Home / masisir / PPMI ‘Pelit’ Soal Visa Kolektif?

PPMI ‘Pelit’ Soal Visa Kolektif?

Melanjutkan tradisi yang sudah dua tahun belakangan berjalan, tahun ini PPMI kembali membuka jalan pengurusan perpanjangan visa secara kolektif. Minggu lalu, tepatnya pada tanggal 15 November, pengurusan visa secara kolektif telah dimulai.

Beberapa persyaratan dicantumkan, pembagian kuota tiap kekeluargaan pun telah dimusyawarahkan dengan tiap-tiap kekeluargaan. Dan Hasilnya, kekeluargaan-kekeluargaan yang mempunyai anggota banyak berhak mengajukan 4 paspor tiap minggunya, sementara kekeluargaan yang jumlah masanya lebih kecil berhak mengajukan 3 paspor, sedangkan kekeluargaan lain yang anggotanya tidak lumayan banyak, berhak mengajukan 2 paspor, sementara kekeluargaan yang hanya mempunyai segelintir anggota, diperkenankan mengajukan 1 paspor di tiap minggunya.

Respon positif mengenai visa kolektif ini pun bermunculan, hampir semua mahasiswa ingin memperpanjang visa lewat jalur ini, karena lebih mudah, dan tak harus antri berjam-jam dalam mengurusnya, hanya tinggal menyerahkan persyaratan yang telah diminta ke konsuler atau ke perwakilan PPMI di masing-masing kekeluargaan.

Namun, suara negatif mengenai pembagian kuota juga sidikit menguak di permukaan. Kekeluargaan macam KPMJB, KKS, KSW, juga kekeluargaan besar lainya, kenapa hanya diberi jatah maksimal 4 paspor di tiap minggunya, hampir sama dengan kekeluargaan yang mempunyai anggota lebih sedikit dibanding mereka, semisal KMB dan KSMR.

Hujaj Nurrohim, selaku wakil Presiden PPMI periode 2014/2015 menanggapi slentingan negatif ini, dirinya menjelaskan bahwa pembagian seperti itu memang sudah kesepakatan forum yang hadir dalam rapat. “Pembagian kuota (per -red) kekeluargaan tidak sama rata, namun kita bagi menjadi tiga, yaitu besar, menengah dan kecil. Besar 4 orang, menengah 3 orang, dan kecil 2 orang. Memang lumayan sulit ketika 50 paspor perminggu untuk 4.000 orang. Akhirnya kami menempuh pertimbangan itu,” jelas Hujaj menerangkan.

“Pembagian kuota itu juga tidak sedetail kuota temus, misalnya satu paspor mewakili sekian orang. Ya itu tadi, kita kelompokkan menjadi 3 jenis kekeluargaan. Ada beberapa kekeluargaan kecil yang satu sama lainnya terpaut puluhan, tapi itu kita samakan, sebab kalau tidak, ada kekeluargaan yang hanya dapat 1 paspor perminggunya,” imbuh mahasiswa asal Jawa Tengah itu.

Ketika ditanya apakah ada suara-suara negatif soal visa kolektif yang masuk ke PPMI, dirinya menjawab. “Sejauh ini belum ada. Toh pembagian tugas jaga di konsuler kami ratakan, masing-masing kekeluargaan satu orang, bukan atas dasar banyak sedikitnya warga kekeluargaan”, tutur Hujaj.

Ia menyayangkan kekeluargaan-kekeluargaan yang tidak memahami hasil petemuan minggu lalu, dengan menyusahkan diri mengambil paspor ke warganya. “Sekedar info, masih ada beberapa kekeluargaan yang kurang faham, bahwa mahasiswa yang visa kolektif tidak perlu datang membawa paspornya ke kekeluargaan yang bersangkutan, tetapi cukup menghubungi kekeluargaannya, masih ada kuota atau tidak,” jelasnya.

“Kami lihat kemarin beberapa kekeluargaan ketuanya datang sendiri membawa paspor warganya. Bahkan ada kekeluargaan yang tidak mengirim paspor, karena alasan masih sibuk. Padahal ketika rapat di konsuler sudah sangat jelas,” terang Hujaj mengakhiri penjelasannya.

Perpanjangan visa secara kolektif ini akan terus diadakan sampai batas waktu yang belum ditentukan. Untuk mengurusnya tinggal menghubungi kekeluargaan masing-masing. (MUNNiR)

Our Agenda

Rihlah Maktabah
“Menelusuri Jejak Pustaka, Mendobrak Batas-batas Cakrawala”
Hari : Senin, 24 November 2014
Waktu: 08.30 Clt-selesai
Tempat : Maktabah Al-Azhar, Dar el-Kutub el Mishriyah, Qohiroh Kubra, IIIT, Misr Ammah
Status: Khusus teman-teman baru KSW, WSC, SMW

KMC
“Khatulistiwa Monthly Cafe”
Hari : Coming Soon
Waktu: Coming Soon
Tempat : Auditorium Griya Jateng
Status: Untuk umum

Tentang admin

Lihat Juga

Mahasiswa Pascasarjana Asal Jawa Tengah Raih Gelar Magister Usul Fikih

Mahasiswa pascasarjana jurusan Usul Fikih, Ahmad Munafidzul Ahkam  meraih predikat Jayyid Jiddan pada sidang tesis …