra baik Indonesia di mata Mesir. PPMI, (saya rasa, dan semoga benar) sudah mengusahakan yang terbaik untuk memfasilitasi arus massa. Bahkan sampai pada Fahmi Lukman dialih-fungsikan yang berarti ia tidak lagi menjabat sebagai Atdik merupakan keberhasilan politis. Dan sudah seharusnya mahasiswa teredam emosinya lalu kembali pada koridornya masing-masing. Apapun yang mungkin terjadi nantinya merupakan tanggung jawab kedua belah pihak, baik Masisir maupun KBRI. Tidak semerta kita bergerak tanpa adanya pertanggungjawaban. Bila kita menilai cukup dalam, mungkin rumah kaca yang dimiliki Amrizal cukup kotor, tertutup oleh debu dan tidak pernah dibersihkan hingga yang tampak hanya keruhnya suasana.

Kemudian, apalagi yang kurang dari seorang Amrizal? Dialog. Ya, bila diperhatikan dalam status-status kontroversialnya, ia tidak pernah menanggapi satupun komentar yang membantah atau mengkritisi argumentasinya, setidaknya dengan menanggapi dengan baik. Ia hanya membalas pujian setingginya pada orang-orang yang secara polos -untuk tidak mengatakan buta- mengamini dan memuji keberaniannya bertindak berbeda. Kalau begitu, apa artinya sebuah perbedaan pendapat bila tak dapat dikompromikan. Apa artinya mempunyai hubungan sosial dengan manusia lainnya, bila tidak mau dan mampu mendengar suara sesama manusia, lebih jauh; menerima kritik. Apa artinya memiliki kemampuan orasi yang berapi-api, bila tidak mengerti bagaimana caranya berdialog. Mungkin Anda, bung Amrizal, sedang ber-monolog. Seperti para penyair yang bercerita prosa-prosa secara solo di panggung. Hanya saja Anda kurang puitis. Sayang sekali.

Memang benar, ketika terjadi suatu ketidakadilan -untuk mengatakan ketidaktuntasan pemakzulan Fahmi Lukman masih belum cukup adil- maka kita harus menginterupsi ketenangan yang sedang berlangsung dan menyadarkan orang-orang akan ketidakadilan yang sedang terjadi. Namun, pandangan yang luas dan pengendalian emosi yang matang, sangat diperlukan untuk meredam kepincangan berpendapat dalam skala yang besar. Bila pernah melihat film Gie (2006), oleh Riri Riza, di adegan-adegan pembukaan saat Gie muda kesal oleh salah satu guru SMP-nya yang menurunkan nilai-nilainya hanya karena tidak senang dengan sikap berani Gie di kelas. Ia pun memutuskan untuk mencegat guru tersebut di tengah jalan pulangnya. Sebelumnya Gie sempat berkata pada Han, temannya, saat ditanya mengapa ia terus melawan padahal bila tidak ia bisa naik kelas dengan nilai yang paling baik. “Han, kita nggak mungkin bisa hidup bebas begini, kalau bukan karena melawan. Soekarno, Hatta, Sjahrir, mereka semua berani memberontak dan melawan. Mereka berani melawan semua kesewenang-wenangan.” Maka dalam perjalanannya membuntuti guru yang berlaku tidak adil padanya, ia menanamkan semangat tersebut. Sampai pada rumah gurunya itu, ia menemukan rumah kecil yang terdesak oleh berbagai macam bangunan lain. Ia menyaksikan gurunya menemui istri dan anaknya yang begitu bahagia si kepala keluarga akhirnya pulang. Adegan itu membuatnya mengurungkan niatnya. Bukan berarti semangatnya memberantas ketidakadilan berhenti sampai di situ. Hanya saja sangat perlu untuk melihat ke dalam, lebih dalam lagi. Menghadapi berbagai situasi sewajarnya dengan berbagai pertimbangan. Itulah mengapa manusia merupakan mahluk sosial –yang wajar-.

Maka, Anda, bung Amrizal, dan juga Masisir lainnya agar tidak melihat satu arah saja. Tidak melihat hanya dengan satu kaca mata saja. Terlebih, hanya membela kepentingan sekelompok saja. Bila terjadi lagi ketidakadilan birokrasi yang kita alami di sini, maka saya harap kita semua dapat berdialog terlebih dahulu sebelum secara anarkis mengemukakan pendapatnya secara brutal. Mari kita bersihkan rumah kaca kita dari sapuan debu sebelum semakin pekat. Hingga orang-orang dapat melihat ke dalam dengan jernih, tanpa prasangka-prasangka yang tidak-tidak. Sebagai Masisir, mari kita bersatu terlebih dahulu. Mari prioritaskan kepentingan bersama ketimbang ego untuk narsis dan dipuja meski bermaksud membantu. Saya siap untuk diajak dialog oleh bung Amrizal setelah tulisan ini muncul ke permukaan dan dibaca, lalu membersihkan rumah kaca ini bersama. Bisa jadi saya yang tidak paham dengan niatan-niatan tertentu, atau malah sebaliknya. Semoga tidak.

Fadhilah Rizqi

Masisir biasa

Tentang KSWMESIR.org

Adalah situs web yang dikelola oleh mahasiswa Al-Azhar asal Jawa Tengah dan Jogjakarta. Opininya berfokus pada isu sosial-keagamaan. Sekarang, menyajikan pula rubrik FEATURE.

Lihat Juga

Perihal Simbol dan Metafora dan Persinggungan Keduanya

Yang menarik dari dari ketidak-tertarikan kita pada bahasa Indonesia kita adalah kesalahpahaman yang disengaja. Kita …