Home / ؞ Opini / Viral / Perlunya Muncak pada Hari Kemerdekaan
Ilustrasi pengibaran bendera Merah Putih di puncak gunung | Tribun Kaltim

Perlunya Muncak pada Hari Kemerdekaan

Agustus merupakan salah satu bulan yang bisa dibilang sakral bagi penduduk Indonesia. Yaitu bulan yang tidak diduga-duga oleh para proklamator sebagai pendongkrak semangat rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari pihak penjajah. Orang sekaliber Bung Karno atau Bung Hatta pun–penulis yakin, tidak menyangka kemerdekaan Indonesia mampu diraih pada bulan tersebut. Kenapa harus Agustus? Tidak selain bulan itu saja. Semisal bahasan pembicaraan tersebut belum sampai ke ranah kepercayaan agama, bisa saja diterima. Namun, kalau sudah tercampur aspek agama, tentu beda ceritanya.

Tentu banyak sekali perayaan kemerdekaan yang sengaja diadakan oleh masyarakat Indonesia. Kantor-kantor, baik pemerintah pusat atau swasta, berbondong-bondong menggelar upacara bendera memperingati peristiwa bersejarah pada bulan Agustus itu. Pawai baris-berbaris berkumpul di beberapa sudut jalan menjadi saksi bahwa perjuangan kemerdekaan memang patut untuk dirayakan setiap tahunnya. Angka “17” yang ada di kalender umum juga diganti dengan corak warna merah, pertanda hari libur.

Tak hanya itu, pesta kemerdekaan yang dinilai agak ekstrem tidak ketinggalan ikut memeriahkan acara tahunan tersebut. Bahkan, mereka merelakan seluruh jiwa raga demi tindakan yang mengancam nyawanya sendiri. Yaitu menancapkan bendera Merah Putih di puncak gunung atau di dasar laut saat hari kemerdekaan.

Jika pekerja kantor dan para siswa hanya melihat bendera pusaka melambung tinggi sebab tarikan dari petugas upacara, beda cerita dengan para pendaki gunung. Proses pengibaran bendera tentu tak mudah seperti upacara yang dilakukan anak-anak sekolah dasar. Sebelum bendera berkibar, pembawa bendera serta teman-teman seperjuangan harus melewati berbagai lika-liku rintangan menuju puncak.

Penulis salut dengan mereka, para pemuncak gunung itu. Mungkin jasanya juga perlu dikenang—oleh orang yang tentunya gemar muncak. Kalau bukan karena mereka, bendera Merah Putih tidak akan terlihat oleh pilot pesawat atau helikopter.

Ada satu pertanyaan yang mengganjal di lubuk hati penulis. Di saat perayaan kemerdekaan, apa tujuan pokok sehingga keinginan mereka begitu besar ingin mendaki gunung? Apa karena puncak itu sendiri—sebagaimana pendaki gunung pada umumnya, ataukah hasrat ingin menancapkan sang Merah Putih.

Kalau jawaban pertama yang menjadi dasar perjalanan penjang mereka, selain momentum kemerdekaan, kan, juga bisa. Namun, apabila jawaban kedualah pokok semangat yang mendongkrak keinginan mereka yang menggebu-gebu, buat apa susah-susah menuju puncak, sampai-sampai mengancam nyawa sendiri. Padahal mengibarkan bendera di manapun tempatnya, Bung Karno, Bung Hatta, atau pahlawan proklamator lain juga mampu melihatnya, hehe.

Sekilas, Anda, sebagai pembaca akan mengkritik penulis dengan sebutan orang yang kontra dengan muncak. Maka, jawabannya tidak sepenuhnya benar. Penulis merupakan pendengar setia cerita teman penggemar ritual muncak. Rasa-rasanya ingin sekali ia ikut mengarungi berbagai rintangan yang—menurut penilaian teman—begitu memacu adrenalin. Belum juga mereka sedikit terkesan pamer pemandangan dengan gambar wajah sumringah di puncak. Dan yang paling terkesan ketika mereka bilang, “Ini sudah panggilan alam, saya harus datang.” Sejak itu ia yakini, tingkatan sebagai penulis abal-abal memang berbeda dan belum sampai seperti mereka!

Pengalaman muncak paling tinggi, ya, tidak begitu terkesan rendah. Sunan Muria, Kudus. Yang seperti itu sudah ia anggap muncak, lah. Karena walaupun tak terlampau tinggi, sudah nyerempet pengertian muncak versi KBBI: sama-sama naik ke gunung. Udara yang amat dingin juga pernah penulis rasakan di sana. Belum lagi, Sukun dan kopi khas Muria setia menemani di sunyinya malam hari. Mungkin menikmati keduanya di puncak gunung yang sebenarnya akan jauh lebih indah dibanding pengalaman sebelumnya.

Mumpung di Mesir, penulis bersedia, kok, menerima ajakan teman-teman sekalian memuncaki gunung bersejarah yang ada di sini, Gunung Sinai (Jabal Musa). Ya, setidaknya bantulah menghilangkan perspektif negatif tentang tradisi muncak yang kian marak di usia muda. Kan, mumpung masih ada waktu buat menancapkan bendera merah putih di gunung bersejarah itu. Hehe

Irvan Ali Muladi

Putra Kudus. Itu dulu, bionya.

Tentang admin