Home / OPINI / Perihal Simbol dan Metafora dan Persinggungan Keduanya

Perihal Simbol dan Metafora dan Persinggungan Keduanya

Yang menarik dari dari ketidak-tertarikan kita pada bahasa Indonesia kita adalah kesalahpahaman yang disengaja. Kita sering mendengar orang mengatakan apa yang sebenarnya A yang bukan B sebagai B yang lain dari A. Salah satunya perkara ini: Apakah simbol sama dengan metafora? Apakah simbol harus menjalani maknanya yang paling asali sebelum terbentuk di dalam benak manusia? Apakah mungkin kita mencari genealogi dari suatu simbol menggunakan pendekatan ilmu bahasa—semiotika misalnya? Pertanyaan di muka buru-memburu di dalam benak kami hingga memang sampai akhir diskusi, tak ada kata final untuk sebuah jawaban.

Secara sederhana, KBBI mendefinisikan simbol sebagai ‘lambang’, sedangkan penambahan isme (baca: simbolisme) akan memuat makna: perihal pemakaian simbol (lambang) untuk mengekspresikan ide-ide (msl sastra, seni). Lebih gamblang, simbol berarti lebih luas dari pemakaian kata-kata. Dalam salah satu puisi Rendra, burung gagak merupakan simbol dari kelaparan (yang notebenya identik dengan kematian). Sementara itu, kita juga tahu bahwa simbol juga bisa berupa gambar/karikatur (misalnya simbol Pancasila).

Lantas dengan demikian, apakah simbol sama dengan metafora?

Di sana ada persamaan, juga ada perbedaan. Jika ranah dari metafora adalah ranah penggunaan bahasa lisan maupun tulisan (yakni berupa suku kalimat seperti “tulang punggung”) maka simbol cakupannya lebih luas. Seperti uraian singkat di atas, bahwa simbol bisa berupa gambar ataupun warna ataupun apa-apa yang secara spesifik bisa diindera. Ambil sebuah contoh: di tepi jurang, kita sering melihat simbol tengkorak yang ditindih tanda silang yang menandakan bahwa jurang yang sedang kita lewati sangat berbahaya dan kita dituntut untuk berhati-hati.

Jika kita telisik lebih lanjut, sebenarnya metafora berasal dari pemakaian simbol. Penggunaan kata singa untuk menggambarkan keberanian seseorang sesungguhnya dimulai dari pemakaian simbol singa sebagai binatang buas yang dalam benak kita termakna kata berani. Upaya ini dimulai dari mengidentifkasi simbol berkaitan dengan makna yang dimaksud melalui verifikasi tekstur, kegunaan, sifat, warna, bahan, tujuan dll, dari simbol yang dipakai untuk menggambarkan sesuatu. Penggunaan simbol kapas untuk menyifati kelembutan mengambil kapas dari teksturnya yang lembut dan halus. Simbol warna putih dipakai untuk memaknai kesucian dan merah untuk memaknai keberanian. Begitulah simbol dan metafora bersinggungan.

Masalah akan menjadi runcing ketika kita membahas mengenai apakah mungkin seseorang menciptakan simbol yang bertentangan dengan apa yang telah disepakati konsensus. Contoh: seseorang tiba-tiba memaknai gagak sebagai simbol untuk kepekaan dan hirau akan konsensus yang menganggap gagak sebagai mara bahaya. Pada masalah di atas, kita boleh memberi dua jawaban. Pertama, dalam rangka menghindari chaos, menciptakan simbol yang melawan konsesnsus hukumnya haram. Apa yang dimaksud dengan chaos? Jika ada seseorang yang memaknai tanda tengkorak ditindih silang di pinggir jurang lantas ia melawan makna yang telah disepakati konsensus, misalnya dengan menganggap simbol itu adalah tanda bahwa di sana tak pernah ada orang yang meninggal, maka alangkah akan kacaunya kejadian di atas?

Kedua, melawan pemaknaan simbol konsensus boleh dilakukan jika dilihat dari pemahaman bahwa pemaknaan berlaku relatif. Orang yang menganggap bahwa gagak adalah simbol kepekaan mungkin saja mengambil gagak dan menginterpretasikannya dengan menggunakan pendekatan yang lain. Misalnya, lazim diketahui, gagak merupakan hewan yang paling peka terhadap kejadian alam. Burung ini akan hadir di saat sesuatu akan menimpa seseorang atau suatu lokal (misalnya akan terjadi bencana). Keabsahan penggunaan simbol di atas dibuktikan dengan melihat gagak dari sisi yang lain yang tidak dihiraukan oleh khalayak.

Masalah yang lain. Kita mengenal Malin Kundang sebagai simbol kedurhakaan, Sisypus sebagai simbol absurdisme, Odisesus sebagai simbol perjalanan, Rama sebagai simbol kebaikan dan Rahwana sebagai kejahatan (atau dalam bahasa agama, kita mengenal setan dan malaikat). Simbol-simbol semacam ini, seperti yang telah disinggung dalam pertanyaan di muka, adalah simbol yang mengalami maknanya dengan melintasi pra-benak dan pasca-benak. Pada era pra-benak, penggunaan simbol semacam itu tidaklah berlaku sebab ia telah diciptakan oleh interpretasi. Sedangkan pada pada era pasca-benak, orang menganggap bahwa makna yang hadir dalam mitos-mitos tersebut sangat relevan untuk menggambarkan situasi kekinian yang bersangkut-paut dengannya. Dengan demikian, penarikan simbol kepada makna paling asali musti dilakukan dengan tujuan mencari sumber pemaknaan serta genealogi penafsiran.

Pertanyaan lanjutan, apakah mungkin mendekati simbol dengan ilmu bahasa?

Jawabannya adalah: sangatlah mungkin. Hanya saja, untuk menuju ke arah sana kita perlu sebuah referensi. Dalam bukunya, Al-Qari’ wa Al-Anash: Al-Alamah wa Al-Dilalah, Siza Qasim menjelaskan bahwa kita hidup di dua alam: alam thabi’y (fisik/biologi) dan alam hadharah (peradaban). Alam yang pertama sangatlah mungkin disebut alam bisu dan tuli. Pepohonan, bebunga, bebatuan, pasir, debu, matahari, bulan, dan lain sebagainya adalah alam yang bisu, alam yang tuli. Sedang alam yang kedua, yakni alam peradaban, adalah alam yang dipenuhi oleh bahasa, yakni, alam yang dalam bahasa Qasim disebut alamnya sang penafsir.

Pertanyaan mungkinkah di atas adalah pertanyaan yang sebenarnya tidak benar. Sebab, simbol sendiri adalah permainan bahasa yang seharusnya didekati dengan ilmu bahasa. Semiotika adalah kemungkinan paling relevan. Di sinilah tepatnya kita bisa menilik dan menilai peran metafora dalam dunia simbol. Mengenai itu, Siza Qasim mengutip Gombrich dalam buku The Sense of Order: bahwa pemakaian simbol tidaklah melalui bahasa hakiki tetapi memakai bahasa metafora, seperti halnya warna biru yang menunjukkan dingin. Tetapi sejauh ini, peran lokalisasi dan peradaan menentukan sebuah pemaknaan. Jika alamah (fenomen) adalah sama, maka pemaknaan terhadap fenomen yang menjadikan simbol berbeda arti dari suatu kebudayaan tertentu dengan kebudayaan yang lain.

Kemungkinan paling pungkas dari pembahasan kita mengenai simbol adalah: sejauh mana simbol mengafirmasi kehidupan kita tanpa pernah kita sadari sebenarnya yang menjadikan simbol berbicara adalah diri kita sendiri dan bukan simbol pada kenyataannya yang paling hakiki? [*]

M.S Arifin

Comments

comments

Lihat Juga

Perbedaan dalam Beragama: Sebuah Cara Memaknai dan Menyikapi

Perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Seringkali sebuah perbedaan menimbulkan percekcokan, permusuhan, bahkan pertumpahan darah. Padahal Allah …