Home / ؞ Opini / Ujian dan Mitos

Ujian dan Mitos

168745_194742027220014_6411687_n
Nashifuddin Lutfi

Setiap jengkal dari kehidupan manusia selalu berhadapan dengan ujian dan keyakinan. Terlebih, suasana susah payah mengiringi jalannya kehidupan manusia sebagai potret dialektik menjadi manusia dalam arti yang esensial. Dalam arti, bahwa spirit yang menggerakkan jiwa manusia ini, berupa hal yang abstrak dan ideologis. Bukan benda material yang menggiurkan dirinya untuk melangkah, bergerak untuk mendapatknya. Dalam keadaan ini, manusia berjalan di atas keinginannya untuk melewati segala ujian dan menjaga keyakinannya dari benturan kenyataan yang menghadang. Sampai beranjak pada status naik tingkat (derajat) melekat pada dirinya sebagai tahap keberhasilan paripurna atas pencapaian tingkat kesadaran kemanusiaannya  menjadi manusia seutuhnya dalam arti esensial: berguna untuk agama dan dunianya.

 Mula-mula dalam diri manusia terdiri dari idealitas dan realitas. Dua entitas yang berupaya hadir pada dunia manusia sebagai lambang dan simbol kekuasaan Dzat Yang Maha Esa dalam menciptakan makhluknya di dunia. Sehingga mempengaruhi daya mencipta bahasa untuk bisa berkomunikasi dan menerjemahkan relung terdalam dalam diri manusia: suara hati dan agama. Diikuti pula ukuran kebenaran menafsirkan tingkatan manusia yang paling mulia (kehormatan). Sehingga setiap dari manusia selalu mendapatkan ukuran pembenarannya masing-masing semasa menghadapi ujian bahwa kenyataan termahal dalam kehidupan manusia bukanlah memahami proses dan berproses, tapi mengambil hasil. Dan kenyataan tersebut menjadi legitimasi final untuk menilai ragamnya kepribadian manusia.

 BACA : Buletin Prestasi Edisi 102 “Komunikasi Dagelan”

Dari kenyataan ini, kembali memahami ujian sebagai sebuah proses adalah sebuah keharusan, agar esensialitas yang terberi dalam diri manusia mampu mengejawantah secara luruh kepribadian dan perwatakan dirinya. Sebagaimana dikisahkan dalam al-Qur’an tentang kemampuan yang ditunjukkan oleh Jin Ifrit dan seorang hamba saleh dalam memindahkan istana Bilqies bahwa kekuatan maha dasyat itu hanyalah sebuah ujian.[1] Bukan dipahami sebagai adu linuwih (adu tanding kesaktian). Sehingga bentuk apapun ujian itu datang, tetap menjaga kesadaran untuk bisa berterimakasih terhadap kenyataan dan kemampuan diri dalam beradaptasi. Tanpa mengikut sertakan makna proses dalam ujian sebagai tahapan dan keharusan, manusia, cenderung mengukur materialitas sebagai kemulian dan kehakikian.

 Tanpa harus berpanjang lebar kepada pijakan paling mendasar ruang eksitensial untuk menjelaskan bentuk berproses, di dalam film India Three Idiot[2] bisa menjadi jembatan penejermahan ulang dialektika belajar, motivoasi, proses dan hobi serta kehormatan. Dalam artian, bahwa di sana terdapat peristiwa yang mengekspresikan formalitas dan keberhasilan dalam belajar harus taat pada peraturan. Dan peraturan ini menjadi logika dasar dan alur untuk diikuti oleh seluruh mahasiswa. Akan tetapi ada satu mahasiwa mencoba kembali mengkritisi sistem pendidikan universitas tersebut.  Oleh karena penjermahan film tersebut sebagai kritik sosial dan pendidikan menjadi momen berarti dalam menjaga kemanusiaan dan kebebasannya, karena manusia bukanlah mesin. Nilai positif yang dibawa adalah film tersebut ingin berbicara kepada manusia agar menjaga nilai esensial menjadi manusia seutuhnya sebagai hal yang eksistensial. Bahwa ilmu bukan sekedar formalitas yang dihafalkan diluar kepala tapi juga harus menyesuaikan minat dan kecendrungan. Sehingga rasa nyaman dan ingatan bisa saling menguatkan satu sama lain. Maka ketika hal tersebut tidak berjalan sesuai prosedural sistem, martabat manusia harus didepak: dikeluarkan dari universitas. Seperti dalam film tersebut, surat perintah untuk keluar dari universitas tersebut juga dilakukan, sehingga sang murid rela untuk mengorbankan dirinya daripada mengikuti perintah rektor universitas. Disamping itu pula ada jaminan untuk tidak lulus dari ujian akhir. Akan tetapi, asiknya dalam film ini, hadirnya tiga tokoh yang sangat berbeda karakter dan kebiasaan. Serta hidup dari lingkungan yang berbeda pula, membawa pada suasana kontras dan lucu untuk dinikmati sebagai film dan bermanfaat untuk dinikmati sebagai refleksi. Selain persahabatan, struktur sosial dan dinamika universitas yang telah mapan diruntuhkan seketika, dengan gaya belajarnya Amir Khan (Rancho). Belajar itu tidak dengan menghafal saja, tapi juga harus memahami dan praktek setiap hari agar bisa selalu melekat setiap hari.

Realitas dalam film di sana, bisa menjadi penghubung untuk kenyataan ujian di setiap universitas di dunia. Seorang mahasiswa yang selalu mengendap kekhawatiran yang tinggi di saat mendekati waktu ujian semester. Ia akan selalu berusaha agar rasa kekhwatirannya bisa dikendalikan lebih baik, dengan belajar sungguh-sungguh ataupun dengan mendekatkan diri kepada Tuhan atau membaca banyak wirid. Sikap, rasa khawatir, membentuk ruang imajinasi kepada diri manusia untuk mengatakan bahwa ujian adalah hal yang sakral. Dari sini lah, ujian bermula membentuk ruang sakralitas sehingga menjadi mitos kehidupan bermasyarakat bahwa ujian adalah cara untuk menyandang segala kehormatan.

 Ruang sakral dan kehormatan yang telah menjadi kenyataan dalam ruang imajinasi manusia dan kebenaran di struktur sosial, tidak bisa dipungkiri bahwa itu adalah kenyataan ideal mahasiswa. Karena dengannya ia berhasil mendapatkan ijazah dan kelayakan status sosial di masyarakat. Maka perjuangan sampai darah titik penghabisan syarat mutlak yang harus diperoleh jika mahasiswa ingin hidup makmur. Pada sisi lain, ukuran tersebut mengendap dalam kesadaran manusia tidak diimbangi dengan kenyataan sekunder: tentang relasi sosial antar sesama manusia yang kompleks bahwa kebutuhan manusia bukan hanya ijazah dan dipandang hormat, tapi juga cara menghargai yang lainnya.

Cara menghargai di sini lah, mempunyai konteks dan kenyataan tersendiri bahwa perjalanan kehidupan manusia dipenuhi ragam dialektika kebenaran sebagai hal yang ideal. Kebenaran ideal yang disepakati dalam struktur masyarakat sosial secara bersamaan bermetamorfosa menjadi tradisi keberlanjutan. Hingga akar dari nalar tradisi lenyap dengan seiring pergantian kepentingan dan perpesktif manusia tentang kebutuhan hidupnya. Lenyapnya akar tradisi ini, perlu disadari bersama sebagai kemanusiaan yang terus harus dimaklumi bahwa ada medan yang berbeda dalam melihat manusia sebagai manusia, baik kelas, strata, agama, keyakinan dan kebudayaan. Maka menjadi penting, cara menghargai dalam bentuk apapun penting diejawantahkan dalam standar yang harus diraih dalam jiwa manusia untuk bersosial.

Oleh karena itu, merasakan dan menghormati kekurangan manusia lainnya, terutama mereka yang tidak pernah belajar di formal, tentunya, mempunyai ruang psikologi berbeda dan cara pandang berbeda dengan mahasiswa yang belajar di formal. Hingga standar kehormatan dan kepentingan yang diterapkan dalam kenyataan hidupnya juga berbeda. Karena pengetahuan yang ia dapati sejak di masa kecil hingga dirinya mampu membedakan kebenaran yang disepakati secara komunal berbeda. Berangkat dari sini, cara menghargai adalah bentuk mula-mula untuk menjaga martabat manusia agar tetap mulia. Manusia bukanlah mesin penghafal ataupun buku yang siap diisi dengan tinta-tinta beragam warna. Dengan dasar ini, semangat berjuang untuk memperoleh ilmu tidak akan pernah pupus oleh keadaan, tapi hanya pupus oleh waktu dan kematian. Maka tidak ada kata selesai dalam mencari ilmu, meski status dan gelar telah menjadi hak miliknya. Dan lahir-nya berbagai kepercayaan atas ekspersi kekhawatiran yang dihadapi oleh manusia, bukanlah keanehan, tapi sebagai bentuk kewajaran karena manusia bukanlah benda mati tapi juga mempunyai hati. Sehingga kembali pada Tuhan dan menjaga diri dengan belajar tekun sebagai bentuk proses yang wajib dijalani adalah keharusan yang tidak bisa dihindari dengan alasan apapun. Oleh sebab itu, tetaplah berproses dalam mencari ilmu sebagai pengetahuan dan laku adalah hal paling mendasar untuk manusia dalam rangka mengenal Tuhannya, sehingga Tuhan pun akan membimbing manusia menjalani kehidupannya di dunia. Tanpa semangat berproses, maka kegagalan akan seringkali nampak dan martabat manusia hanya sebanding dengan harga jabatan, ijazah dan formalitas, tidak lebih dan agama menjadi sampiran. Maka jangan membiarkan pragmatisasi membudaya dalam tradisi kemanusiaan era kontemporer. Selamat belajar sebagai kebutuhan untuk manusia seutuhnya!

Oleh : Nashifuddin Lutfi

[1] Qs. Al-Naml, ayat: 39-40

[2] Film ini diadopsi dari novel Five Point Someone dan disutradari oleh Vidhu Vinoc Chopra pada tahun 2009. Pada tahun 2014 kemarin berhasil menjadi nomanasi film terbaik asing di Jepang. Sehingga film ini, bagi penulis sangat menarik, selain dari ceritanya yang unik dan karena film ini mampu memberikan gambaran imajinatif tentang kekuatan belajar yang dimbangi dengan minat dan bakat sebagai bahan pendorong untuk menjaga fokus keilmuan sebagai diskursus.

Tentang admin

Lihat Juga

Simposium dan Ide-Ide yang Kurang Cemerlang

Seperti sedang menonton film Batman vs Superman; Dawn of Justice bagi para penggemar DC Comics, …