Home / masisir / PCINU dan Sahah Semarakkan Hari Santri Nasional dan Sumpah Pemuda Dengan Dialog Kebangsaan

PCINU dan Sahah Semarakkan Hari Santri Nasional dan Sumpah Pemuda Dengan Dialog Kebangsaan

Kairo, kswmesir.org (30/10) ㅡ Memperingati Hari Santri Nasional (HSN) sekaligus Refleksi Hari Sumpah Pemuda, PCINU Mesir bekerjasama dengan Sahah Indunisia menyelenggarakan Dialog Kebangsaan. HSN yang jatuh pada tanggal 22 Oktober disambut baik dan meriah oleh Mahasiswa Indonesia yang berada di Mesir. Acara dilaksanakan pada Jum’at (28/10) di Shalah Kamil. Tercatat sebanyak 360 pendaftar yang hadir ditambah beberapa tamu undangan, baik Petinggi NU maupun staf-staf KBRI Kairo. Rais Syuriah PCINU Mesir Muhlason Jalaluddin, M.M, Katib Syuriah Murtadlo Bisri, Lc, Dipl. dan wakilnya Ahmad Ikhwani, M.A, serta Ketua Tanfidziyyah, Ahmad Muhakam Zein duduk di barisan depan bersama staf-staf KBRI seperti Bapak Dody Harendro, Bapak Harun Syaifullah, Bapak Windratmo, dan beberapa staf lainnya. Hadir pula Ketua Sahah Indunisia Ustadz Ali Irham, Lc, Dipl. dan beberapa dewan ustadz sahah lainnya seperti Ustadz Ziaul Haq dan Ustadz Ihsan.

Rangkaian acara dimulai dengan pembacaan ayat suci al-Qur’an oleh Faris Baiti, dilanjutkan sambutan Ketua Tanfidziyyah Ahmad Muhakam Zein yang menyampaikan pentingnya persatuan lintas golongan (Nahdliyyin, Muhammadiyyah dan Persis), karena negara ini merdeka berkat persatuan ulama-ulamanya. Kemudian sambutan Rais Syuriah Bapak Muhlason Jalaluddin yang membahasakan santri tidak hanya yang berpeci dan sarungan, tetapi semua yang peduli terhadap Islamnya serta mempunyai komitmen kuat. Sambutan yang terakhir disampaikan oleh perwakilan Sahah Indunisia, Ziaul Haq.

Dialog Kebangsaan ini bertema “Peran Strategis Kaum Santri di Era Persaingan Global” dan dimoderatori oleh Ustadz Nora Burhanuddin, Lc, Dipl. Duta Besar LBBP Indonesia untuk Mesir Bapak Helmi Fauzi yang dijadwalkan akan hadir dan menjadi pembicara, berhalangan karena faktor kesehatan. Sebagai perwakilannya, Staf Ahli Atdikbud KBRI Kairo Dr. Usman Syihab, M.A. hadir menggantikan beliau. Pembicara kedua adalah Mustasyar NU sekaligus wartawan senior Kompas, Bapak Mustafa Abdurrahman, M.A.

Menurut Dr. Usman, NU merupakan organisasi yang melahirkan partai politik dan ulama-ulama penggerak Resolusi Jihad yang ikut memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. Bahwa santri juga harus mempunyai keahlian, bukan hanya di bidang agama saja, tetapi juga di bidang keilmuan dan keterampilan lainnya. Santri harus kreatif, berjiwa entrepreneurship, mandiri dan berakhlak mulia. Hari Santri Nasional dan Sumpah Pemuda ini tentu juga sebagai refleksi Masisir untuk lebih memaknainya. Masisir sebagai Santri Azhar dan Azhar sendiri sebagai tradisi pesantren memiliki peran penting, yaitu dalam hal toleransi dan komunikasi baik dengan golongan lain.

Sedangkan Mustafa Abdurrahman memandang NKRI yang modern—jika ditarik garis lurus—memang berasal dari Revolusi Prancis. Tetapi, bukan berarti Islam tidak boleh modern, ke-modern-an sebagai jalan kemajuan, asalkan tidak keluar dari nilai Islam. Santri juga harus modern, Azhar sebagai jembatan dengan manhaj wasathinya, merupakan perantara terbaik untuk kemajuan Islam.

Selanjutnya, dibuka sesi tanya jawab dengan 3 penanya. Pada sesi ini hadir tamu undangan istimewa Syekh Ala’ Musthafa Naimah yang merupakan Syekh Al-Azhar sekaligus Pengasuh Ruwaq Azhar di Alexandria. Dengan diterjemahkan oleh moderator, Syekh Ala’ ikut menyimak sesi ini. Usai dialog, dilanjutkan pembagian hadiah bagi para pemenang lomba yang diadakan PCINU Mesir, yaitu lomba menulis esai, Musabaqah Qiraatil Kutub dan Musabaqah Hifdzil Qur’an.

Syekh Ala’ diberi waktu khusus untuk menyampaikan nasihat-nasihat beliau kepada para hadirin di momen ini, dengan dimoderatori oleh Ustadz Ali Irham, Lc, Dipl. Syekh Ala’ memulai dengan membacakan Al-Fatihah untuk K.H. Hasyim Asy’ari, Sang Pendiri NU yang menjadi penyebab berkumpulnya kita semua pada acara penuh berkah tersebut. Beliau juga berpesan bahwa acara tersebut merupakan acara untuk mencari ilmu, khususnya untuk para pencari ilmu syar’i. Karena menuntut ilmu syar’i memiliki banyak keutamaan. Acara ditutup dengan lantunan indah shalawat dan doa dari Syekh Ala’ dan terakhir, sesi berfoto bersama beliau di atas panggung. (silde_)

*Gambar diambil via Facebook Sahah Indunisia.

Tentang admin

Lihat Juga

Mahasiswa Pascasarjana Asal Jawa Tengah Raih Gelar Magister Usul Fikih

Mahasiswa pascasarjana jurusan Usul Fikih, Ahmad Munafidzul Ahkam  meraih predikat Jayyid Jiddan pada sidang tesis …