Home / Wawancara / Prof. Komaruddin: Belajar Saja Tidaklah Cukup Untuk Menjadi Cendekiawan
Dokumen milik KSW MEsir. Diambil di Hotel The Ritz Carlton Cairo.

Prof. Komaruddin: Belajar Saja Tidaklah Cukup Untuk Menjadi Cendekiawan

Kami tiba di lobi The Ritz Carlton sekitar pukul 07.15 CLT. Oleh seorang ajudan, wawancara dijadwalkan pukul 07.30 CLT. Kami beruntung, jalanan relatif lengang. Jadi kami memiliki persiapan selama 15 menit untuk mencari angle dan menyiapkan kamera.

Beberapa menit kemudian ajudan datang. Dia menawari kami agar sarapan terlebih dahulu. “Bapak (sebutan untuk Prof Komar) juga sedang sarapan,” tambahnya. Dia juga mengatakan agar kami langsung menghampiri Bapak usai sarapan.

Saat kami temui, Prof Komar mengatakan hendak bersiap-siap, karena pagi itu harus check-out hotel. Walhasil, kami menunggu.

Sekitar pukul 09.12 CLT Prof Komar muncul. Beliau mengenakan kemeja putih, dasi hitam, jaket dan celana hitam polos. Formal.

“Langsung saja, ya, Prof?” 

“Silakan.”

Menurut Prof, cendekiawan itu apa?

Ya, dalam bahasa Inggris biasanya diterjemahkan dengan intelektual. Yaitu mereka yang tidak hanya mempunyai ilmu pengetahuan, tapi juga bergelut dengan persoalan masyarakat. Selain itu, dia juga punya tanggung jawab kemasyarakatan.

Makanya seorang scholars, ilmuwan, kalau dia hanya aktif di kelas mempelajari ilmu untuk ilmu itu sendiri, itu (dia) sering dikatakan bukan seorang cendekiawan. Karena dia tidak engage atau terlibat aktif dalam masalah-masalah sosial.

Jadi titik pembedanya yaitu keterlibatan dengan masyarakat?

Ya, intinya adalah kalau orang sudah berilmu, maka dengan ilmu itu hendaknya dia juga memikirkan masalah-masalah kemaslahatan bangsa.

Kalau demikian, mahasiswa disebut sebagai cendekiawan?

Mahasiswa itu calon intelektual calon cendekiawan. Karena dia secara keilmuan sedang memperdalam keilmuannya. Kalau toh terlibat dalam masalah sosial, keterlibatannya masih sebagai partisan. Tapi bisa saja mereka disebut sebagai calon-calon intelektual dan cendekiawan.

Tapi mereka juga terlibat dalam masalah sosial, Prof …

Ya, biasanya dibedakan. Misalnya dalam konteks sekarang ini kalau toh orang ingin terlibat membicarakan masalah-masalah kemasyarakatan, sosial, dan politik, persyaratan yang diperlukan (untuk terlibat) lebih luas lagi.

Di samping dia sebagai seorang ilmuwan, diperlukan juga data-data, penelitian, kemudian juga memberikan solusi dan kritik. Asal bicara saja tidak cukup.

Apa pendapat Prof tentang mahasiswa di sini?

Kalau saya amati secara genealogis, asal usul keluarga (Masisir) umumnya datang dari keluarga masyarakat yang memang aktivis sosial. Mereka peduli masalah-masalah sosial keagamaan. Jadi mereka sebenarnya mempunyai minat bakat dan lingkungan yang mengarah pada cendekiawan.

Tapi lagi-lagi, sekarang diperlukan wawasan keilmuan yang lebih dalam dan seluas mungkin. Karena persoalan yang dihadapi (juga) semakin kompleks.

Kalau pandangannya (Masisir) hanya parsial, ibarat kamera, itu tidak bisa wide angle.

Pesan-pesan untuk mahasiswa di sini, Prof?

Mesir itu dulu negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Dulu para pejuang kemerdekaan itu dekat dengan pemerintahan Mesir. Salah satu tujuannya,
dalam rangka membela dan mengenalkan pada dunia Arab terkait kepentingan-kepentingan Indonesia.

Oleh karena itu, penting (bagi) kawan-kawan di sini mengetahui sejarah kemerdekaan. Bahwa ia (kemerdekaan diraih) dengan perjuangan keras oleh para aktivis intelektual dan intelektual aktivis.

Mereka adalah intelektual, yang pendidikanya tinggi. Mereka juga disebut aktivis karena terlibat kehidupan sosial masyarakat politik.

Dan Mereka ikut berjasa melahirkan-mendirikan republik ini. Jadi antara semangat keislaman, semangat kebangsaan, dan semangat keilmuan, dalam diri mereka itu menjadi satu. Ini sebaiknya diagendakan (oleh Masisir).

Reporter:
Furqon Khoiruddin
Pandu Aditya Syahputra

Videografer:
Rasyid Abdurrahman

Tentang admin

Lihat Juga

Nuansa dan Beberapa Rencananya Untuk Wihdah

Nuansa Garini, yang akrab disapa Nunu memiliki kiprah yang diakui di kancah Masisir. Selain berprestasi, …