Home / OPINI / Simposium dan Ide-Ide yang Kurang Cemerlang

Simposium dan Ide-Ide yang Kurang Cemerlang

Seperti sedang menonton film Batman vs Superman; Dawn of Justice bagi para penggemar DC Comics, sebagian Masisir berekspektasi banyak hal besar terjadi di agenda-agenda Simposium Internasional lebih dari sekedar trailer-trailernya. Serta seberapa berpengaruh antara ekspektasi dengan kepedulian diri Masisir mungkin bisa jadi tidak relevan. Artinya mau sesuai dengan ekspektasi mereka atau tidak bukanlah masalah. Saya kira di situ letak perbedaan ekspektasi dengan harapan, saya hanya berekspektasi Simposium di Mesir akan jadi sesuatu yang (menghasilkan hal) besar. Saya tidak berharap, tak berlebih setidaknya. Lagipula, siapa saya? Tapi lain dengan mereka yang menanti sejak lama Batman bertemu Superman tidak hanya dalam karakter dua dimensi, tentu berharap banyak filmnya akan menjadi luar biasa dan akan sangat kecewa saat itu tidak terjadi.

Dalam perjalanannya, bersiap-siap sejak pertengahan akhir tahun lalu panitia Simposium tampak bertaruh besar-besaran. Yang jelas nama Masisir akan dibawa-bawa, semuanya demi Masisir. Harga diri, kemajuan, nama besar, batu loncatan atau apapun yang berkesan optimis lainnya agar direstui oleh standar semesta ini. Saya sangat mengapresiasi keseriusan panitia dalam menggarap keanggotaannya. Berdasarkan pengalaman, anggota-anggota yang ogah-ogahan mengurusi tugasnya akan ditegasi kelanjutan dinas panitianya. Tapi mungkin hanya orang-orang aneh atau semacam introvert yang tidak sungguhan menggarap tugas panitianya. Bagaimana bisa sebuah kepanitiaan bergengsi yang diberi ruang gerak pada level internasional diabaikan begitu saja saat sudah terpilih secara religius oleh Tuhan dan (tentu dengan campur tangan) Presiden PPMI. Dari yang saya lihat, sejak akhir tahun lalu saat Simposium mulai (berusaha) diramaikan, beberapa Masisir yang saya kenal begitu ingin terlibat secara langsung di acara super luar biasa penting itu. Biasa, Masisir baru melirik kalau itu even-even yang luar biasa besar dan didatangi oleh orang-orang yang luar biasa penting. 

Paham atau tidak, peduli maupun tidak, semua bentuk perwujudan Masisir akan dinilai pada lima hari keberadaan mahasiswa luar negeri lain di Mesir. Berada di tengah-tengah kita dan mengamati dinamika kita yang sesak dan semrawut. Seperti yang diungkapkan ketua PPI Rusia saat diwawancarai reporter kswmesir.org, bahwa jika seluruh peserta simposium dari luar Mesir dapat kembali dalam keadaan hidup-hidup, karena anggapan Mesir yang belum aman, maka itu akan bisa meningkatkan kredibilitas PPMI Mesir di mata PPI Dunia. Ya, kalau saya sendiri hanya bisa tersenyum masam. Betapa mudahnya tugas PPMI Mesir agar bisa dilirik sebagai organisasi bertaraf internasional yang sungguhan. Meskipun secara harfiah saya yakin Presiden PPMI lumayan kerepotan meyakinkan kawan-kawan PPI lainnya. Memang tidak relevan kalau dikaitkan dengan rusuh-rusuh politik Mesir yang sudah redam, tapi kalau kita ingat-ingat lagi belum lama ini beberapa peristiwa penjambretan dan pencurian terhadap Masisir yang lumayan beruntun cukup mengejutkan dan memberi shock therapy khususnya kepada Masisir baru. Jadi bisa saja relevan, faktanya kita sendiri agak cemas saat jalan sendiri di gang yang gelap pada malam hari.

Tulisan ini tentu saja hanya akan selesai saat Simposium ke delepan ini juga selesai, untuk mengamati hingar bingar yang diperbincangkan secara viral. Yah, meski hanya dari kejauhan. Tapi bagi saya itu sudah cukup. Sebagaimana digambarkan dalam Allegory of The Cave oleh Plato, objek yang tampak adalah tidak nyata melainkan berupa tiruan dari bentuk yang sesungguhnya. Ide, menurut beliau, adalah bentuk yang paling nyata dan akurat. Bisa jadi riuh rendah yang Anda rasakan di tiap agenda Simposium itu tidak nyata, sabda-sabda panelis hanyalah redaksi utopis. Jujur saja—karena saya merasa terlalu bersalah bersikap sarkas sejak awal tulisan ini—, tema besar yang diangkat Simposium Internasional ke-8 sebenarnya tidak sederhana. Berbeda dengan simposium-simposium sebelumnya yang mengangkat satu detail permasalahan yang spesifik semacam hutang Indonesia pada IMF atau lapangan kerja untuk lulusan mahasiswa luar negeri, Simposium kali ini menantang setiap delegasi untuk berdiskusi dengan para panelis tentang empat wilayah besar yang masih umum; politik, ekonomi, pendidikan dan agama. Entah urutannya benar demikian atau tidak penting sama sekali. Empat bidang tersebut disajikan mentah-mentah agar dapat dimatangkan bersama lalu menentukan—atau istilah yan dipilih oleh kawan-kawan panitia; memperteguh— identitas bangsa. Demikian yang saya pahami dari sebuah obrolan dengan salah seorang konseptor tema Simposium di Mesir. Dengan begitu pula saya bisa menyimpulkan bahwa Simposium kali ini memprioritaskan pembentukan ide dan sepakat ia lebih nyata ketimbang masalah-masalah nasional yang tidak kunjung usai.

Hanya saja poin terkait “memperteguh identitas bangsa” yang berarti identitas kita masih tidak cukup meyakinkan, saya perlu mempertanyakan seberapa tidak yakin terhadap kejelasan identitas bangsa ini. Sepakat dengan Mahfud MD dalam penyampaian materi bidang politiknya di hari pertama, saya kira identitas bangsa ini adalah keragamannya. Yang sulit adalah mempersatukan tidak hanya secara formal, tapi juga kultural. Meski bisa jadi itu pula yang menjadi identitas kita. Banyaknya pola berbudaya bukan berarti tidak punya identitas sama sekali.

Sudah sejak lama saya ingin amenyampaikan krenteg hati saya tentang jalannya Simposium Internasional di Mesir, bahkan sampai kejar-kejaran dengan komunitas yang  saya ingin jadikan perantara untuk menyampaikannya. Saya sungguhan mau menulis atau tidak? Saya juga bertanya-tanya sendiri. Entah apa yang saya tunggu. Keajaiban? Agar saya dapat inspirasi untuk menulis. Tidak begitu juga, bisa-bisa saya berpikir yang tidak-tidak agar sesuatu terjadi dan saya baru bisa menulis. Saya agak menyimpulkan bahwa bersama dengan ramainya Simposium Internasional di tengah-tengah Masisir, muncul-muncul juga ide-ide yang tidak cemerlang, atau setidaknya kurang cemerlang. Bagi Plato mungkin itu tidak masalah selama masih dalam alam pikiran, itulah bentuk paling nyata yang bisa manusia interpretasi. Apa saya mengatakan bahwa Simposium kurang cemerlang? Wah, mana berani saya mengata-ngatai agenda PPI Dunia yang luar biasa penting itu. Tapi saya sungguhan tidak dapat ide yang setidaknya bagi saya sendiri menarik untuk dihubung-hubungkan dengan Simposium di Mesir ini. Ya sudah, begitulah. Terselenggara dengan standar semesta yang paling menengah. Ya, begitu saja. Kalau terlaksana dalam wujud paling meriah selama ini, ya wajar saja dengan jumlah Masisir yang ribuan.

Saya memang tidak tahu-menahu perjalanan pelaksanaan Simposium Internasional oleh PPI Dunia selama ini, apa mendesaknya? Mungkin pada satu titik tertentu, mahasiswa-mahasiswa yang tersebar di seluruh dunia perlu bertemu agar ide-idenya terlaksana dan rencana mulianya dapat memajukan bangsa. Betapa luhurnya, Indonesia tidak akan menyesal mengirimkan anak-anaknya belajar di luar sana. Aih, betapa klisenya kalau itu-itu saja yang memenuhi kepala kita. Plato bisa-bisa menyesal menciptakan Theory of Forms/Ideas dan membedah kepalanya mencari tahu secara langsung karena ide-ide ternyata sia-sia saja. Seperti mendengar ceramah, tentu kita mencari dengar yang menarik, yang berbeda agar tidak terkantuk-kantuk.

Lalu pada akhirnya, apa hasil dari ekspektasi oleh masing-masing kita terhadap jalannya Simposium Internasional di Mesir? Saya rasa saya tidak perlu mempertanyakan hal yang sia-sia semacam apakah Simposium memberi pengaruh besar untuk Masisir, bagaimana relevansi jalannya Simposium dengan dinamika Masisir, Masisir—yang tidak seeksklusif para panitia—dapat apa dari Simposium. Tentu hasil dari ekspektasi itu disimpan masing-masing dalam bentuk yang paling abstrak, yang paling nyata bagi masing-masing kita. Boleh saja merayakan sesuatu yang luar biasa besar dan luar biasa penting, sejenak narsis menjadi bagian dari sebuah sejarah. Asal tidak melupakan berdiskusi, berkomunitas dan tidak berhenti pada hal-hal besar yang terjadi sekali-sekali saja. Hal-hal kecil yang bersifat komitmen seringkali jadi membosankan saat merasa kesulitan dalam perjalanannya. Apa kita melalui jalan yang berbeda? Tidak perlu dijawab.[]

Fadhilah Rizqi

Seorang Perenung

Comments

comments

Lihat Juga

Perbedaan dalam Beragama: Sebuah Cara Memaknai dan Menyikapi

Perbedaan adalah sebuah keniscayaan. Seringkali sebuah perbedaan menimbulkan percekcokan, permusuhan, bahkan pertumpahan darah. Padahal Allah …