Home / FEATURE / Sehari bersama Fira, si Penyiar Radio di Era Digital
Safira (kiri) dan teman siarannya.

Sehari bersama Fira, si Penyiar Radio di Era Digital

Kini radio tak mungkin sejaya masa lalunya. Biar begitu, masih ada seorang mahasiswi yang optimis bahwa radio masih dan akan selalu bertahan.

 

Namanya Tartila Abidatu Safira. Dia biasa dipanggil denan Fira. Kami berteman sejak duduk di bangku sekolah dasar dan  berpisah selepas sekolah menengah atas. Sekarang ia kuliah di Universitas Sebelas Maret mengambil jurusan Komunikasi Terapan Penyiaran.

Selama masa liburan, aku berencana ke kota Solo untuk menemui mahasiswi asal Sragen ini. Kami pun membuat janji temu di Gedung Fiesta Radio, tempat ia magang sebagai penyiar. Namun, sebelum bertolak ke indekosnya kami mampir makan siang di kantin. Aku memesan soto ayam dan es pandan, sedangkan Fira memlih nasi ayam bakar dan es campur.

Indekos yang ditempati Fira cukup luas. Ukurannya 4 x 6 meter persegi. Fasilitasnya cukup lengkap. Ada kamar mandi dalam dan balkon. Namun, Fira tak pernah menjajaki balkon tersebut. Pintunya selalu ditutupnya rapat. Bahkan lubang kecil di pintu juga ia tutup rapat. “Biar air hujannya ngga masuk,” kata Fira.

Bagi kalangan mahasiswi, barang-barang Fira tak terlampau banyak. Standar dan rapi, layaknya para wanita. Tas ia letakkan di gantungan kayu, sandal-sepatu ia taruh di rak luar kamar. Buku-buku di rak pun ia tata sepresisi mungkin. Barang-barang di sana juga biasa. Hanya ada lemari pakaian, kipas angin merek Sharp, dan meja persegi tempat ia beraktivitas bersama laptopnya.

Sambil memutar lagu gubahan Fourtwenty yang berjudul zona nyaman, kami bertukar banyak cerita yang tak sempat kami lakukan lewat WhatsApp. Aku sendiri bernostalgia dengan pengalamanku di sekolah asrama di bilangan Tengaran, Salatiga. Betapa menyebalkannya hukuman yang kudapat saat itu; menyapu halaman asrama selama tiga hari pada tiap sorenya hanya gara-gara telat salat berjamaah. Malu, apalagi di situ banyak murid berlalu-lalang. Di tambah lagi, waktu itu jelang kelulusan. Gengsi, dong. 

Sedangkan Fira, dia malah bercerita tentang seorang laki-laki yang ia taksir sejak bersekolah dasar. Dia girang, saat ditanya oleh si doi perihal kampus yang hendak dipilihnya beberapa tahun silam. Kutanya mengapa masih si doi yang di benaknya, Fira mengaku dirinya loyal soal cinta. Padahal, dia dan si doi tak sedang menyandang status apapun kecuali teman, sampai saat ini. Namun, begitulah Fira. Kepercayaan dirinya yang berlebih tak berubah sejak kami mulai kenal. Daripada mendengarkan ceritanya yang selalu diulang-ulang, aku pun mengalihkan pembicaraan.

Btw, bagaimana ceritanya kamu bisa jadi reporter radio kaya sekarang, Fir?” tukasku.

“Hmmm dulu waktu jadi Maba ada pengenalan banyak UKM di kampus. Pas denger ada Fiesta Radio, rasanya kayak terpanggil gitu untuk gabung. Kalau diperhatiin, passion-ku emang ada di situ. Yaudah aku gabung deh,” jawabnya.

Untuk bergabung di Fiesta Radio tidak sederhana. Ada banyak tahapan yang harus Fira lalui. Satu persatu, wanita empat bersaudara ini menceritakan bagaimana ia menjadi seorang penyiar. Pertama, membuat sampel voice radio dan CV (Curriculum Vitae) sekreatif mungkin.

“Waktu itu aku kurang percaya diri karena sample voice dan CV orang lain bagus-bagus. Cuman, ya, aku masih yakin bakal lolos. Semangatku masih menyala.”

Tahap selanjutnya, tes tulis. Pada kolom pertanyaan kewartawanan, ada 10 soal mengenai pengetahuan tentang berita yang harus ia kerjakan selama 20 menit. Adapun tentang penyiaran, pertanyaannya seputar program-program yang digarap Fiesta Radio.

“Soal-soalnya, tuh, nyebelin banget. Seolah-olah kita harus tahu semua hal, padahal itu cuman pertanyaan tentang musik. Tapi mereka (penguji) menganggap itu penting,” kata Fira sambil memasang mimik sebal.

Setelah kedua tahap berhasil dilewati, selanjutnya adalah yang terberat. Saat itu ia dihadapkan dengan 10 orang lebih. Diminta memperkenalkan diri, kemudian dibanjiri dengan pertanyaan yang menguji mentalnya. Bahkan tak jarang ia dimarah-marahi hanya untuk itu.

Safira dan teman-teman penyiar di Radio Fiesta Fm

 

Pengalaman Fira Menyusun Berita Siaran

Jam dinding menunjukkan pukul 19.17 WIB. Azan Isya berkumandang. Fira menanggalkan gawai Samsung seri Galaxy S 8-nya lalu menuju kamar kecil, wudhu. Sebelum ikamah terdengar kedua telinga kami, mahasiswi kelahiran 6 Desember tahun 1997 ini menggelar sajadah dan mengajakku salat berjamaah.

Usai salat dan memanjatkan zikir, kami memasak nasi goreng. Menu simpel dan tak memerlukan banyak biaya, khas anak kampus. Tambahannya pun hanya telur mata sapi. Selain murah, menu ini juga hemat waktu. Lagipula Fira juga harus segera menyiapkan materi berita untuk disiarkan esok hari.

Kenyang, aku pun berleha-leha di atas kasur sambil bermain gawai. Sedangkan Fira, kulihat dia membuka laptop dan mengaktifkan modem. Terdengar olehku suara klik tetikus berulang-ulang. Ah, berarti dia tak sedang membaca sesuatu, tapi membuka-buka beberapa folder ataupun laman.

Benar saja. Fira ternyata sedang membuka beberapa situs web. Di antaranya, detik.com, kompas.com, dan tempo.co. Fira bilang, dari semua laman yang ia kunjungi, ia akan mengumpulkan berita-berita yang berkaitan topik pilihan redaksi, kemudian merangkumnya untuk ia sajikan pada pendengar setia Fiesta Radio di saluran 107,7 FM keesokan harinya.

Biasanya, Fira mulai mengumpulkan berita dari berbagai medium di atas pukul sembilan malam, agar tak terlalu usang jika dibacakan pada keesokan hari. Fiesta Radio sendiri, tempatnya magang, tak mematok berita siaran harus yang terbaru, karena yang demikian biasanya diunggah media sekitar dini hari sampai pagi. Artinya, Fira tak mungkin begadang hanya untuk mendapatkan berita yang paling baru. Jadi yang terpenting berita tersebut masih cukup hangat diperbincangkan di masyarakat.

Dalam sekali siaran, ada 10 berita yang dibacanya. Dua berita utama, dua berita nasional, dua berita lokal, dua berita ekonomi-bisnis, dan dua lagi berita internasional. Namun, Fira tak seorang diri membaca semuanya. Dia ditemani seseorang untuk membacakannya. Setengah-setengah. Fira membaca lima berita, sisanya temannya itu. Sistemnya bergantian, selang-seling.

“Kalau ditanya jenuh, ya, jenuh, sih. Apalagi di Fiesta Radio tanggung jawabnya besar. Jadi suka takut kalau melakukan kesalahan. Setiap kesalahan bisa dapat hukuman sesuai kadar kesalahannya. Kadang merasa capai dan ingin istirahat, tapi di sisi lain kepikiran sama hukuman.”

Ketika Fira merasa jenuh, tips ampuhnya ialah mengingat-ingat alasan mengapa ia bergabung di Fiesta Radio. Dia juga mengingat-ingat nasihat kepala divisinya agar selalu bersemangat dan siap menghadapi segala tantangan yang ada.

“Dan kalo masih jenuh juga, aku refreshing dengan bermain game di gawai atau sekadar menyapa teman-teman di grup WhatsApp.”

Dengan seluruh semangat yang dimiliki, wanita berumur 21 tahun ini harus mengakui bahwa pendengar radio memasuki senjakalanya. Berdasarkan survei Nielsen pada 2014, angka pendengar radio mengalami penuruan sebesar 3% setiap tahunnya. Sedangkan sebagian media promosi, radio hanya memiliki porsi penetrasi 30% penggunaan di tengah masyarakat, bila dibandingkan dengan televisi, media cetak, dan yang lainnya. Broadcasting Board of Governors juga mengungkapkan, dibandingkan dengan media lain, 87% penduduk Indonesia menggunakan TV untuk mendapat berita. Melalui SMS sebesar 36%, sedang media cetak seperti koran sebesar 7%, dan 11% sisanya melalui radio.  

“Memang tak bisa dipungkiri kalau jumlah pendengar radio tak banyak. Di Fiesta Radio sendiri, ketika siaran berlangsung hanya ada belasan pendengar. Namun, gapapa. Yang penting sekarang bagaimana kita memperkenalkan radio ke orang lain terlebih dahulu. Masalah angka, semoga bisa bertambah banyak dengan berbagai usaha yang kami kerahkan,” ujar Fira dengan nada yang menjanjikan.

Walau terdengar miris, justru inilah yang membuat Fira termotivasi untuk menyajikan berita yang menarik dan tidak membosankan. Ia akan mencoba segala inovasi, mulai dari mengajak teman-temannya mendengarkan radio bersama, memperdengarkan berita yang booming di masyarakat, hingga menawarkan permintaan berita kepada teman-temannya.

Sekalipun sedikit pendengar, setidaknya radio tetap memiliki tempat di hati masyarakat, kata Fira. Alasannya, berita di radio selalu up to date dan tidak membosankan. Pembawaannya yang ringan dan santai, membuat siapa saja nyaman mendengarkan. Apalagi, kini radio sudah bisa diakses dengan mudah melalui gawai masing-masing.

Ditanya mengapa tidak menjadi penyiar di televisi kampus saja, Fira mengatakan harus memiliki banyak pengalaman broadcasting terlebih dahulu. Baginya, radio adalah medium yang paling dekat untuk berlatih hingga mengantarkannya menjadi reporter televisi. Nanti, setelah keterampilan reportasinya di dunia radio sudah apik, ia akan mencoba memasuki TV UNS sebagai kru reporter berita. Ke depannya, Fira berniat berkarir di stasiun radio milik pemerintah, yaitu RRI (Radio Republik Indonesia).

Bagi Fira, Fiesta Radio sangatlah berharga, dan menjadi kru di dalamnya merupakan pengalaman yang spesial. Dari situ dia belajar arti disiplin, tanggung jawab, bekerja keras, dan juga melatih artikulasi berbicara. Dengan kesibukannya yang demikian, Fira mengaku dirinya menjadi melek informasi.

“Aku berharap bisa menghidupkan eksistensi radio hingga radio tetap ada dan tak terlupakan oleh waktu.”

Fatimah Elzahrah

Punya nama Arab, tapi akrab disapa pakai nama Jepang “Zaa Chan”. Tergabung dalam grup Rumah Artis. Selama di Mesir, paling demen makan Tokmiyah Bilfil.

Tentang KSWMESIR.org

Adalah situs web yang dikelola oleh mahasiswa Al-Azhar asal Jawa Tengah dan Jogjakarta. Opininya berfokus pada isu sosial-keagamaan. Sekarang, menyajikan pula rubrik FEATURE.