Home / E-RPA / Berita RPA / PERBAIKAN SISTEM ATAU “MATI”!

PERBAIKAN SISTEM ATAU “MATI”!

Kalau saya perhatikan beberapa tahun belakangan ini pegiat organisasi KSW cemas ketika tiba waktunya RPA. Rasa cemas itu tidak lain karena minimnya anggota KSW yang maju ke bursa pencalonan ketua. Menurut penulis itu wajar saja melihat saat ini organisasi Masisir banyak yang sedang limbung.

Banyak faktor yang membuat bursa pencalonan KSW lesu. Faktor itu diantaranya adalah KSW sebagai organisasi terbawa arus komunitas organisasi lain di bawah naungan PPMI.

Banyak organisasi yang sudah jauh bergeser dari maksud dan tujuan awalnya. Organisasi yang seharusnya berfungsi sebagai sarana pengembangan potensi diri seperti pembelajaran mengatur sosial pad aakhirnya malah sering membebani pegiatnya.“Saya mau fokus kuliah.” Kata-kata semacam ini sering kita dengar untuk menolak tawaran aktif di organisasi atau suara dalam sebuah perbincangan ringan. Paradigma inilah yang patut kita tinjau kembali terutama dalam skala organisasi KSW. KSW sebagai organisasi kekeluargaan dengan anggota terbesar memiliki banyak agenda kegiatan setiap tahunnya. Bagi yang menjadi ketua atau pemimpin KSW tentu ini menjadi beban tersendiri.

Terlebih lagi KSW selalu punya gawe yang menyita banyak waktu dan pikiran. Jika demikian bagaimana nasib bangku kuliah atau pembelajaran yang lainnya? Yang saya tangkap kebanyakan kalah dengan kepentingan organisasi. Memang jika mendekati ujian ada penutupan kegiatan. Namun pada dasarnya setiap orang memiliki strategi belajar yang berbeda satu sama lain, apalagi sebagai mahasiswa yang berkuliah dengan sistem pendidikan klasik al-Azhar. Tidak semuanya hebat dan bisa lolos dari  sistem dengan pola penutupan kegiatan sebulan menjelang ujian di mulai. Bisa kita lirik prestasi akademik ketua KSW saat menjabat beberapa tahun ini. Empat tahun belakangan ini semuanya gagal secara nilai akademik pada saat menduduki jabatan. Pastinya ini menjadi poin tersendiri untuk mengatakan mengapa posisi ketua KSW mengerikan bagi mereka yang menginginkan kelancaran menempuh bangku kuliah. Maka perlu ditinjau kembali paradigma kita akan adanya KSW.

Faktor kedua, pasangan kandidat (ketua dan wakil) memberatkan estafet kepemimpinan. Logikanya demikian, jika mencari satu orang yang mengabdi saja sulit lalu bagaimana dengan jumlah yang lebih dari itu? Belum lagi kali ini MPA KSW mengeluarkan surat keputusan pencalonan harus berjumlah lebih dari satu. Meskipun keputusan tersebut memiliki batasan waktu, namun bagi saya itu hanyalah sengatan berkala saja. Dengan maksud supaya RPA banyak dihadiri anggota maka keputusan ini lahir. Namun apakah ini akan efektif? Bagi saya tidak bisa jika KSW masih terbelenggu sistem yang sudah usang. Sudah saatnya meninjau ulang peraturan duet pencalonan ketua.

Ketiga, sifat perkewuh sebagaimana orang Jawa pada umumnya. Saya sering mendengar hal demikian ini dari sebagian orang dalam obrolan mengenai KSW. Menurut sebagian orang tersebut orang KSW akan maju jika didorong untuk mencalonkan. Mungkin ini benar adanya mengingat minimnya peminat untuk menjadi calon. Untuk memunculkan calon ketua KSW biasanya diadakan polling di jejaring sosial Facebook. Sebenarnya polling ini juga memiliki kelemahan yaitu membuat mereka yang tidak tercantum perkewuh (canggung). Namun pada dasarnya konsepsi pasti memiliki kekuarangan. Hanya saja mungkin perlu ditilik kembali dalam menunjuk nama yang dicantumkan di polling supaya bisa mengurangi tingkat kelemahan konsep ini.

Melihat poin ketiga seharusnya dibentuk gerakan penyambung estafet kepemimpinan. Tujuannya adalah mencari calon untuk maju dan meramaikan RPA. Problem setiap tahunnya adalah gerakan semacam ini muncul di waktu akhir menjelang penutupan pendaftaran calon. Seharusnya gerakan ini dibuat jauh-jauh hari sebelum batas akhir penutupan. Selain itu, yang palin mendasar dalam memajukan calon mencari mereka yang memiliki kemauan berkhidmat. Jangan sampai mereka yang maju hanya karena terpaksa sehingga bisa ikut meramaikan RPA. Keterpaksaan akan berakibat kepada pencalonan tahun berikutnya yang  pasti akan dianggap sakral dan menyeramkan. Jadi stop pemaksaan mulai sekarang juga atau berakibat pada tahun-tahun berikutnya!

Lalu jika sudah demikian bagaimana nasib KSW? KSW hanya memiliki dua pilihan: perbaikkkan sistem atau “mati” secara perlahan. Jadi tinggal pilih yang mana!

Tentang admin

Lihat Juga

Mahdi Come Back !

Kairo, kswmesir.org – (4/3) Pesta demokrasi KSW sudah di depan mata, terlihat dari semakin sibuknya …