Home / Agenda Acara / Tamasya Pencegah Bunuh Diri
Foto: Dokumentasi Rihlah Hurghada-Luxor KSW 2017.

Tamasya Pencegah Bunuh Diri

Manusia berjalan dengan memanggul kenangannya dan gerbong bus memanggul manusia berikut kenangannya.        

Kalian tiba di peristirahatan kurang lebih pada pukul lima pagi. Saat ufuk fajar mengambang dan waktu subuh telah tiba. Udara belum naik dan panas seperti biasanya. Itu adalah Asyut-Syuhan, daerah perbatasan sebelum bertolak menuju Luxor, tujuan awal kalian. Berlintasan lalu-lalang penduduk pribumi yang kebetulan singgah sebentar. Entah hanya sekedar mengambil napas, melemaskan otot yang menegang, mengisap sebatang rokok atau mengisi bensin untuk kendaraan masing-masing.

 “Itu warnanya kok beda, kenapa sih ?” salah satu dari kalian bertanya padamu. Kau menjawab sambil lalu, “ itu adalah ekspresi orang-orang ketika ingin berkesenian”.

Beberapa pribumi melakukan unjuk kebolehan dengan melepaskan air seni pada tembok luar dari bangunan peristirahatan tersebut, seperti yang kalian lihat. Di beberapa bagian, warna tembok lebih terang dari yang lain. Berdampingan dengan padang luas berisi pasir gersang. Sungguh pagi yang amboi. Apalagi kalau ada yang berak tidak jauh dari tempat kalian nongkrong.

Barangkali suasana memang sengaja menempatkan indra penglihatan untuk tidak digunakan semestinya. Setelah sarapan dan menempuh perjalanan sepermainan sepakbola, tidak ada jalinan pemandangan yang elok dan sedap. Hanya monokrom dan monoton.

Kau tahu, teman terbaik hanyalah mendengar suara lengkingan fals bernada wagu ditemani gitar dan darbuka. Mungkin karena haus dan kepanasan dan pegal, diselingi aktivitas galer (garuk leher) jadi lebih enak.

 “Kernehku endi bro ?” kata Zuhdan dan Subarkah padamu.

“Nyoh…”

5 menit kemudian

“Bukan yang ini, yang lain yang bernama tuuuut” kata Subarkah.

“Ini bukan ?”  

“Nah… “

Keduanya terlepas dari kelompok. Sehabis kau dan rombongan memegang tiket dan masuk dan menikmati kuil Hatshepsut. Mereka kehabisan tiket. Padahal mereka termasuk yang paling awal registrasi. Seolah anjing terpanggang ekornya, merongseng kedua mulut temanmu kepada petugas tiket.

“Foto di kernehnya beda dengan wajahmu asli, koe ngapusi yah ?” petugas menginterogasi dengan nada ketus kepada temanmu, Subarkah.

“Enak aja, iki nggonku pak”

“Yo wes tak tes. Nek pancen koe sing nduwe kerneh iki, koe berarti azhari. Moco Yasin coba…”

 “Yasiin… wal qur’anil kareem…”

Ada hening yang panjang di antara keduanya.

“Tak omongke karo Grand Syeikh sampeyan pak !!! ” kata Subarkah sambil menekuk wajah kepada petugas. Pemuda jatmika yang akrab disapa hanya dengan dua huruf awal itu, memang sedari awal memiliki kontur permukaan wajah menekuk dari sananya. Alami dan tidak dibuat-buat.

Di kota itu, kalian menemui kuil dan masjid dan makam dan kuil dan masjid dan makam dan keramaian. Lebih ringkasnya di mana ada bangunan, di situ ada keramaian. Seperti halnya Uwais al-Qorny dan kesetiaan terhadap ibunya, Al-Azhar dan moderat, Daenerys dan naga, Pepsi dan soda, Mahfud Washim dan Amandaku dsb. Ada hal-ihwal yang identik dan sulit dibelah, untuk mengatakan tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Kau dan kepalamu saling berdebat, siapa yang paling layak disebut namanya tiap kali matahari hendak surup ? Petang, sore, dan senja saling baku pukul memperebutkan waktu. Begitu sebuah kalimat dari buku yang kau baca. Lagi pula senja atau sore atau petang itu nonsens dan orang yang percaya bahwa ada makna lebih di balik langit berwarna saus tomat itu pastilah punya masalah gawat di otaknya. Kau meyakinkan diri sendiri seperti kalimat pada buku lain yang kau catat di gawai. Malam jatuh saat kau dan rombongan tiba di penginapan.

Hari kedua menuju ke Hurghada

Rombongan bus meluncur menuju Hurghada bebarengan panas yang asoi. Udara kering merembes dan meresap bersamaan dengan rasa ngantuk. Kau melihat di sekeliling, sibuk mengecek pesan di ponsel dan telponan dan mendengarkan musik dan bermain fidget spinner.

30 menit menjelang sampai penginapan, kau menyiapkan mental untuk melahap semua wahana yang ditawarkan. Ternyata hanya boleh memilih satu dari dua pilihan. Maka paket atv adalah opsi yang paling aman dan masuk akal selain bermain air. Apa boleh bikin! Berenang hanya membuatmu tenggelam.

Selang beberapa jam kau dan rombongan tampak mempraktekkan ulang adegan Mad Max : Fury Road. Menaiki mobil rombengan dan maju ke medan tempur di padang pasir, menghalau musuh-musuh. Sayangnya tidak ada teriakan yang menggelegar bersama, di atas rentet dentuman menuju tanah yang terjanjikan. Valhalla !!!

Di paruh akhir waktu, giliran sirkus atau festival atau apalah itu namanya tampil di atas panggung. Berkelip di benakmu, ide untuk membuka youtube dan mengetikkan “duo serigala” dan “pak tarno” pada kolom pencarian dan menontonnya. Lebih mantap lagi putar ulang berkali-kali, ketimbang harus mendapat hukuman melihat dua penampil yang hits namun kitsch.

Berusaha kelewat keras untuk menghibur dan mengubur ke dalam lubang kesenangan malah membuatmu semakin yakin hal itu membosankan.

Tarian sufi menjadi sajian pamungkas. Kau tahu kenapa hidangan penutup menjadi hidangan penutup, mungkin dialasdasari daya tarik yang legit dan tingkat kesulitannya satu level lebih tinggi. Kau mencermati dengan seksama, menggumamkan sesuatu, dan menyimpulkan secara serampangan bahwa kaki kanan adalah nyawa dan poros utama dari keberhasilan gerakan itu.

Pagi di Hurghada adalah pagi yang membuat Toni berkata, “ayo buktikan wahai saudara-saudara, bumi itu datar atau bulat ? ”

“Datar bosss…. ,” Ilham menimpali.”

“Yakin yoh ! sak kelompok ngene iki pasukan bumi bulat kecuali koe ham…” tambah Toni prengas prenges.

“Bajigur.” Kau merongseng sekaligus tertawa seadanya.

Kalian saling berlemparan cakap sebelum bersiap untuk berenang dan snorkling. Semalam kalian sepakat membagi menjadi dua kloter dengan jumlah yang timpang. Menyisakan 17 orang yang selanjutnya diangkut melalui kapal kecil.

Kau menjadi salah satu dari 17 yang diangkut. Menaiki kapal melalui buritan dan mendaki tangga menuju geladak atas. Diikuti beberapa penduduk pribumi.

Selang beberapa menit kemudian nahkoda duduk di depan kemudi,meloloskan rokok mengisapnya dan menjentikkan putungnya. Kapal siap berlayar.

Seharian kalian memotret dan merekam dan berpose dengan saudara jauh Song Hye-kyo. Sampai daya tahan baterai kering. Bermain air dan mengapung jauh dari karang dan terpanggang matahari. Sampai daya tahan tubuh kering.

Itu adalah tiga hari yang menyenangkan. Tetapi bagian terbaiknya, menurutmu, adalah memandangi lautan lepas dari dek atas. Burung-burung terbang tinggi-rendah di atasnya, diguyur semilir angin dari kiri-kanan. Kapal melaju perlahan. Sembari pejamkan mata, kau mencoba mengingat aib-aib dan kelucuan dan risakan dan utang pembayaran selama perjalanan.

Kau mengucek mata dan melihat daratan. Setelah sadar dan terjaga kau berharap punya kesempatan untuk menjalani kehidupan di kota lain dengan sedikit lebih waras. (El)

Comments

comments

Lihat Juga

KSW Sukses Adakan Tumpengan di HUT Kemerdekaan RI 72

Kairo, kswmesir.org – KSW Mesir sebagai kekeluargaan yang menaungi warga Indonesia khususnya Jawa Tengah dan …