Berita Terkini
Home / OPINI / Tajuk / Pengadaan TPQ di Masisir Patut Diapresiasi
Suasana foto bareng di Taman Pendidikan Walisongo (TPW). Sabtu/07/2018.

Pengadaan TPQ di Masisir Patut Diapresiasi

Menurut UU Sisdiknas bab 1 pasal 1 butir 14, pendidikan anak usia dini atau PAUD berfungsi untuk “Membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.” Dari situ, PAUD bisa dikatakan sebagai jembatan agar anak tidak kagok saat memasuki sekolah dasar.

Taman Pendidikan al-Quran atau yang sering disebut dengan TPQ merupakan salah satu bentuk pendidikan untuk anak usia dini. Dalam psikologi, usia nol hingga lima tahun dianggap sebagai golden age-nya si buah hati. Pada rentang usia tersebut, daya serap anak terhadap informasi sekitar sangatlah tinggi. Oleh karenanya, para orang tua perlu menaruh perhatian lebih kepada anaknya yang berumur sekian.

Selain daya serap yang tinggi, pengalaman-pengalaman masa kecil anak sangat menentukan masa depannya. Pengalaman bermain, misalnya. Ketika anak-anak bermain dengan teman sebayanya, melalui interaksi yang terjalin, terjadilah komunikasi di antara mereka baik verbal maupun fisik. Semakin sering mereka berkomunikasi, kemampuan komunikasi mereka semakin terlatih dan ketika mereka menginjak usia puber, kemungkinan lemah berkomunikasi bisa ditekan.

Berangkat dari betapa pentingnya pendidikan sejak dini, segala macam usaha yang bertujuan membentuk karakter si kecil tentu patut diapresiasi. Salah satunya ialah diadakannya TPQ oleh departemen Keputrian KSW—tetapi dengan nama lain, yaitu “TPW” (Taman Pendidikan Walisongo). Apalagi kalau melihat kondisi geografis dan persebaran tempat tinggal para keluarga di Kairo, adanya TPQ dapat menjadi wahana yang ideal untuk anak-anak usia dini berkumpul, walau hanya sekali dalam seminggu.

Satu alasan mengapa pengadaan TPQ dikatakan ideal yaitu lingkungan yang berbeda dengan lingkungan di Indonesia. Di sini anak-anak tak bisa bebas pergi bermain bersama di luar rumah. Selain letak rumah si teman yang tak melulu berdekatan, faktor keamanan juga sangat berpengaruh. Begitu juga dengan faktor cuaca yang cenderung keras untuk anak-anak Indonesia. Sebab itu, TPQ dapat menjadi alternatif untuk “bermain bersama dan belajar bersama,” sebagaimana bunyi slogannya.

Di rumah masing-masing, anak-anak memang sudah mendapat pendidikan dasar dari ibu dan ayahnya. Mulai dari pengembangan kemampuan motorik, fungsi otak, juga emosional. Bahkan, semua bidang yang harus diajarkan mungkin sudah diterapkan oleh orang tua. Namun, untuk melatih kemampuan sosial anak, mau tak mau orang tua harus mempertemukannya dengan anak-anak lain. Bagian inilah yang tak mudah dilakukan di rumah dan—lagi-lagi—TPQ adalah solusi.

Harapannya tentu saja kegiatan-kegiatan dalam rangka mendidik anak usia dini di Masisir terus berkembang dan konsisten. Setidaknya bisa benar-benar menjadi lingkungan alternatif yang memang harus tercipta bagi anak usia dini. Apalagi, tantangan bagi anak-anak di zaman serba digital ini terhitung cukup besar dan sangat berpengaruh pada jenjang pendidikan formal yang akan ditempuh. Namun demikian, tidak perlu semua organisasi di Masisir mengadakan hal serupa. Cukup menyesuaikan demografi dan persebaran tempat tinggal saja.

Oleh karena TPQ yang diadakan di KSW ini baru dikelola oleh para mahasiswi, ke depannya tentu bisa lebih melibatkan organisasi ibu-ibu di Masisir. Dalam mendidik anak-anak, bagi mahasiswi sifatnya tentu sebagai sampingan. Syukur-syukur bisa mengembangkan naluri keibuannya.