Home / Agenda Acara / Undangan Membaca Bersama KSW

Undangan Membaca Bersama KSW

Oleh: Muhammad Mirza Al-Mahfudz

Saya sering memperhatikan beberapa kawan saat berselancar di jejaring sosial. Ibu jari mereka tampak lincah menari di atas layar. Beberapa saat mata mereka berbinar, beberapa saat lain mereka tampak kesal. Lalu salah seorang dari mereka menghentikan aktivitas medsosnya, memasukkan gadget ke dalam saku celana dan mengumpat, “Internet berisi sampah berserakan!”

Timbul tenggelam emosi semacam itu mungkin sering dialami oleh sebagian besar warganet. Di mana-mana berita-berita dengan judul-judul click-bait dan provokatif bermunculan, padahal kebenarannya masih dipertanyakan. Berita-berita tersebut sudah jadi bahan perdebatan kusir oleh banyak orang, sedang beberapa yang lain hanya tertarik mengamati. Perdebatan ini, jika mau diamati lebih luas, tidak hanya sekadar menjadi hiburan, beberapa sudah dijadikan sebagai bahan bakar industri media. Ironisnya, harus diakui bahwa budaya mengambil kesempatan di dalam kesempitan ini sudah menjadi candu. Lebih parah lagi, beberapa orang yang katanya kalangan terpelajar juga masuk dalam lingkaran industri ini, baik sebagai produsen, distributor, atau hanya sebagai konsumen aktif-pasif.

Selain berita penuh tanda tanya, masih banyak konten-konten tidak penting lainnya seperti media-media gosip artis. Jujur, saya tidak menemukan apa manfaat mengetahui seorang aktris yang baru saja mengganti cat kukunya, warna baju favoritnya atau siapa yang sedang dekat dengannya. Entah karena berkiblat pada media-media luar negeri yang juga menjual “remah-remah” semacam ini ataukah karena alasan lain. Idealnya, sebagai salah satu negara dengan pengguna internet aktif terbanyak, sudah bukan zamannya lagi Indonesia menjadi trend followers. Sudah saatnya Indonesia menjadi trend setters melalui penguasaan media.

Caranya tentu ada banyak. Semua orang bisa meneguhkan identitas bangsanya melalui caranya masing-masing. Bisa memperkenalkan Indonesia kepada dunia melalui ragam kulinernya, budayanya, pembelajarannya atau tokoh-tokohnya. Anda bebas berekspresi. Sebagai mahasiswa yang belajar di luar negeri, tentu kita lebih dekat pada kemungkinan-kemungkinan tersebut. Segala laku yang kita perlihatkan akan dinilai sebagai ciri khas sebuah bangsa. Padahal jika belum mengenal Indonesia secara dalam, karakter keberagamannya tentu tidak akan bisa ditemui hanya pada satu individu saja. Maka sebagai salah satu dari ragam tersebut, KSW mencoba ikut andil.

Mulanya kami sadari betul, mayoritas pelajar Indonesia di Mesir termasuk kawan-kawan KSW adalah pengguna media sosial aktif, seperti facebook, instagram dan lain-lain. Menyedihkan jika sudah sejauh ini kita hanya menjadi konsumen, apalagi di internet. Kita hanya menerima, menelan lalu memuntahkannya lagi dalam bentuk yang seburuk-buruknya. Memang kalau mau jujur kita kekurangan asupan buku-buku bergizi. Setidaknya dengan bekal yang berkecukupan kita bisa berpikir jernih dan tidak mudah teralihkan oleh isu-isu tidak penting.

Sebagai seorang pelajar yang aktif menggunakan media sosial, membicarakan buku yang telah dibaca bukan merupakan hal asing. Tetapi anehnya, dengan jumlah teman yang cukup banyak dan bermacam-macam di facebook, saya masih jarang menemukan postingan-postingan yang sedikit banyak membincang buku-buku yang sudah mereka baca. Malah yang bertebar hanya cerita-cerita diri yang sebatas ruang narsistik khas fase anak remaja. Tanpa berniat menghakimi, mungkin memang semakin teknologi informasi menggenggam keseharian kita, semakin jauh kita dari ruh literasi. Wajar saja, tulisan-tulisan singkat yang bombastis (dalam artian provokatif atau tendesius) lebih diminati. Karena tulisan-tulisan semacam itu lebih mudah dan lebih cepat menyebar, serta pengaruhnya lebih kuat.

Beberapa situs serius yang tidak sekedar berkonten gosip dan berita-berita tak jelas memang ada, bahkan sudah jamak diketahui. Meski begitu, intensitas pembacaan dan pendalaman terhadap permasalahan masih sangat sedikit. Sederhana saja, diakui atau tidak, saat ini, tulisan-tulisan berkonten serius yang ditulis panjang memang makin sepi peminat. Seperti yang saya jelaskan sebelumnya. Hanya pada saat sangat dibutuhkanlah tulisan semacam itu dibaca. Bukan perihal konten sebetulnya, melainkan rasa malas yang muncul ketika baru saja melihat tulisan panjang tersebut.

Jika dibiarkan saja, maka kita akan sulit berkembang. Padahal nantinya, kitalah yang jadi output dan tolok ukur pelajar luar negeri. Ketimbang ikut ramai dan buang-buang tenaga kritik sana kritik sini, lebih baik kita budayakan lagi membaca buku. Lalu hasil pembacaan kita tuangkan ke dalam sebuah esai yang bisa kita bagikan di facebook bersama KSW Membaca, atau dalam sebuah status facebook yang berkaitan dengan buku. Setidaknya kita tidak memberikan sebuah opini yang lahir dari emosi.

Selanjutnya, bersamaan dengan tulisan ini, undangan membaca sekaligus berbagi bacaan melalui status facebook KSW Membaca untuk seluruh warga Jawa Tengah dan DIY resmi diluncurkan. Entah ingin dipublikasikan melalui media sosial milik pribadi, kemudian akan diunggah ulang oleh akun Ksw Membaca atau diunggah langsung melalui akun facebook Ksw Membaca. Jangan lupa berikan tagar #KSWMembaca #AyoMembaca #BudayakanMembaca.⁠⁠⁠⁠

Comments

comments

Lihat Juga

KSW Sukses Adakan Tumpengan di HUT Kemerdekaan RI 72

Kairo, kswmesir.org – KSW Mesir sebagai kekeluargaan yang menaungi warga Indonesia khususnya Jawa Tengah dan …