Home / INTERMEZZONE / Wajah-Wajah Mengantuk dan Kunjungan ke Ruang Insting Superhero Para Ibu-Ibu dalam Film*

Wajah-Wajah Mengantuk dan Kunjungan ke Ruang Insting Superhero Para Ibu-Ibu dalam Film*

Fadhilah R.

 

“You’re going to love it.” | “What?” | “The World.” —Joy Newsome, pada anaknya, Jack, sebelum menggulungnya dalam karpet.

 

Saya agak khawatir sebenarnya, melihat wajah-wajah kantuk itu terangkat setengah hati ke tv 42 inci yang tertempel sekitar semeter di atas mereka. Apalagi ketika saya sadar sebagian besar yang kawan-kawan SMW dapat dari film-fim itu adalah bagaimana cara membuat popcorn.  Aih. Paling-paling wajah datar mereka hanya berubah saat kecewa popcorn “manis” yang saya buat malah terasa pahit. Sial.

Semenjak Magnolia (1999), kelas film ini sudah membosankan. Alias sejak awal. Kesan-kesan memaksa yang bermunculan dari wajah-wajah bosan itu, jujur saja, hanya berkutat di adegan hujan kodok yang memang luar biasa absurd. Setidaknya Peter Travers, salah satu kritikus film di majalah Rolling Stone, berpendapat bahwa Anderson si sutradara berani mengambil resiko agar kita yakin film-film di masa mendatang punya harapan. Menurut beliau juga, film super rumit itu hampir mendekati sebuah keajaiban. Bicara soal keajaiban, saya pikir kawan-kawan menginginkan jenis keajaiban yang mudah dicerna. Bukannya jenis yang harus kita proses dulu semua detil dan informasi yang berserakkan dalam film, baru bisa menemukan kejaiaban. Terlalu melelahkan untuk mahasiswa yang sibuk bimbel dan kuliah.

Oleh karena itu, tiga film berikutnya—meski masih saya pilih secara acak dan sesuai mood—saya pilihkan yang paling mendekati kategori “ajaib” tanpa harus diinterpretasi sampai jungkir-balik dan membikin raut muka tak enak dilihat. Bagi saya, keajaiban yang paling dekat dengan daya khayal kita adalah mendambakan sesosok pahlawan super. Pahlawan dengan kekuatan supranatural menyelamatkan umat manusia, bahkan terkadang malah kita berharap sosok itu adalah kita. Padahal nilai moral yang disampaikan lewat film-film superhero adalah kita tidak mungkin menjadi pahlawan super. Bukan hanya karena tidak masuk akal, tapi lebih karena beban yang tidak mungkin ditanggung seorang manusia. Sehebat apapun kita, kita tetap tidak akan bisa menyelematkan semua orang. Spider-Man (2002) tidak bisa menyelamatkan paman Ben dan figuran yang meledak oleh bom Goblin, Batman tidak bisa menyelamatkan kota Gotham tanpa mengorbankan dirinya menjadi The Dark Knight (2008), Kick-Ass (2010) bahkan tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri.

Tapi film-film dengan jalinan plot klise dan seringkali kelewat komikal tentang pahlawan super tidak mungkin saya rekomendasikan lagi. Masa kecil kawan-kawan tentu sudah dipenuhi warna-warni romantisisme dan kepahlawanan yang tidak asing lagi (kecuali yang melalui masa kecil kurang bahagia, sudah jangan sedih, kebanyakan kita seperti itu).  Maka dari itu saya memilih Captain Fantastic (2016) sebagai film “superhero” pertama yang saya “kelas”-kan. Film yang memparodikan tema ke-superhero-an itu mengembalikan wajah-wajah kawan SMW ke awal mula saat mereka belum tahu menulis itu sulit. Sudah saya duga, drama khas “menginspirasi” dan menciptakan keajaiban adalah yang kawan-kawan butuhkan (atau juga inginkan). Hanya saja harus disajikan dalam bentuk yang berbeda dan tidak mainstream, agar ada hal baru yang dipelajari dari kelas film ini.

Bla bla bla, banyak sekali yang saya bicarakan hanya untuk jadi pembuka tulisan tentang ibu-ibu ini. Meski Captain Fantastic cukup relevan untuk dijadikan referensi pertama karena berhubungan dengan ikatan antara orangtua dan anak, hanya saja diwakili oleh kaum bapak. Masuk ke pertemuan ketiga, film ketiga, atas bantuan dan rekomendasi seorang kawan, kami memilih Room (2015). Wajah-wajah itu kembali mengantuk. Saya perhatikan, pada awalnya kawan-kawan cukup bersemangat mengikuti jalan cerita yang tidak biasa itu. Jack, si anak penghuni Room yang baru beranjak lima tahun berhasil menarik perhatian beberapa kawan-kawan perempuan, lau mereka mengeluarkan suara-suara aneh yang khas ketika gemas terhadap sesuatu yang dalam bahasa mereka “imut”. Entah hanya perasaan saya atau malah efek gabungan sound yang buruk dan kunyahan popocorn yang terlalu cepat.

Jack dan Joy dan Film yang Tak Selesai-Selesai

Saya sempat sekelebat menonton film Lenny Abrahamson yang lain, Frank (2014), sama dengan Room agaknya Lenny gemar menutupi sudut pandang penonton terhadap objek dalam filmnya. Dalam Frank hampir sepanjang film kita dibuat gemas dengan ekspresi wajah Michael Fassbender yang sesungguhnya dibalik topeng kepala besar Frank. Kita juga dibatasi oleh ruang yang dinamakan “room” oleh Joy untuk Jack, hampir separuh film kita dibuat gregetan bagaimana suasana di luar sana, padahal yang kita tahu-tahu saja seperti apa. Tapi kecanggihan sinematografi Lenny membuat kita tetap penasaran. Kedua film itu, terlepas dari bagaimana film-film lain buatannya, sama-sama memberi saya kesan “ada apa dengan orang itu?”. Kekuatan dalam penggambaran kondisi psikologis tokoh, terutama pada karakter Joy dalam Room, sangat menarik perhatian saya.

Mungkin kawan-kawan kadung mendalami bagaimana sebuah film seharusnya lewat Magnolia, jadi berekspektasi terhadap Room akan memberikan konflik yang lebih rumit tapi lebih mudah dicerna. Dengan awalan yang menjanjikan, entah kenapa saya yakin kawan-kawan berharap suspense yang disajikan akan sangat berderap khas film-film penculikan lainnya yang dibalut genre thriller, seperti Taken (2008) atau The Call (2013), atau yang agak klasik lagi Misery (1990). Saya semakin yakin ketika Joy berhasil mengeluarkan Jack dari “room” dengan suatu trik, desahan dan suara napas yang ditahan begitu kentara di udara yang penuh bau popcorn gosong waktu itu.

Tapi sayang sekali, Room adalah film drama. Sebenarnya tanda-tandanya sudah terlihat jelas sejak awal film, gaya mempertemukan plot dengan plot lain cukup lambat apalagi sering disampaikan lewat narasi monolog Jack yang secara makna tidak langsung memahamkan. Tentu dengan pengalaman terbatas, Jack hanya bisa bercerita lewat dunia yang sebatas ruangan tempat dirinya dan ibunya disekap selama tujuh tahun. Tapi derap suspense yang naik turun mungkin agak membingungkan untuk kawan-kawan yang menerka-nerka kelanjutan kisah Jack dan Joy setelah keluar dari “room”, jenis film ini sebenarnya drama atau thriller atau malah drama thriller seperti The Silence of The Lambs (1991)? Santai saja, ketika pengalaman menonton film kawan-kawan sudah tidak cupu lagi genre itu tidak jadi masalah. Yang penting adalah kualitas dari film tersebut ketika dilihat dari berbagai sudut pandang.

Saya sudah yakin seratus persen serta kecurigaan saya sirna, saat Jack dan Joy berhasil selamat dengan cukup dramatis dan mendebarkan, lalu salah satu kawan ada yang mengecek durasi film dan saya tidak sengaja mendengar celetukan khas terkejut yang culun, “hah? Masih satu jam lagi?” Ternyata film baru berlalu separuhnya. Dan beberapa komentar dalam beberapa menit kemudian setelah menyadari film masih belum usai, sama sekali, “apa-apaan ini? Sudah nggak ada apa-apa lagi, sudah nggak ada konflkinya.” Saya menyimpulkan kawan-kawan masih terjebak oleh batasan sudut pandang yang diciptakan oleh sutradara Lenny, bahwa film ini adalah tentang penculikan yang mengerikan, ironi yang terjadi pada Joy saat ia melahirkan kehidupan baru tapi ia sendiri tak memiliki kehidupan yang sungguhan dan hal-hal sedih lainnya yang menghampiri Joy.

Saya membaca artikel review di popmatters.com, Joy mengalami post traumatic disorder yang cukup akut begitu ia sampai kembali ke rumahnya. Trauma luar biasa yang Joy tak bisa kendalikan adalah awal mula sesungguhnya dari cerita film ini yang disampaikan pada pertengahan. Bagian ini justru yang membuat saya penasaran dan tertarik, dan bagian ini pula yang saya ingin kawan-kawan temukan sebagai penyampaian plot film yang kuat. Begini, untuk mengaitkan bagaimana sikap Joy yang berbeda antara separuh awal dengan separuh akhir film, kita memerlukan pemahaman logika cerita yang dibangun oleh Room. Film ini bukan sekedar tentang bagaimana Joy diculik dan disekap selama tujuh tahun, tapi juga bagaimana ia tidak menyerah untuk menyelamatkan anaknya dari dunia yang terbatas ruangan kecil itu. Bahkan ia menemukan kapan waktu yang tepat untuk membuat rencana penyelamatannya sukses. Kalau hanya ingin menceritakan debar-debar kisah penculikan, Emma Donoghue (penulis novel Room) cukup bercerita awal mula Joy diculik sejak berumur 17 tahun. Oleh karenanya, selama dalam “room” Joy selalu bersikap kuat yang memang harus ia lakukan untuk ia dan anaknya dapat bertahan hidup. Meski tentu saja ia sudah mengalami trauma semanjak mendapat perlakuan kekerasan seksual dari Si Tua Nick,  tapi secara insting keibuannya ia tetap menahannya dan bertindak logis untuk Jack.

Maka saya sangat yakin film ini, seperti halnya Captain Fantastic dan mungkin film-film lain yang tak sempat saya bahas pada tulisan ini, lebih heroik ketimbang film-film superhero sungguhan. Bahkan secara unik, Joy bukan satu-satunya pahlawan dalam cerita ini. Karena Nancy, sang nenek, berkata pada Jack: “Hello, Jack. Terimakasih sudah menyelamatkan putri kami.” Saya juga tidak bisa melupakan akting Brie Larson yang saya yakini sebagai anugerah terutama semenjak Joy mulai menunjukkan gejala gangguan mental. Lalu segala bentuk imajinasi dalam acara nonton bareng waktu itu buyar seketika suara dengkuran menutupi jeritan-jeritan Joy saat ia tak bisa lagi mengontrol kondisinya. Sebenarnya kisah ini juga serupa dengan film Stockholm, Pennsylvania (2015) yang berkisah tentang Leia Dargon (Saoirse Ronan) yang baru saja berhasil pulang ke rumah yang tidak sepenuhnya bisa ia kenali setelah disekap sejak kecil. Memang, m omen yang paling menyebalkan adalah saat rumah sendiri justru menjadi tempat terasing di muka bumi. Kasihan Joy, kasihan Leia, dan anak-anak malang di seluruh dunia yang mengalami horor itu.

Nona Peregrine dan Wajah-Wajah Mengantuk yang Secara Kemenyek Kembali Ceria

Masih bicara kejaiban, pada pertemuan keempat, film keempat, kami memutuskan meloncat ke genre fantasi setelah film-film drama yang baru tiga itu. Miss Peregrine’s Home for Peculiar Children (2016) adalah satu gaya film fantasi yang agak tidak biasa, meski kalau melihat Tuan Tim Burton ada di balik kamera sutradara, saya pastikan ada yang tidak beres dalam film tersebut (tertawa jahat). Biasanya Tim Burton langganan aktor Johnny Depp untuk mengisi karakter nyentriknya, tapi kali ini tidak, entah bisa dibandingkan atau tidak hanya saja saya melihat Eva Green menggantikan Depp di film ini, karena beberapa omongan dan gaya yang absurd dari Eva sebagai Miss Peregrine.

Wajah-wajah sial yang mengantuk itu mendadak membelalak, rasanya senang tapi secara bersamaan melihat wajah-wajah segar itu juga terasa kemenyek di mata saya, terutama hati saya yang kelewat lemah lembut. Sudahlah, semoga model-model mood yang naik turun begini saat menonton film jadi modal pengalaman buat kawan-kawan SMW, agar tidak cupu saat meresensi film nanti(tertawa lebih jahat).

Pada bagian-bagian, akhir ini saya tidak bermaksud banyak bicara. Yang jelas, tokoh Peregrine di film ini berperan sebagai sosok ibu bagi anak-anak “spesial” yang membutuhkan perlindungan. Sama seperti Room, sosok ibu ini berusaha keras bagaimana caranya melindungi dan menyelamatkan anak-anaknya dengan menggunakan teori time loop, di mana waktu bisa diulang berkali-kali bahkan setiap hari untuk menghindari ledakan bom perang dunia II. Bahkan secara menarik, film ini juga memiliki batasan sudut pandang dan ruang lingkup, yaitu Peregrine’s home yang merepresentasi “room” dalam membatasi anak-anak dari dunia luar.

Dari sudut pembicaraan tema superhero, yang menarik dari film ini dan merupakan kekhasan Tim Burton yang selalu menonjolkan sisi gelap (baca: jelek) dari seseorang, tokoh-tokoh mutan di sini tidak lalu ditampilkan secara keren seperti di sekuel-sekuel dan prekuel-prekuel film X-Men. Justru peculiar children, ditampilkan seperti anak-anak yang punya kekurangan. Ada Emma, gadis yang saking “ringan”-nya ia harus mengenakan sepatu super berat agar ia tidak melayang dengan sendirinya, ada Horace yang dari matanya bisa menampilkan proyektor, ada si kembar yang selalu mengenakan topeng lumayan seram karena “sesuatu”. Mungkin agak serupa Watchmen (2009) yang menampilkan pahlawan-pahlawan super tidak dalam konsep yang “terang” atau katakanlah komikal, justru dalam bentuk se”gelap-gelap”nya.

Saya mungkin masih meraba-raba apa yang membuat kawan-kawan SMW cukup tertarik dengan film yang terakhir kami tonton bersama, atau mungkin ada yang tidak tertarik tapi belum menampakkan wajah mengantuknya di depan saya. Yang ingin saya tekankan pada bagian akhir ini, hubungan orangtua dan anak akan selalu menjadi premis yang menjanjikan untuk sebuah film. Bahkan bisa jadi sudut pandang secara khusus pada resensi kawan-kawan mendatang yang semoga tidak lama lagi, tidak seperti ide yang meloncat-loncat pada resensi yang buruk ini. Terkadang hubungan itu dibuat sederhana seperti Boyhood (2013) atau komikal seperti We’re The Millers (2013), atau kompleks seperti Psycho (1960) dan Carrie (1976), tapi seperti permohonan Peregrine pada Jake ketika ia harus mengorbankan dirinya; “Promise me one thing, Jake. That you will look after them all.”

Ya, dan akan selalu seperti itu.[]

*teruntuk kawan-kawan SMW angkatan 2015, kalian semua menyebalkan, tapi saya harap kalian lebih berteman lagi dengan film-film. Agar? Jawab sendiri-sendiri.

Comments

comments

Lihat Juga

Music, just do it!

Comments comments