Home / ؞ Opini / (Opini) Eratkan Cinta Kuatkan Raga Bersama Jawa Cup XI

(Opini) Eratkan Cinta Kuatkan Raga Bersama Jawa Cup XI

Belum sempat ambil satu-dua napas untuk istirahat sejenak, sejak beberapa event besar beberapa hari lalu seperti acara musik bulanan KMC II, Haul GusDur dan Mbah Sahal di PCINU, LKS PPMI, Masisir harus bersiap-siap untuk menghabiskan suaranya men-support tim kesebelasannya masing-masing dalam event Jawa CUP XI.

Khususnya mahasiswa yang berasal dari salah satu provinsi di Pulau Jawa. Dua hari yang lalu, Senin (16/02/15), Jawa Cup XI 2015 resmi dimulai. Kegiatan olahraga bergengsi nomer satu se-Jawa di Mesir ini menguras andrenalin setiap pegiat si kulit bundar hampir separuh populasi Masisir dan menguji persiapan masing-masing tim dari enam kekeluargaan, yaitu: Krakatau FC (KMB), The Jak FC (KPJ), Siliwangi FC (KPMJB), Walisongo FC (KSW), Airlangga FC (Gamajatim) dan Pasher FC (Fosgama).

Kompetisi sepak bola antar Kekeluargaan-Kekeluargaan Jawa yang kesebelas ini dituanrumahi oleh KPMJB untuk tahun ini dengan tema “Eratkan Cinta, Kuatkan Raga”. Kita bisa interpretasi sebagai bentuk upaya penguatan solidaritas antara suku-suku di Pulau Jawa, yang mewakili karakteristiknya masing-masing dalam enam kekeluargaan di lingkungan Masisir. Yang jelas banyak perbedaan, meski melalui persaingan yang ketat –tentu saja, setiap tim kekeluargaan pastinya ingin menggeser Walisongo FC dari posisi juara bertahan 9 tahun terakhir ini- tapi tidak mengabaikan rasa persatuan yang erat sebagai satu bangsa yang utuh. Menunjukkan taring sembari menebar cinta. Mungkin itu kurang lebih yang kita harapkan dari tujuan diadakannya Jawa Cup XI.

Sepak bola memang merupakan fenomena besar dalam kehidupan manusia. Mungkin konsumsi informasi paling menarik dari sekian olahraga lain, bahkan rubrik berita lain. Di koran-koran besar seringkali terdapat rubrik “Bola” tersendiri dan “Olahraga” tersendiri. Selain ada media informasi mengenai berita-berita bola secara eksklusif baik cetak maupun online. Bahkan ia mendobrak dinding gender, apapun alasannya olahraga yang secara umum milik kaum adam ini juga sangat digemari oleh sebagian besar populasi perempuan dunia.

Tidak semuanya bermain bola, tidak semua bermain game bola, bahkan tidak semua menonton bola, terlebih tidak semua punya klub favorit yang dielu-elukan secara fanatis. Tapi semua mendadak menjadi pengamat sepak bola, update berita-berita terbarunya. Apa saja. Luar biasa. Maka Jawa Cup adalah event yang menjajikan banyaknya penonton dalam skala maksimal.

Di tengah gersangnya sahara tentuk Masisir sangat merindukan tontonan nostalgik secara live semacam pertandingan bola antar kelurahan semasa di kampung sebelum menrantau ke negri yang jauh. Tentu Jawa Cup akan sangat menarik. Akan tetapi, tidak semerta 5000 Masisir turun ke lapangan atau setidaknya menyesaki bangku penonton. Kalau bukan tim kekeluargaanya, tentu mereka tidak akan hadir.

Maka ramai tidaknya pertandingan Jawa Cup bisa ditentukan dengan populasi kekeluargaan masing-masing. Akan tetapi tidak semerta pula, seluruh warga kekeluargaan berdatangan, hal ini ditentukan oleh prioritas dan jalan yang diambil oleh seorang Masisir. Inilah Masisir. Jika dilihat dari kacamata prioritas ada keseimbangan yang jelas tergambar, antara yang berprioritas dan yang –dalam bahasa paling halus- tidak terlalu berprioritas.

Tidak ada yang salah dengan pelaksanaan Jawa Cup, tentu saja. Event ini sama sekali tidak mengurangi konsentrasi Masisir dalam melaksanakan prioritasnya, kewajibannya. Mungkin sedikit teralihkan, terutama bagi para pemain. Ini justru peneguhan komitmen Masisir dalam berdinamika sebagai miniatur Indonesia di negeri orang. Menafikan perilaku para suporer bola di tanah air yang sering kali bertindak anarkis dan mengabaikan persatuan, maka Masisir punya nilai plus. Mari belajar menjadi manusia yang paling suportif, di dunia!(-MFR)

Tentang admin

Lihat Juga

Simposium dan Ide-Ide yang Kurang Cemerlang

Seperti sedang menonton film Batman vs Superman; Dawn of Justice bagi para penggemar DC Comics, …