Berita Terkini
Home / OPINI / Masisir / Salat Subuh dan Kelayakan Presiden PPMI
foto diambil dari akun Instagram Pemilu Raya 2018

Salat Subuh dan Kelayakan Presiden PPMI

Sepekan ini Masisir sedang disibukkan dengan hajat besar tahunan, yaitu pemilihan capres dan cawapres PPMI. Tidak semua Masisir, sih. Mungkin hanya setengah dari seluruh populasi mahasiswa. 

Kata Panitia Pemilu Raya (PPR), besok Kamis (28/06) adalah hari pencoblosan dan besok banget (red-frasa anak muda masa kini) adalah hari terakhir kampanye kedua paslon. Namun, malam ini kita tak hendak membicarakan kampanye maupun hari-H pencoblosan. Yang hendak kita bicarakan adalah secuil tentang debat kemarin (24/06) sore di Aula Limas.

Walaupun pengeras suara yang digunakan kadang tak berfungsi baik, dari baris belakang aku masih bisa mendengar satu pertanyaan dari panelis yang, mohon maaf, bikin geli. Gelinya itu melebihi kegelian mendengar gombalan Iqbal dalam film Dilan. Andai saja kamu ikut menonton dan kritis, aku yakin kamu bakal geli juga.

Kalau dalam debat Pilkada ataupun Pilpres pertanyaannya itu harus relevan dengan konteks, tidak demikian dengan debat kemarin. Semua pertanyaannya memang penting secara unsur, tapi juga bisa dibilang normatif. Untung saja dari tiga pertanyaan pokok, dua di antaranya sudah tepat: eksplorasi visi misi dan pemahaman akan AD/ART PPMI. Satunya lagi bagaimana? Inilah yang bikin aku geli.

“Saudara salat subuh pukul berapa?” tanya seorang panelis.

Mendengar itu pikiranku langsung meloncat ke debat kandidat pada tahun lalu. Pikirku, kokya, masih ditanyakan! Alasan mengapa aku tak setuju pertanyaan begitu ada tiga. Pertama, mengesankan Masisir yang dalam hal persalatan saja ada yang bermasalah: qadhaan lillahi ta’ala. Sebusuk-busuknya kita, namanya aib ya baiknya ditutupi. Lah, ini malah mencoba dikuak. Hemmm.

Kalau sampai masyarakat tanah air mendengar kemasbukan versi Masisir, kan, bisa berabe, Cak. Malu, tau ngga. Untungnya lagi, portal RRI tak membahas sedetail ini. Wartawannya cuma bilang begini:  Jihad dan Ibnu Adu Gagasan di Debat Kandidat Pemilu Raya PPMI Mesir. Coba, deh, kamu buka sendiri tuh berita.

Alasan kedua, masih ada pertanyaan yang lebih tepat dan relevan. Contohnya, isu kriminalitas. Terhadap isu ini, baiknya ada porsi khusus untuk memperbincangkannya. Apalagi, solusi jangka panjangnya masih rumit, karena menyangkut pihak-pihak di luar KBRI. Berkali-kali terjadi perampokan, pencopetan, bahkan sesekali terjadi balas dendam dari kriminal usai kita melawan, aku kira kasus-kasus ini tak sepele. Untungnya, isu ini tetap terlontarkan walau bukan dari panelis, tapi salah satu paslon.

Topik lain yang patut diperbincangkan ialah pola komunikasi antara PPMI dan KBRI, yang tensinya selalu fluktuatif bahkan dramatis. Sejauh ini banyak yang bilang hubungan antara keduanya ialah partner. Namun, sejauh ini pula prakteknya lebih kelihatan cakar-cakarannya. Entahlah. Yang jelas, hubungannya seperti apa bisa berdampak pada kemaslahatan Masisir dan jangan sampai presiden—yang akan terpilih—di depan publik melawan, tapi di belakang minta berkawan.

Dengan adanya perbincangan pada topik di atas, kedua paslon akan tertantang bagaimana ia akan mengakomodasi berbagai kepentingan, tuntutan, dan harapan Masisir. Alasan terakhir mengapa salat subuh tak perlu ditanyakan ialah, syarat pertama bagi pendaftar capres dan cawapres berbunyi “Bertakwa kepada Allah Swt. dan berbudi pekerti baik.” Kurang jelas bagaimana, coba?

Ketika kedua paslon dinyatakan lulus penyaringan (screening), berarti keduanya—dalam standar tim seleksi—bertakwa kepada Allah Swt. dan berakhlak baik. Logikanya, kalau keduanya tak bertakwa, maka keduanya tak memenuhi persyaratan. Karena tak memenuhi persyaratan, maka keduanya tak lulus dan gagal menjadi calon. Oleh karena keduanya telah lulus penyaringan, otomatis mereka adalah hamba-hamba yang bertakwa.       

Takwa sendiri, menurut KBBI ialah “Terpeliharanya diri untuk tetap taat melaksanakan perintah Allah Swt.” Oleh karena kedua paslon bertakwa, bisa dipahami pula bahwa keduanya melaksanakan salat subuh sesuai perintah Tuhan: setelah terbitnya fajar hingga sebelum terbitnya matahari. Aku harap tiga alasan ini sudah cukup untuk mencegah pertanyaan semacam di atas.

Ya kalau memang mau bermain ilmu cocokloginya Jaya Suprana, sah-sah saja. Memang kalau seseorang terbiasa salat subuh pada waktunya dan jarang meng-qadha sebab susah bangun, bisa diartikan ia adalah seorang yang mampu memanajemen waktunya setiap hari. Bisa diartikan pula bahwa ia juga tipe capres yang loyal pada kepentingan Masisir. Bagaimana tidak; loyal kepada Tuhan yang Gaib saja bisa, masa` loyalitas pada Masisir yang wujudnya jelas tak bisa? Namun, kita perlu ingat bahwa cocoklogi lebih cocok digunakan untuk dagelan, bukan pemilihan presiden PPMI.

Untuk menilai layak tidaknya seseorang menjadi Presiden PPMI ada banyak cara. Kalau lewat debat kandidat, ajukan saja pertanyaan-pertanyaan yang relevan dan substansial. Kalau tak sempat mengikuti debat yang diadakan panitia pemilihan, bisa juga menjelajahi rekam jejak kedua paslon sekaligus menelusuri kepentingan-kepentingan di balik pencalonan masing-masing dan kemungkinan-kemungkinan jika sang paslon terpilih memimpin.

Sebisa mungkin tidak memilih hanya karena ketampanan capres ataupun cawapres, karena semuanya boleh, laaah—kamu tau maksudku, Oppa. Kemudian, kalau kita memilih paslon cuma berdasar intuisi belaka, yang kasihan itu panitia. Jangan dikira bikin slogan “pemilih cerdas, pemilu berkualitas” kayak bikin Indomie+telur, Sob.

Siapa yang menang, tentu bisa diusahakan; tapi siapa yang terpilih, itu urusan Tuhan. Bicara layak tidaknya seorang paslon, justru biasanya terlihat usai pemilihan: apakah yang tak terpilih menjauh dan apakah yang terpilih tak menyambangi?

Dari situ baru ketahuan layak tidaknya.  

Lihat Juga

Perbedaan dalam Beragama: Sebuah Cara Memaknai dan Menyikapi

Perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Seringkali sebuah perbedaan menimbulkan percekcokan, permusuhan, bahkan pertumpahan darah. Padahal Allah …