Home / ؞ Opini / Sepakbola, Perekat Seluruh Elemen yang Ada

Sepakbola, Perekat Seluruh Elemen yang Ada

Sepakbola adalah olahraga yang selalu menuntut saling percaya antar pemain, pelatih(manajer) dan suporter, dan tak memperbolehkan dalam skema yang dipersiapkan kacau akibat egoisme dari satu atau/dan beberapa pemain. Dalam kondisi tak kurang seperti inilah Walisongo FC bisa memenangkan kembali Juara Jawa Cup ke-X, begitu tulis saudara Asrizal Mustofa di buletin Prestasi KSW beberapa bulan yang lalu.

Tentu kutipan di atas, tak sepersis apa yang tertulis secara tekstual dan ‘apa-adanya’ tapi begitulah esensi dan kesepahaman dalam bermain sepakbola. Sepakbola kala bukan sekedar menyalurkan hobi, atau sekedar melepas penat dan ‘mencari keringat’. Namun, bermain sepakbola yang termulai dengan kesadaran bahwa setiap pemain berhak atas posisi yang sama dan/dengan signifikansi permainan sesuai dengan pemaksimalan posisi masing-masing. Tentu posisi maksimal ini, kiper, gelandang, bek maupun penyerang, semua posisi ini kalau kita runut secara psikoanalisis memiliki keserupaan karakter dalam pendaran kehidupan manusia sehari-hari.

Sepakbola, di Masisir[1], sudah hadir bukan lagi sekedar hobi. Ketika dirunut awal mula sepakbola di mahasiswa Indonesia di Kairo ini, tentu tak lepas dari minat mula-mulanya: hobi berain sepakbola. Kegemaran intim masing-masing individu kemudian menyatu dalam suatu permainan yang kita sebut sepakbola. Tentu saja, apapun wahana atau lapangannya. Tak mensyaratkan lapangan yang ‘mewah’ atau berumput bagus, namanya juga penyaluran hobi. Hobi bermain sepakbola. Tak terlalu mempersoalkan wadah, tapi esensi bermain bola lebih diutamakan oleh kebanyakan pemain bola di Masisir.

Kebersamaan hobi dalam sepakbola ini, kala kita amati bersama, sepakbola menjadi olahraga yang ‘paling’ dari semua sisi. Katakanlah paling digemari, paling banyak pendukung, dan paling sering diamati-dijadikan lahan ekspresi silaturahmi antar-teman serta mempererat satu sama lain. Bahkan, kepada pendukung tim yang saling berlawanan—Barcelona-Real Madrid, Juventus-duo Milan, Arsenal-MU. Kebertemuan suporter yang saling berlawanan itu, bukan jadi titik permusuhan satu sama lain, malah jadi jembatan untuk jadi lawan bermain sepak bola. Semacam tanding persahabatan. Kalau pun dalam permainan ‘resmi’, menarik diamati dan, tentu saja, ikut berpartisipasi dalam perhelatan “laga tanding antar suporter tim TOP Eropa” yang diadakan oleh (kekeluargaan) KSW Mesir pada hari kamis, 02 oktober 2014 ini.

Barangkali ada semacam kebertemuan nilai, dari apa yang terpahami dan diamalkan Masisir dengan adagium yang didengungkan oleh salah seorang filsuf eksistensialis, Albert Camus. “Segala sesuatu tentang moralitas dan kewajiban sebagai manusia, aku mendapatkannya dari sepakbola,” begitu ujar Camus. Ujaran dari Camus ini tentu bukan bualan, atau sekedar rentetan kata-kata yang dapat dianggap angin lalu begitu saja. Dan secara kehendak tak sadar, mungkin juga, secara tak terlalu terkonsepsi.

Masisir sudah mengamalkan apa yang didengungkan secara eksistensialis oleh Albert Camus. Pemahaman ini mendapatkan pembenarannya, setidaknya, kalau kita menilik dari aktivitas Masisir. Kebanyakan mereka Mahasiswa. Tentu saja, sebagai Mahasiswa menjadi suporter bola tak sekedar menuntun sebagai hiburan namun sembari menghayati nilai-nilai kemanusiaan dalam sepakbola.

Sepakbola, permainan yang hadir dan mampu dinikmati kala nilai-nilai manusia hadir dengan apa-adanya. Manusia, tersematkan kepada para pemain itu, bermain bukan sebagai ‘orang suci’ tapi memendar jadi sebentuk manusia yang memainkan peran-peran paradoksalitas dan, sekaligus, kontradiksi. Dalam bermain sepakbola, segala sesuatu bisa jadi mungkin dan jadi kenyataan tanpa ada yang mampu mengkontrol. Sepakbola adalah permainan yang menghalalkan benturan fisik, pada saat bersamaan, mengharamkan adu jotos antar pemain, menarik kaos, dan menekel tanpa ada bola. Sepakbola mengharuskan semua pemain luruh dalam “emosi dan agresi penyerangan mental” kepada lawan bermain tapi tak mentoleransi saling cemooh dan lempar kata-kata sarkas apalagi merendahkan di luar batas kemanusiaan.

Berpijak dari pemahaman inilah, bermain sepakbola bukan sekedar ‘mencari keringat’. Bermain sepakbola, di saat yang sama, mereka sebenarnya sedang berproses secara terus-menerus berefleksi dalam memahami kedalaman jati diri. Dalam benak mereka harus selalu sadar bahwa keseimbangan emosi dan mental adalah modal signifikan untuk menuju maksud dan hasil yang sempurna itu mampu teraih. Dalam artian, bermain sepakbola harus selalu abai terhadap provokasi, mengelola frustasi dan selalu waspada dalam segala bentuk dan peringai, bahkan, saat gembira kala unggul selisih gol atau meraih kemenangan diakhir pertandingan. Pemain sepakbola, sudah menjadi maklum, harus melepas kepentingan pribadi guna sebuah tujuan kolektif yaitu memenangi pertandingan tanpa merendahkan musuh.

Oleh karena itu, kita sebegitu terpesona oleh ‘skill malaikat’ dari L. Messi dan C. Ronaldo semerta berjibun gol yang mereka berdua cetak. Sebagai suporter, tentu, terpana betul kala melihat A. Pirlo memanjakan penyerang di Juventus maupun timnas Italia. Semerta, mendadak kaget kala menonton G. Buffon melakukan penyelamatan pinalti, kala Juventus bertandang ke stadion Atlanta. Di saat yang bersamaan, sebagai penonton(mungkin juga pengamat), tentu kita sebegitu mudah mengutuk aksi L. Suares kala menggigit Chelini pada Piala Dunia 2014. Zinedine Zidane menanduk Marco Marterrazi pada perhelatan final Piala Dunia 2006. Semerta masih berjibun perangai paradoks dan kontradiktif dalam permainan pakem sepakbola.

Dari paragraf di atas, kita dapat petik makna: perangai buruk dan ajaib mampu hadir dalam lanskap kesadaran manusia secara bersamaan. Dalam sepakbola, nilai-nila itu mampu hadir dalam pakem, aturan, kepantasan di lapangan dan “sebentuk suri-tauladan yang hadir tanpa harus banyak bicara”. Kualitas karakter asasi manusia mampu mewujud kala dia bermain sepakbola. Di sinilah, adagium Albert Camus menjadi benar. Moralitas dan kewajiban sebagai manusia, mampu didapatkan dari sepakbola. Semerta, sebagai penonton, seringkali, perangai pemain, tontonan sepakbola kita jadikan khasanah kebijaksaan dan mampu membuka wacana dalam kehidupan sehari-hari tatkala kita terhimpit serta dirudung problema. Jalan ‘malaikat’, suci dan bijak-kah yang kita ambil atau sebaliknya, kesetimpangan dan ‘kegelapan’.

Dus, seperti kata Pirlo, “sepakbola, pada fase berikutnya, bukan lagi terbatasi ruang ganti lalu menuju lapangan dan kembali lagi ke ruang ganti.” Tentu saja, sepakbola kala terpahami secara mendalam dan terhayati, sepakbola menghadirkan wacana tentang relativitas dan realitas dalam konstruksi yang sepadan. Ruang improvisasi, tawar-menawar dan ketakpastian hadir bersamaan. Melawan dan menghindari ketertundukan. Di mana perjuangan ternilai bukan lagi secara mandiri, tapi juga melibatkan nasib, takdir dan kehendak di luar logika-nalar manusia. Pada konstruksi semodel inilah, perkataan A. Pirlo itu secara bijak dan komprehensif penulis tafsir dan pahami.

Akhirnya, dalam sepakbola, yang terbaik bukan mereka yang paling banyak keluar ‘petuah bijak’ tapi para pemain yang paling banyak memberi contoh dalam bermain baik. Manusia yang terbanyak dalam kontribusi buat keberhasilan kolektif. Manusia yang mampu konsisten seimbang secara mental, perilaku dan skill-skema bermain dalam waktu bersamaan di lapangan. Semerta, jadi benar tanpa syak wasangka apa yang tertulis oleh saudara Asrizal: “sepakbola menuntut saling percaya, dan meleburkan ego pribadi kepada kepentingan kolektif.” Dan eksistensialisasi nilai sepakbola hadir dari sebentuk nilai-nilai yang terpendar pada permainan itu sendiri. Maka, dalam sepakbola maupun kehidupan sehari-hari, kita dapat nilai moralitas yang adiluhung: “berilah contoh, jangan cuma menyuruh!”

[1] Sudah menjadi mafhum dan maklum, akronim Masisir adalah kepanjangan dari Mahasiswa atau Masyarakat Indonesia yang berdomisili di Mesir.

Ditulis oleh:

Ronny Giat Brahmanto

Anggota biasa KSW Mesir

Tentang admin

Lihat Juga

Simposium dan Ide-Ide yang Kurang Cemerlang

Seperti sedang menonton film Batman vs Superman; Dawn of Justice bagi para penggemar DC Comics, …