Home / ؞ Opini / Pahlawan vs Superhero*

Pahlawan vs Superhero*

”Dan seorang pahlawan adalah seorang yang mengundurkan diri untuk dilupakan seperti kita melupakan yang mati untuk revolusi.”  Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran

Pahlawan adalah orang yang memperjuangkan kebenaran dan kebaikan, penuh keberanian, berjuang hingga titik darah penghabisan, diingat ataupun tidak diingat. Tentu saja, mereka bukanlah orang-orang yang mengedepankan eksistensi. Maka, tidak masalah ketika bahkan pada akhirnya mereka terlupakan. Toh, mereka sudah berjuang.

Lain halnya dengan superhero. Meski sama-sama berjuang untuk membela kebenaran, tetapi terlihat jelas bahwa superhero memiliki makna “pahlawan super”, pahlawan yang memiliki kekuatan yang tidak dimiliki manusia biasa, termasuk para pahlawan. Meski jelas sekali, superhero hanyalah fiktif belaka.

Sayangnya yang menjadi ironi saat ini adalah minimnya pengetahuan generasi muda tentang para pahlawan yang sebenarnya dan pemujaaan mereka terhadap terhadap karakter-karakter superhero khayalan tadi. Agaknya, kita bisa melihat ada sebuah ketimpangan di sini.

Yang terjadi saat ini adalah penghargaan generasi muda terhadap para pahlawannya amatlah minim. Lihat saja angka-angka penjualan komik dan poster superhero seperti Batman, Superman, Spiderman, dan man-man lainnya hampir tidak pernah mengalami penurunan dan masih tetap laris di pasaran. Kalau mereka ditanya tentang siapakah Batman, mereka akan menjawabnya dengan lancar, fasih, hampir tanpa cela.  Dan jika mereka ditanya tentang pahlawan nasional negara Indonesia, mereka akan sedikit meringis dengan muka kebingungan. Syukur-syukur jika masih ada yang bersedia untuk berusaha menjawab dengan menyebutkan nama tokoh yang gambarnya tercetak di lembaran-lembaran mata uang rupiah. Sebegitu lupakah mereka?

Mari kita ingat kembali jargon fenomenal Bung Karno: “Jangan sekali-kali melupakan sejarah”. Kita harus mengetahui dan memahami bahwa sejarah berkaitan dengan siapa-siapa yang bersangkutan padaperistiwa-peristiwa di masa lalu. Dan kita sama-sama sepakat bahwa di antara para pelaku sejarah, termasuk di dalamnya para pahlawan. Tentunya, sebuah bangsa yang besar adalah yang bangsa yang menghargai sejarah dan para pahlawannya. Bukankah begitu?

Setidaknya, poin penting yang perlu kita sorot sebagai akibat dari keterlupaan kita kepada sejarah dan para pahlawan sebagai pelaku sejarah: lunturnya rasa nasionalisme. Berkembangnya zaman seharusnya juga berarti tumbuhnya rasa nasionalisme sebagai wujud kecintaan dan jati diri kita sebagai bangsa Indonesia. Tapi apakah yang terjadi seperti itu? Seperti contoh yang sudah disebutkan di atas, generasi muda lebih tertarik untuk mengenal tokoh superhero dibanding mengenal para pahlawannya. Mereka lebih memilih untuk mengingat tanggal lahir Spiderman yang bahkan tidak pernah lahir dibandingkan mengingat kapan Jenderal Sudirman melakukan perang gerilya.

Orang Barat terkenal dengan penyakit kronis mereka; paranoia yang berlebihan. Bukankah bisa jadi munculnya tokoh-tokoh superhero itu termasuk salah satu efek dari ketakutan-ketakutan yang berlebihan tadi? Sebut juga arsitektur gedung-gedung pemerintahan. Gedung-gedung tersebut didesain tahan terhadap goncangan bom. Sistem penjagaan di dalam maupun luar gedung pun dibuat sedemikian rupa. Alih-alih untuk memperketat penjagaan dan keamanan, justru malah menjadi semacam indikasi dari rasa takut mereka yang berlebihan. Barangkali sama halnya dengan kemunculan para tokoh superhero yang mereka khayalkan. Ketakutan-ketakutan tadi memunculkan berbagai macam imajinasi yang ‘kreatif’ dan akhirnya mereka mewujudkan sendiri para pahlawannya yang memiliki kekuatan super dan serba hebat.

Maka, alangkah keterlaluannya kita yang mau begitu saja dibodohi terhadap kemunculan tokoh-tokoh khayalan hasil dari paranoia orang Barat tersebut. Pada akhirnya, kita melupakan pahlawan yang membawa kita menuju masa yang katanya merdeka ini.

Barangkali, akan menjadi sebuah ide menarik jika suatu saat diadakan event cosplay dengan menggunakan kostum seorang pahlawan nasional. Agar, paling tidak, para generasi penerus bisa mengenal kembali para pahlawannya. Cukup, bukan?[] (am)

“Saya tak mengharapkan pahlawan. Orang tak selalu baik, benar, berani. Tapi saya mengagumi tindakan yang baik, benar, berani, meskipun sebentar.” Goenawan M.

*Tulisan ini merupakan hasil diskusi Kelas Opini pada pertemuan-pertemuan Sekolah Menulis Walisongo.

Tentang KSWMESIR.org

Adalah situs web yang dikelola oleh mahasiswa Al-Azhar asal Jawa Tengah dan Jogjakarta. Opininya berfokus pada isu sosial-keagamaan. Sekarang, menyajikan pula rubrik FEATURE.

Lihat Juga

Simposium dan Ide-Ide yang Kurang Cemerlang

Seperti sedang menonton film Batman vs Superman; Dawn of Justice bagi para penggemar DC Comics, …