Home / OPINI / Perhatian: Bukan Hanya Sebuah Kata Perintah!

Perhatian: Bukan Hanya Sebuah Kata Perintah!

Teringat petikan dalam iklan Line (salah satu media sosial komunikasi) yang mengusung cerita lanjutan dari “Ada Apa Dengan Cinta”, tentang kalimat “Jadi beda, satu purnama di New York sama Jakarta?!”. Sebuah kalimat yang tidak terduga oleh Rangga waktu itu, karena tiadanya pertanda dari Cinta untuk mengiyakan permintaan Rangga (Nicholas Saputra) untuk ketemu. Akan tetapi,dibalik diamnya (tidak ada tanggapan) Cinta (Dian Sastro) telah merencanakan kejutan untuk Rangga di saat berada di bandara untuk kembali ke New York. Kejutan tersebut setidaknya bisa membuat para penonton mlongo (yakni kondisi ketidak sadaran dalam beberapa saat, karena keterjutan alur), begitu juga Rangga, tentu karena perannya harus seperti itu. Sikap Rangga tersebut, yakni menghubungi Cinta adalah tanda sebuah perhatian, begitu juga sikap Cinta pada Rangga dengan memberikan rasa keterkejutan juga bagian dari sebuah perhatian. Hanya saja tidak mewakili kondisi umum mengenai bentuk komprehensif istilah perhatian pada umumnya. Tapi yang terpenting dari ini adalah perhatian, surprise, kejutan, kebahagiaan dan perasaan yang tertunda untuk sampaikan menjadi hal penting dalam setiap detik kehidupan manusia. Karena adalah bagian dari esensi manusia untuk mengenali dunia dan sekitarnya, begitu juga mengenali Tuhannya: bersyukur.

Akan tetapi, akhir-akhir ini, manusia seringkali lupa cara memberikan perhatian. Baik perhatian dengan lingkungannya, ataupun kehidupannya sendiri. Lebih-lebih perhatian dengan orang lain atau dengan pemerintah, ada rasa enggan. Hanya beberapa dari manusia dan komunitas yang peduli untuk hal-hal penting dan kadang dianggap sepele. Padahal dengan adanya perhatian, setidaknya perhatian dalam skala kecil, manusia bisa membangun kontruks sosialnya dengan baik, serta bisa membangun arti tenggang rasa sebagai kesadaran lokal menuju komunal. Akan tetapi, kata perhatian hanya bermakna khusus, sebagaimana ketika pacar ingin disayang dan dimanja oleh kekasihnya. Lebih-lebih sampai diambilkan makan dan minum, seakan telah masuk rumah surga yang menjadi dunia milik berdua.

Dalam skala ini, bukan berarti menyudutkan mereka yang sedang asyiknya ingin memberikan perhatian ataupun mereka yang sedang memberlakukan perhatian sebagai aturan militer, terkekang dan kaku, tapi menjadikan makna perhatian mengada sebagai kata pembuka untuk membicarakan makna penting dari perhatian dalam skala bahasa dan partikularnya –tradisi dan kemanusiaan.

Tentu di sisi lain, kita tidak pernah lupa, bahwa masa kecil manusia juga diperhatikan oleh orang tua-nya. Tidak hanya sebatas memberi makan, tapi juga menjaga serta merawat segala kebutuhannya dan sebaliknya setelah orang tua sudah menginjak usia senja, anak-anaknya bertugas menjaga merawat, memperhatikan orangtuanya. Karena sebagai bentuk pengabdian dan berbakti. Dan perihal tersebut, dari bentuk perhatian ini, bisa menjalar sebagai landasan pemikiran dan tradisi di tengah-tengan krisis kemanusiaan dan hegemoni liyan (fundamentalis, ekstremisme, kapitalis, kolonialisme dan lain-lain) terhadap eksistensinya (masyarakat sebagai objek).

Pemaknaan mendasar dari sisi peristiwa ini, jika ditilik dari segi bahasa Indonesia, perhatian berasal dari kata hati, mendapat tambahan per dan an. Dan maknanya masih berkaitan dengan hati (sebagai tempat penyimpan rasa), tambahan per dan an memberikan penekanan khusus pada hati, sebagai sikap, peristiwa yang dilakukan oleh pribadi atau pun hasil perbuatan komunitas tertentu. Jika demikian arti yang memendar dari kata perhatian, peristiwa yang ia hadirkan tentu saja, sangat penting dalam dinamika sosial dan kehidupan manusia pada umumnya. Maka tak heran, sejak kecil, manusia tidak lepas dari sifat perhatian. Karena hati sebagai tempat rasa, membutuhkan rasa kenyamanan dan ketenangan, baik sebagai sikap pribadi maupun sebagai peritiwa yang merealitas ataupun peristiwa dari perbuatan yang sudah terjadi.

Dari bagan ini, perhatian juga bagian penting dalam ajaran agama, karena bisa membuka pemahaman yang manusiawi, rasa tenang, nyaman. Bila merunutnya dari tradisi al-Qur’an, untuk mendapatkan hati yang tenang selalu mengingat pada Allah dan menjalankan perintahnya dengan baik serta ikhlas. Jika dengan mengingat dan menjalan perintahnya, maka kita memperhatikan syariat-syariat yang diberikan Allah kepadanya. Dengan adanya ini, berarti juga Allah akan memberikan perhatiannya kepada hambanya. Dan ini sesuai hadist qudsi yang menyatakan, bahwa seorang hamba Tuhan yang berusaha untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan menjalankan salat sunnah, sehingga Allah mencintainya, maka ketika Allah telah mencintai hamba tersebut, maka segala pendengarannya, penglihatannya, tangannya dan kakinya dari Allah (yakni kondisi kasyaf) terbuka ke dalam dunia realitas. Secara tersirat dan tersurat, hadist ini seakan tidak mempunyai kaitan dengan arti perhatian. Akan tetapi secara kumulasi makna dan maksud, hadis ini mempunyai makna tersendiri tentang perhatian seorang hamba kepada Tuhannya dan perhatian dari Tuhan kepada hamba-Nya.

Berangkat dari sudut pandang beragam ini, perhatian mempunyai ruang situasi psikologis dan situasi sosial di dalam kerangka sosialnya. Sehingga patut dicermati paradigma yang memendar darinya. Ada kalanya makna perhatian sebagai objek, bertahan pada kontruksi ide, juga kadangkala lebur bersama ruang material-sosial; berupa hadiah, demostrasi, revolusi, denda, dan lain-lain. Sehingga kata perhatian seakan-akan tidak pernah mewujud kecuali sebagai bentuk sikap, bukan pemaknaan artifisial. Oleh karena itu sikap bertahan objek (makna perhatian) dari kontruksi ide dan ruang material membatasi ruang imajiner dunia sekitarnya. Seakan kata perhatian “adalah batasan yang membatasi gerak kebebasan imajiner manusia”, padahal tidak seperti itu. Tapi perhatian adalah sebentuk konsep yang membentuk arus kesadaran untuk tetap pada posisi bertanggungjawab dan rasa nyaman. Pada jenjang ini, perhatian menemukan keselaran bahasa dari peristiwa yang dipendarkannya pada ruang dunia manusia.

Dan pada jenjang selanjutnya, perhatian, memantulkan dimensi kesadaran manusia atas rasa menjaga, saling memiliki, saling mengasihi, saling membutuhkan dan saling menghargai hak sosial-kehidupan. Bahwa untuk menjadi sikap perhatian, manusia tidak semerta berkata: aku peduli padamu, atau aku tidak setuju akan keputusan pemerintah, masyarakat, pejabat, kekasih, tapi memberikan kritik dan masukan untuk saling melengkapi kekurangan masing-masing. Yakni meleburkan diri pada rasa kekurangan yang dimiliki oleh orang lain dalam bentuk kepedulian menjadi sikap tegar untuk menghadapi tantangan selanjutnya dengan memperhatikan sisi-sisi positif sebagai bentuk perhatian: pertautan relasi internal dan eksternal.

Jika masih saja, perhatian hanya sebatas pengertian untuk menjadi peduli yang diwakilkan oleh kata, maka perhatian tidak berarti apa-apa. Tapi juga diwujudkan dalam laku kesadaran sebagai sebentuk ruang dialektik untuk menjaga rasa kebersamaan dan kenyamanan masing-masing pihak. Tidak mungkin, pemerintah akan menjadi sehat dan maju, jika masyarakat bersikap masa bodoh akan kenyataan yang menimpa pemerintah mereka. Padahal pemerintah sebagai roda kemajuan negara, dan negara sebagai tempat menaungi masyarakat hidup serta menjaga kebutuhan diri di dunia adalah sebuah wadah besar untuk manusia menitipkan rasa kemanusiaannya secara bersama dan membangun solidaritas sosial dalam menjaga dinamika sosial dan kehidupan. Untuk menjaga itu, agar stabil,  maju sesuai konsepsi keilmuan, perlu ada rasa saling memperhatikan dan perhatian antar sesama untuk membangun sikap peduli dari hal-hal kecil yang menghancurkan. Hal ini juga berlaku sama untuk para sang ayah, ibu, guru, atau pun kekasih, bahwa hubungan yang ada memiliki ruang keterkaitan dalam menjaga eksistensi kehidupan. Tuntutan ini menjadikan kata perhatian penting untuk dipahami bersama sebagai pondasi persatuan dan kesatuan wujud manusia.

Hanya saja, dewasa ini, kata ‘perhatian’ dipahami sebagai pemangkas keleluasaan dan kebebasan. Hadirnya seperti tidak berbekas apa-apa. Hanya sebuah latah anak muda, latah pasar, museum politik dan pencitraan. Sehingga kandungan perhatian, tidak lagi bisa membentuk tradisi-kultur yang kuat dan malah mencokel kekuatan akar tradisi kemaslahatan pada paradigma setiap generasi. Karena itu, tradisi kontemporer saat ini, banyak pembelotan dan pembetot-an kebenaran untuk tindakah atas modernisasi dengan melahap tradisi yang telah ada dan dijaga oleh beberapa generasi. Lebih-lebih pada permasalahan hukum sosial seperti pengucilan terhadap pelaku asusila, pelaku kekerasan, atau hal-hal yang bertentangan dengan hukum adat masyarakat pada umumnya, tidak lagi sekokoh seperti dulu. Atau bahasa lainnya tidak digubris.

Pada kondisi ini, sebagai manusia yang berperasaan dan berhati, setidaknya artifisial perhatian bukan sebuah beban dan pengekangan arti kemanusiaan, apalagi pengekangan nilai kesosialan. Tapi seharusnya istilah “perhatian” bisa menjadi kesadaran umum yang mampu menjembatasi komunikasi sosial dengan baik, dan juga mampu menjembatani nalar dialektika modernitas atas tradisi. Sikap yang muncul menjadi peristiwa positif untuk situasi apapun. Tidak menghakimi satu pihak sebagai objek yang dikendalikan seenaknya, tapi tetap menghormatinya pada perpekstif primodial yang dibawanya.

Agar kesadaran ini tetap menjalar pada setiap genarasi bangsa, keluarga, para murid, orang tua, anak-anak, kekasih, menjaga relasi makna dan pengejawantahan pada realitas sosial adalah hal penting. Tidak boleh bersikap acuh tak acuh, dengan meletakan terlebih dahulu asumsi ideal dan kepantasan sebagai ukuran, tapi menjaga kemaslahatan bersama sebagai ukuran pembangunan. Tidak lagi ada yang tercederai atas nama perhatian atau terlalu perhatian, tapi mampu membumikan maknanya sebagai kondisi awal yang dibawa perhatian untuk ruang mengadanya di dunia; sebagai sikap sosial untuk menjaga keseimbangan realitasnya.(NS)

Lihat Juga

Perbedaan dalam Beragama: Sebuah Cara Memaknai dan Menyikapi

Perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Seringkali sebuah perbedaan menimbulkan percekcokan, permusuhan, bahkan pertumpahan darah. Padahal Allah …