Home / INTERMEZZONE / SURAT UNTUK IBU I

SURAT UNTUK IBU I

Ketika mau menulis surat ini, aku tak tahu huruf apa yang pertama akan kugunakan, rasa-rasanya semua huruf tak akan pernah bisa mewakili kangen yang sejauh ini mendekam di balik kedalaman diriku. Tentang; misalnya apakah pantas cuma membayangkan wajah Ibu saja ketika Ibu berada jauh dari jangkauku, atau menulis puisi untuk apapun yang selaras dengan hal-hal yang berkaitan denganmu.

Surat ini kutulis karena semesta sudah mulai menebar kepengecutan, membuat kemanusiaanku memaksa untuk menyeru Ibu. Tak ada alasan lebih yang melandasi hasrat untuk menjadi ada. Eksistensi yang dibangun dari tenggang rasa, bukan dari perasaan yang perkasa.

Ibu, aku selalu gagal mengukur sejauh mana kangenku padamu. Sejauh pengembaraan Nabi Isa-kah? Ketika huruf-huruf yang kususun demikian rupa ini akhirnya tak layak menjadi representasi jawaban, aku selalu perlu minta bantuan airmata untuk menjelaskannya.

Ibu, pertama aku ingin menyampaikan bahwa anakmu di sini dalam keadaan sehat wal afiat, sebagaimana yang Ibu harapkan. Kedua, sebagaimana yang Ibu ajarkan dulu, aku senantiasa berupaya memperjuangkan keyakinanku. Yaitu menegakkan cinta yang Ibu wariskan saat suara pertama merasuki telingaku.

Tak terasa sudah kulalui dua hari raya jauh dari tempat dimana Ibu kini mukim, Ibu. Bukan kangen ini sebetulnya yang membuatku selalu merasa sedih. Justru derita ini muncul setiap kali aku merasa cemas kalau tak sanggup menjaga amanat yang dulu Ibu berikan. Ibu tentu ingat, amanat itu adalah Cinta. Ibu perlu menasehatiku berulangkali agar aku tak lupa. Agar aku menjaga sebaik-baiknya cinta itu. Aku jadi tahu justru setelah aku berada di benua yang beda dengan Ibu. Karena itu, aku tak punya keberanian sama sekali untuk melukai perasaannya perempuan, meski selalu kutemukan bahwa kedalaman cinta selalu terletak pada kemurungannya.

Melihat wajah Ibu di dalam potret selalu mengingatkanku pada kata-kata yang telah lama kulupakan: ” Tetaplah tersenyum, Ibu. Agar selalu ada sesuatu yang dapat kuperjuangkan”.

Tapi dengan itu justru memperpanjang deritaku; kangen yang lumer dari manik mataku yang kuyup. Alangkah genting ternyata berjarak denganmu, Ibu. Tapi dengan itu pula aku dapat menemukan kekuatan lain untuk dapat melampaui hidup tak sekadar hidup.

Jauh dari Ibu membuatku mengerti akan kalimat Imam Syafi’i: Air yang diam akan keruh, air yang mengalir akan jernih. Singa yang hanya meringkuk dalam kurungan tak akan bisa dapat mangsa, singa harus keluar dari sarangnya untuk mendapatkan mangsa. Angin mesti selalu bergerak agar dapat memberi manfaat kepada Liyan.

Hanya dengan pisah rumpun bambu dapat menjelma sebagai seruling. Aku tahu itu, Ibu. Aku tahu bahwa airmata bukan merupakan sesuatu yang cengeng, tapi airmata mengada sebagai konsekuensi kangen. Penegasan sebuah perasaan. Airmata kadang-kadang menjadi berguna untuk menjelaskan bahwa kangen sudah mencapai puncak, karena setiap tetesnya adalah doa.

Setiap kali kubisikkan namamu dalam sujudku, aku berharap gemanya terdengar di langit, setiap kali aku memuja langit, aku mendamba belas-kasih turun dan mengacu terhadapmu. Jika aku menangis, kaulah yang akan meneteskan airmata, kalau aku sedang sedih, kaulah yang akan kesakitan.

Tak akan, Ibu. Tak akan pernah aku punya daya untuk membuatmu menangis, kecuali aku punya keberanian untuk membuat Tuhan naik pitam terhadap kehidupanku. Sebab jika Ibu menangis karenaku, para Malaikat akan menjadi butiran-butiran airmatamu. Dan cahaya yang memancar dari airmatamu akan membuat para Malaikat silau dan marah terhadapku. Dan kemarahan malaikat adalah kemarahan suci sehingga Tuhan tidak melarang mereka manakala menutup pintu sorga bagiku.

Mungkin anakmu ini terlalu dalam melukisi fantasi sehingga selalu sempoyongan memijakkan kaki secara utuh di atas amanatmu. Mungkin anakmu ini terlalu peduli terhadap kekecewaan atas dunia yang berlangsung tidak seperti apa yang dikehendakinya.

Ibu, bendunglah mulut anakmu ini yang terlalu banyak jual kata-kata yang tidak terdapat pada kebiasaan bahasa Ibu sendiri dan semua tetangga kita di desa. Ibu, inilah anakmu yang sejauh hari ini belum lebih berhasil dari sekadar membangun beberapa tumpuk keangkuhan berpikir.

Ibu, bagaimana aku harus menterjemahkan cinta dalam skala yang kau kehendaki? Ajaran tentang cinta kadang justru datang dari masa silam. Hadir dari kedalaman sukmamu. Itulah mungkin yang menjadi penyebab mengapa aku menulis puisi, sebab hanya dengannya aku dapat menemukan kedekatan makna hidup.

Semoga Ibu merasakan denyut kata-kata dalam surat ini. Dan jika surat ini mengandung kangen baru, semoga ia menjadi ketegaran. Sebab, bagaimana pun, anakmu ini belum juga sembuh dari kenakalannya.

Kutulis surat ini dengan hanya menggunakan hape nokia 200, telpon seluler jadul warna putih yang dulu Ibu belikan untukku. Kutulis surat ini di kamarku yang berantakan. Maaf, Ibu. Aku belum bisa merapikan kamarku.

Usman Arrumy
Bawabat. Mesir. Malam Hari Raya 2014

*Gambar diambil via fitrihadi.com

Comments

comments

Lihat Juga

Music, just do it!

Comments comments