Home / OPINI / SERIUS

SERIUS

Ada dua jenis manusia di dunia ini. Pertama, manusia yang serius. Kedua, manusia yang main-main. Dari kedua jenis itu—nantinya, akan muncul cabang lain yang akan menjadi titik tolak tulisan ini. Baiklah. Kita bahas dulu kedua jenis di atas. Begini: saya berulangkali bertemu dengan jenis manusia pertama. Mulai dari aktivis, bisnismen, mahasiswa, guru, sastrawan dan orang-orang dari berbagai profesi lainnya. Bahkan akhir-akhir ini, saya banyak bertemu (meski tidak bertatap-muka) dengan jenis pertama ini dari kalangan agamawan. Ciri-ciri orang serius yang paling mudah dikenali adalah berjiwa saing yang tinggi, ambisius, dan, biasanya, bersungut-sungut. Meskipun tidak semua orang serius bercirikan demikian, tapi kita dapat menghukumi dari aghlabiyyah (mayoritas) mereka.

Kedua, orang yang main-main. Jenis kedua ini tak banyak saya temukan. Tapi meskipun demikian, satu-dua orang tentu saya kenal. Ciri-ciri mereka mudah saja. Karena sedikit itulah, saya bisa mengenalinya dengan relatif gampang. Mereka adalah jenis orang yang barangkali masih tertinggal di masa kecil. Mereka menganggap dunia ini hanya mainan. Mereka belajar seperti kebanyakan orang serius lainnya, tapi orientasi mereka sangat tidak ngumuni (bahasa Jawa). Biasanya mereka adalah orang-orang nyleneh yang, meskipun terlihat sembrono, tangkas dalam menghadapi kehidupan yang keras ini. Dalam pada itu, cara pandang kita sering menganggap jenis kedua ini tak terlalu representatif dalam membangun peradaban karena sifatnya yang main-main. Seolah-olah peradaban berada dalam genggaman orang-orang serius yang bersungut-sungut ketika membangun dan kadangkala lupa bahwa membangun sesuatu tidak harus dengan merobohkan sesuatu.

Orang tua kita telah mendidik kita untuk serius dalam menjalani kehidupan. Mulai dari kecil, kita telah diajari untuk sekolah dengan serius, belajar dengan serius, makan dengan serius, buang air dengan serius. Tapi pun demikian, dulu kita seringkali abai dan memilih untuk main-main saja. Kita, dengan main-main itu, malah justru tak pernah membenci teman sepermainan kita dengan serius; tak pernah membangkang orang tua dengan serius; tak pernah menyimpan dendam pada orang lain dengan serius; dan paling penting, tak pernah menganggap sesama teman sebagai ancaman. Berlalunya waktu, kita pun beranjak dewasa dan ajaran orang tua kita terpraktekkan sendiri tanpa disadari; kita mendadak menjadi dewasa dan serius. Sifat kekanak-kanakan kita memudar dan kita tertindih kebutuhan yang menggigit—menjadi pegawai yang serius yang taat pada bos, menjadi preman yang serius, menjadi politisi yang serius, dan akhirnya menjadi manusia yang serius dan lupa caranya tersenyum.

Syahdan, itulah keadaan kita ketika telah menjadi dewasa. Salah seorang penyair pernah mengatakan bahwa, menjadi dewasa adalah ancaman. Saya percaya pada penyair itu dengan berbagai alasan. Salah satunya: karena dewasa adalah kata sifat yang jahat; yang seolah-olah ingin menghapus anak kecil dari kamus kehidupan. Keadaan beragama kita dewasa ini sangat memprihatinkan dengan banyaknya orang dewasa yang serius. Mereka menganggap agama adalah keseriusan yang berapi-api dan menampakkan wajah agama dengan bedil dan bom. Mereka inilah yang sesungguhnya lupa pernah menjadi anak kecil yang tak pernah membenci orang lain dengan serius. Mereka inilah yang berlagak serius dan seolah bisa membela Tuhan dengan pedangnya. Kemanusiaan kita telah direpotkan dengan munculnya kaum beragama yang terlalu serius ini.

Saya sempat gigit jari melihat keadaan yang memprihatinkan di atas—meskipun tak meninggalkan sikap kekanak-kanakan saya yang menganggap mereka tak lain adalah orang yang ‘hanya’ salah-paham dan dengan demikian cukup perlu diluruskan sedikit saja. Sambil gigit jari, saya ingin merinci kembali kedua jenis manusia yang sempat saya singgung di muka. Pertama, orang yang serius adakalanya main-main. Kedua, orang yang main-main adakalanya serius. Untuk penjelasan lebih lanjut, saya akan paparkan seperti di bawah ini:

Jenis orang pertama kita temukan hanya berlagak serius dan sesungguhnya akibat dari keseriusan itu justru ia telah mempermainkan sesuatu. Usamah Al-Azhari, pengarang kitab Al-Haq Al-Mubin, menganggap orang ekstrim kanan seperti Ikhwan Al-Muslimin dan ISIS sebagai orang yang mempermainkan agama (man tala’aba bi al-din). Mereka terlampau serius sehingga sering menganggap orang lain kafir. Atau mereka terlalu dewasa sehingga lupa bahwa justru sifat anak kecil yang tak pernah serius membenci orang lain adalah sifat yang patut dipertahankan. Keseriusan mereka berbuntut kepada lunturnya rasa kemanusiaan dan lenyapnya sikap tenggang rasa. Mereka inilah orang-orang yang berlaku serius tapi malah bermain-main. Saya kira, jenis orang beginilah yang merusak peradaban.

Alih-alih membela Tuhan, orang-orang serius itu malah fokus membela keyakinannya. Di sini saya menjadi ragu, jangan-jangan, yang mereka imani bukanlah Tuhan tapi keyakinan meraka sendiri. Dalam salah satu kolomnya berjudul ‘Tuhan Tidak Perlu Dibela’, Gus Dur memotret kasus kita ini dengan sebuah alegori yang mengena. Seorang pemuda baru saja pulang dari luar negeri dan mendapati banyak orang marah-marah di tanah airnya. Ia kemudian bertanya pada beberapa orang kenapa mereka marah-marah, dan jawabannya selalu tidak memuaskan baginya. Sampai akhirnya ia diajak temannya untuk bertemu dengan seorang guru tarikat dan darinya ia memperoleh jawaban yang membuatnya mengerti bahwa sikap marah-marah yang ditunjukkan sekelompok orang untuk membela Tuhan sebenarnya adalah hal yang muspro, sia-sia. Sebab, tanpa dibela pun, hakikatnya, Tuhan tidak terpengaruh sama sekali ketika ada orang yang mengusik-Nya. Tuhan sudah mahakuat, dan tidak perlu dibela. Lebih baik membela manusia yang memang tercipta sebagai makhluk yang lemah.

Jenis orang kedua biasanya kita dapati sangat ceria, humoris, dan masih ingat caranya tersenyum. Mereka main-main tapi serius. Main-main hanyalah cara ia untuk merespon sesuatu, yang mana tujuannya adalah untuk keseriusan. Contoh paling mudah adalah humornya Nabi ketika ditanya seorang perempuan tua: “Apakah di surga ada orang seperti saya?” Nabi tentu tahu apa yang dimaksud perempuan tua itu. Tapi jawaban Nabi mengandung humor yang justru serius. Bahwa kelak, di surga memang tak ada orang yang setua perempuan itu. Indonesia beruntung pernah memiliki Gus Dur. Pribadi Gus Dur adalah pribadi yang humoris dan kelihatan main-main. Perkataan Gus Dur bahwa anggota DPR seperti anak TK boleh jadi dulu dianggap main-main, guyonan sambil lalu. Tapi apa yang akhir-akhir ini kita saksikan membenarkan perkataan Gus Dur itu. Bahkan sekarang ada yang sampai menganggap anggota DPR seperti anak PAUD.

Literatur Islam sebenarnya banyak menyediakan kajian dan studi tentang kemanusiaan. Tapi, kebanyakan kita sekarang malah fokus kepada masalah ketuhanan. Perdebatan mengenai ketuhanan, misalnya polemik Dzat dan Sifat, tak akan pernah beranjak dari posisi semula bahkan mungkin sampai ribuan tahun ke depan. Perdebatan tentang ketuhanan seperti itu hanya bertahan sebagai studi sejarah yang implikasinya terhadap kemajuan Islam sifatnya sangat terbatas. Yang perlu lebih dikembangkan adalah kajian tentang sisi kemanusiaan dari Islam. Contoh kecilnya, kita musti banyak mengkaji tentang konsep perdamaian dan HAM yang pernah diterapkan oleh Nabi dan para Salaf Al-Shalih. Terakhir, saya ingin berkisah singkat tentang orang ekstrim kanan yang suka marah-marah. Alkisah, pada suatu ketika, salah seorang kelompok ektrim kanan bertanya kepada seorang Kiai: “Apakah di surga nanti ada orang seperti saya?” Kiai itu tersenyum dan menjawab pelan, “Tidak.” Orang itu seketika marah-marah dan mengungkit amal-amal baiknya selama ini. Wajahnya memerah dan matanya terbelalak. Kiai itu masih saja tenang sambil menunggu orang itu selesai meredakan amarahnya. Setelah orang itu berangsur tenang, Kiai itu berkata: “Di surga nanti, tak ada orang yang sukanya marah-marah seperti Anda. Di sana, semua wajah diciptakan Tuhan untuk sumringah dan semua bibir diciptakan Tuhan untuk tersenyum.” Orang itu bengong, mulutnya menganga beberapa senti selama beberapa detik. [*]

M.S. Arifin

Comments

comments

Lihat Juga

Simposium dan Ide-Ide yang Kurang Cemerlang

Seperti sedang menonton film Batman vs Superman; Dawn of Justice bagi para penggemar DC Comics, …