Home / Masisir / SEPUTAR MASISIR / Teks Pidato Presiden PPMI di Depan Duta Besar

Teks Pidato Presiden PPMI di Depan Duta Besar

teks

Kairo, kswmesir.org (28/7) – Hari ini, Selasa, 28 Juli 2015, Masisir akan datang kembali ke KBRI, guna menuntut janji pihak KBRI, yang mengatakan bahwa mahasiswa dipersilahkan untuk bertemu duta besar Indonesia untuk Mesir, Komisaris Jendral Polisi (Purn) Drs. Nurfaizi Suwandi. Pertemuan yang direncanakan akan dimulai pada pukul 11.00 ini bertujuan menyampaikan tuntutan yang sama seperti dua hari lalu. Yaitu, menuntut kepala atase pendidikan, Dr. Fahmy Lukman, M.Hum., untuk mundur dari jabatannya, karena dianggap tidak memiliki kapabilitas untuk menduduki jabatan tersebut.

Sebagai simbol dari masyarakat Masisir secara keseluruhan, presiden PPMI, Agususanto Chairul Anwar, akan membacakan tuntutan di depan Dubes, serta menyampaikan alasan mengapa mahasiswa sampai mengadakan aksi penuntutan.

Berikut teks pidato penuntutan yang akan dibacakan Agususanto.

Bismillahirrahamnirrahim

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Kepada yang terhormat,

Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Indonesia untuk Mesir Bapak Komisari Jendral Polisi (Purn) Drs. Nurfaizi Suwandi beserta seluruh staff Kedutaan Besar Republik Indonesia.

Sahabat-sahabat seperjuangan perwakilan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia di Mesir yang kami banggakan.

Salam Mahasiswa !!

Untaian puji dan syukur marilah kita panjatkan kepada Allah Swt. yang telah memberikan kita kesempatan untuk bersilaturahmi bersama dalam upaya membangun kebersamaan dan keterbukaan antar sesama generasi-generasi bangsa, di tempat dan  juga waktu yang sangat bersejarah ini. Shalawat beserta salam marilah kita sampaikan kepada Baginda besar Nabi Muhammad Saw.

Dalam kesempatan yang bersejarah ini, perkenankanlah kami dari perwakilan Mahasiswa dan pelajar Indonesia di Mesir menghadap dan bertatap muka dengan yang terhormat Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Mesir Bapak Komisaris Jendral (Purn) Drs. Nurfaizi Suwandi beserta staffnya dari Jajaran KBRI Kairo, untuk menyampaikan aspirasi sahabat-sahabati, Pelajar dan Mahasiswa Indonesia di Mesir terkait beberapa hal yang sekiranya dapat dipertimbangkan oleh yang terhormat Bapak Duta Besar RI di Kairo, dalam upaya mencari titik temu atas tuntutan seluruh elemen Pelajar dan Mahasiswa Indonesia di Mesir terhadap perwakilan RI di Kairo.

Yang terhormat Bapak Duta Besar, dengan sepenuh hati dan kesadaran, pertama, kami menyampaikan salam dan apresiasi yang setinggi-tingginya dari segenap Pelajar dan Mahasiswa Indonesia di Mesir, kepada seluruh Jajaran Kedutaan Besar Republik Indonesia di Mesir atas segala kerja keras yang telah  Bapak dan Staff  KBRI usahakan dalam memenuhi semua kebutuhan yang kami perlukan selama kami tinggal dan hidup di Mesir ini. Tentu, kami tidak bisa menafikan semua usaha dan kerja keras Bapak  dalam memfasilitasi dan melindungi kami di sini, entah dalam hal administrastif, pun dalam hal yang kaitannya dengan dinamika kemahasiswaan. Semoga Allah Swt. menjaga dan melindungi Bapak  beserta keluarga dalam perlindungan dan penjagaanNya yang paling mapan.

Yang terhormat Bapak Duta Besar,  kami perlu sampaikan, bahwa dalam perjalanan dinamika Pelajar dan Mahasiswa Indonesia di Mesir selama ini, telah banyak capaian-capaian yang telah kami lakukan dalam membangun tradisi kebersamaan di kalangan masyarakat dan mahasiswa Indonesia di Mesir. Perlu yang terhormat Bapak Duta Besar ketahui, bahwa Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Mesir selain mempunyai badan eksekutif kemahasiswaan, pun mempunyai Badan Legislatif kemahasiswaan yang berwenang untuk membuat Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga organisasi yang kemudian dijadikan ‘payung’ pergerakan Masisir selama ini. AD/ART ini merupakan hasil dari sebuah  ‘kearifan’ bersama yang disepakati oleh seluruh elemen kemahasiswaan di Masisir dalam beberapa tahun belakangan ini. ‘Kearifan’ bersama inilah yang sampai sekarang  telah menjaga persatuan dan kesatuan Mahasiswa Indonesia di Mesir beserta pola pergerakannya, entah dari sisi keilmuan atau kehidupan sosialnya.

Yang terhormat Bapak Duta Besar, tidak ada yang kami harapkan selama ini  sebagai Pelajar dan Mahasiswa Indonesia di Mesir selain kebersamaan dan kerukunan dalam berdinamika di Mesir ini, entah kebersamaan antar kami sebagai entitas kemahasiswaan, pun antar mahasiswa kepada para perwakilan pemerintah Indonesia di sini. Karena kami yakin bahwa kerukunan dan kebersamaan adalah pondasi awal berdirinya komunitas yang beradab, sehingga tercipta peradaban yang kondusif dan harmonis. Itulah mengapa kemudian para pendahulu kami merancang aturan main yang sedemikian rupa, sehingga terciptalah keteraturan dan stabilitas nilai yang kita rasakan bersama sampai saat ini.

Yang terhormat Bapak Duta Besar, dalam kesempatan yang bersejarah ini, izinkan kami  untuk menyampaikan aspirasi sahabat-sahabati Mahasiswa dan Pelajar Indonesia di Mesir berkenaan dengan hal-hal yang  dalam beberapa hari ini menjadi polemik dan kegundahan yang berkembang diantara kami.  Sehingga pun, ketika aksi damai ini kami lakukan, hal ini merupakan akumulasi kegundahan dan kekecewaan kami terhadap  apa yang kami dan Masisir rasakan selama ini.

Yang terhormat Bapak Duta Besar, pada hari minggu 26 Juli 2015  kemarin, kami telah melayangkan surat petisi  kepada Kedutaan Besar Republik Indonesia di Mesir yang di tanda tangani oleh  17 ketua organisasi kedaerahan di  Masisir, 4 Dewan Perwakilan Daerah (DPD) PPMI dan juga Wihdah PPMI. Isi dari petisi ini berupa permohonan kami kepada pihak-pihak terkait untuk dapat mempertimbangankan beberapa kebijakan yang kami rasa memberatkan kami, serta permohonan  untuk memakzulkan dan mengganti Atase Pendidikan KBRI Kairo Bapak Dr. Fahmi Lukman, M.Hum., yang kami rasa  sikap dan kebijakannya selama ini  cendrung tidak sejalan dengan cita-cita kebersamaan kami.

Yang terhormat Bapak Duta Besar, rangkaian aksi damai ini bukanlah tanpa alasan dan landasan. Pergerakan ini pun tidak kami lakukan tanpa pertimbangan dan prasangka-prasangka yang tidak mendasar. Ini semua kami lakukan untuk kebaikan dan kerukunan bersama. Walau terlihat ada pergerakan massif dari sahabat-sahabati Mahasiswa, namun kami bisa yakinkan kepada Bapak, bahwa gerakan ini adalah aksi damai yang tidak bermaksud apapun selain kebaikan.

Yang terhormat Bapak Duta Besar, izinkan kami untuk menyampaikan landasan kami melayangkan surat petisi pemakzulan Atase Pendidikan  KBRI Kairo dengan beberapa catatan-catatan:

  1. Kami merasa bahwa dalam beberapa tahun menjabat sebagai Atase Pendidikan KBRI Kairo, Bapak Dr. Fahmi Lukman, M.Hum. belum ada sebuah rancangan kongkrit dalam upaya pemberdayaan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia yang ada di Mesir. Ini terlihat jelas ketika kami membandingkan dengan Atase pendidikan sebelumnya yang mempunyai rancangan kongkrit terkait laju pemberdayaan Mahasiswa Indonesia di Mesir, yaitu semisal pemberdayaan peran Senat Mahasiswa sebagai poros keilmuan dan akademik Mahasiswa. Kami juga melihat bahwa Atase Pendidikan sebelumnya ‘rela’ menggelontorkan dana yang cukup besar untuk sekedar mengundang para Guru-guru Besar al-Azhar agar dapat bisa hadir dalam Bimbingan-bimbingan yang dilakukan oleh beberapa Senat mahasiswa. Walau kami akui masih ada saja kekurangan, namun, kami bisa merasakan aura dinamika keilmuan yang terkesan lebih besar di lingkungan Masisir saat itu. Pun dalam hal memperjuangkan beasiswa pendidikan kepada pemerintah pusat. Atase Pendidikan terdahulu bahkan rela untuk langsung datang ke kementrian Agama untuk meminta beasiswa pendidikan bagi Pelajar dan Mahasiswa Indonesia di Mesir.

Hal semacam inilah belum kami lihat dari Atase Pendidikan saat ini. Bahkan kami merasa, Atdik saat ini terkesan membatasi  gerak dan upaya kami untuk menghidupkan nuansa keilmuan di Masisir ini. Beberapa fakta yang dapat kami sampaikan adalah:

  1. Atdik tidak mendukung gagasan mahasiswa yang akan mengadakan riset lapangan, malah mematahkan semangat mereka dengan mengatakan “Riset itu belum terlalu penting dan sulit untuk dilakukan” padahal menurut kami kebutuhan untuk mengetahui teori riset merupakan hal yang sudah sangat penting.
  2. Atdik secara sepihak mengatakan bahwa tradisi tulis-menulis di Masisir dan kajian ekonomi Islam yang sudah dilakukan oleh salah satu organisasi di Masisir belum bermutu, karena belum memenuhi standar-standar ilmiah yang ditetapkan. Dalam hal ini,  kami mengakui semua kekurangan yang kami miliki, namun ketika opini ini diungkapkan tanpa sebuah kajian dan tabayun terlebih dahulu, ini justru telah  mematahkan semangat sahabat-sahabati Masisir dalam upayanya belajar dan melangkah lebih baik.
  3. Atdik terkesan lebih mengedepankan kerjasama dengan Universitas di Indonesia seperti UNPAD dan universitas lainnya, tetapi lambat dan bahkan tidak mengurusi kepentingan beasiswa pendidikan pelajar dan mahasiswa Indonesia di Mesir yang kebijakannya berada di Indonesia, seperti beasiswa LPDP dan BAZNAS.
  4. Atdik pernah menolak proposal bedah tesis dan disertasi M. Zakir Husain, MA. dan Dr. Widus Sempo di Baruga KKS yang dilaksanakan oleh Senat Mahsiswa Fakultas Ushuluddin. Jika pun kemudian  beliau bersikap kooperatif dalam masalah proposal, itu terealisasi berkat adanya tekanan dari mahasiswa setelah diadakannya “Kenduri Masisir Jilid I”. Itu berarti kami merasa bahwa Atdik tidak memiliki semangat kerjasama secara alamiah dengan pelajar dan mahasiswa, tetapi kerjasama itu datang biasanya setelah ada tekanan-tekanan dari mahasiswa.
  5. Banyaknya organisasi di wilayah PPMI Mesir yang sudah tidak mau berhubungan dengan Atdik Kairo lagi, karena merasa bahwa usulan atau program yang akan disampaikan pasti akan dimentahkan. Hal ini menyebabkan beberapa organisasi mahasiswa sudah enggan mengajukan proposal apapun kepada Atase Pendidikan.
  1. Atdik minim solusi dan cendrung apriori, lambat serta skeptis dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapai oleh Pelajar dan Mahasiswa Indonesia di Mesir. Hal ini semisal terbengkalainya para calon pelajar dan mahasiswa yang terlanjur sudah berada di Mesir tanpa mengikuti prosedural ujian masuk al-Azhar di Indonesia, serta salah satu kasus yang dialami Saudara Haromain yang berasal dari lombok (KMNTB) dan beberapa orang lainnya, yang sejak tahun 2011 sampai saat ini belum terdaftar di al-Azhar, padahal mereka adalah peraih beasiswa al-Azhar melalui Kementrian Agama Indonesia.
  2. Atdik enggan untuk turun langsung ke lapangan dalam menghadapi permasalahan Pelajar dan Mahasisa Indonesia di Mesir. Hal ini semisal terbengkalainya para pelajar baru yang telah mengikuti test masuk di Markaz Syaikh Zaid, namun mengalami masalah disebabkan nama-nama mereka malahan tidak terdaftar di lembaga tersebut. Dalam hal ini Atdik enggan untuk turun langsung menyelesaikannya, Justru PPMI yang malah kerepotan untuk mengurusi hal tersebut, padahal PPMI sendiri tidak memiliki otoritas seperti yang dimiliki oleh Atase Pendidikan.
  3. Atdik cenderung hanya mengumbar janji tanpa merealisasikan apa yang dijanjikan. Contoh masalah adalah ketika Atdik berjanji untuk lebih memberdayakan para alumni Mesir di Indonesia melalui pemerintah daerah, namun sampai saat ini belum ada realisasinya.
  4. Atdik dalam sebuah kesempatan pernah menanyakan hal yang tidak pantas kepada mahasiswa di depan umum dan di depan tamu dari Indonesia, padahal kami rasa seharusnya Atdik dapat lebih menjaga nama baik pelajar dan mahasiswa Indonesia di Mesir. Hal ini pernah terjadi ketika seorang mahasiswa ditanya di depan umum sebagai syarat mendapatkan sebuah buku dengan pertanyaan, “Apakah Anda pernah menonton film porno?”, “Apakah Anda pernah berbohong kepada orang tua?”. Hal itu ditanyakan dalam sebuah acara yang diadakan oleh Dompet Duafa Indonesia yang dihadiri oleh ratusan orang.
  5. Atdik telah merusak tatanan kebijakan organisasi pelajar dan mahasiswa Indonesia di Mesir yang sudah menjadi kesepakatan bersama antar organisasi di wilayah Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia di Mesir (PPMI), seperti permasalahan TEMUS (Tenaga Musim) haji yang rawan menyulut konflik sosial antar mahasiswa.

Yang terhormat Bapak Duta Besar, selain menyampaikan landasan kami melayangkan surat petisi pemakzulan Atdik, kami juga bermaksud menyampaikan sedikit kritik kami terhadap kebijakan fungsi kekonsuleran yang kami rasa memberatkan mahasiswa. Dibedakannya jadwal operasional konsuler dalam penyerahan dan pengambilan berkas kekonsuleran; legalisir ijazah, paspor, dll. dirasa memberatkan mahasiswa dan pelajar yang membutuhkan hal tersebut. Waktu penyerahan berkas yang terbatas sampai pukul 12:00 WK dan jam-jam selanjutnya hanya untuk pengambilan berkas, menjadikan proses legalisir dokumen terkesan tidak efektif. Padahal, rentangan durasi operasional kekonsuleran dalam satu hari pun tidak panjang. Hal ini kemudian menjadikan tidak efektifnya proses kekonsuleran yang dirasakan oleh kawan-kawan mahasiswa, karena perbedaan jadwal penyerahan dan pengambilan berkas yang mereka ajukan.

Yang terhormat Bapak Duta Besar, dengan semua hal yang telah kami sampaikan di atas, kami berharap Bapak bisa mempertimbangkan untuk dapat merekomendasikan pergantian Atase Pendidikan kepada pemerintah pusat, sebagai jawaban atas keresahan kami selama ini. Pun, terkait dengan beberapa kebijakan kekonsuleran yang bisa dipertimbangkan kembali dalam pelaksanannya. Kami akui, bahwa landasan kami  melayangkan surat pemakzulan Atdik tersebut, secara umum lebih banyak terkait dengan sikap dan kebijakan beliau yang kami rasa tidak tepat, dan bukan soal yang berkenaan dengan pelanggaran-pelanggaran hukum yang beliau lakukan. Namun, rasanya kami telah jenuh dan tidak percaya lagi dengan yang bersangkutan, dan sudah sangat sulit untuk membangun komunikasi yang elegan. Sehingga, harapan pergantian ini merupakan harga yang tidak bisa kami tawar.

Yang terhormat Bapak Duta Besar, adapun kesimpulan dari tuntutan yang kami sampaikan saat ini adalah:

  1. Pemakzulan Atase pendidikan KBRI kairo.
  2. Peninjauan ulang terhadap beberapa kebijakan KBRI yang berhubungan dengan proses ke-konsuleran.
  3. Peningkatan komunikasi antara pihak KBRI kepada masisir agar tercipta keseragaman persepsi dan pandangan terhadap semua isu dan aktivitas di lingkungan masisir.

Demikianlah apa yang bisa kami sampaikan kepada Bapak. Semoga menjadi perhatian.

Wassalamualikum Warahmatullah Wabarakatuh.

Comments

comments

Lihat Juga

Modus Lama Pencurian Kembali Terjadi di KSW

Kairo, kswmesir.org – Kasus pencurian kembali menggemparkan Masisir. Kali ini terjadi di Sekretariat KSW Mesir …