Lonceng di menara gereja yang sedang kutuju masih berdentang beberapa kali sebelum akhirnya berhenti. Pagi ini akan diadakan misa mingguan seperti biasanya. Aku melihat jam tanganku, pukul 8, dan aku sudah berada beberapa meter dari pintu masuk gereja. Dua petugas gereja terlihat berdiri di teras menyambut jemaat yang datang dengan senyum dan sapaan hangat.
Aku berjalan di belakang rombongan kecil keluarga yang datang bersama. Ada bapak ibu, seorang nenek yang sudah berusia sangat sepuh, tubuhnya ringkih dan rambutnya klimis seluruhnya memutih, namun masih bisa berjalan tanpa bantuan alat. Dua anak remaja mereka, laki-laki dan perempuan, turut memberi salam, berjalan tepat di depanku. Aku melewatkan sapaan dua petugas itu dan hanya mengambil air suci sebelum masuk ke dalam gereja.
Aroma segar dari bunga-bunga di altar tercium begitu aku memasuki gereja, seakan membeku dalam ruangan berlangit-langit tinggi yang dingin karena embusan pendingin ruangan di sejumlah titik. Aku mengambil tempat duduk paling belakang, sebelah kiri dari pintu masuk. Ada yang masih kosong di ujung bangku, persis posisi yang aku butuhkan untuk misa pagi ini. Aku memutuskan tidak ikut komuni dan tidak menyelesaikan misa hingga akhir, karena aku harus mengejar bus ke kota M yang akan berangkat lebih kurang sejam lagi.
Stasiun bus di kota kecil ini hanya berjarak kira-kira 50 meter dari gereja. Jadi, aku bisa melipir setelah khotbah untuk ke stasiun. Tiket bus sudah kukantongi. Dan sejujurnya, tidak ada niatku untuk mengikuti misa hari ini. Aku hendak kembali ke kota M, tempat tinggalku sekarang, dan menemukan ada waktu jeda yang cukup panjang hingga jadwal bus tercepat yang bisa kuambil. Di situlah aku memutuskan untuk masuk ke gereja ini, setelah mendengar loncengnya tatkala aku sedang berpikir apa yang akan aku lakukan dalam waktu sejam lagi.
Rasanya ada sesuatu yang ingin kutumpahkan di sini, dalam nyanyian dan doa jemaat yang dulu pernah kulakukan. Sesuatu yang ingin kuletak di rumah yang katanya milik Tuhan ini, entah kapan aku akan mengambilnya lagi. Mungkin bisa dikirim saja jika waktunya tiba. Pikiranku melayang pada ingatan masa lalu sebagai penghuni kota kecil ini. Biarpun sudah belasan tahun aku tinggalkan, rasanya baru kemarin aku berlarian di malam gelap, menuju stasiun bus di samping gereja ini, kabur dari rumah.
Baca JugaMantra untuk Bersembunyi
Misa sudah dimulai. Suara organ membawaku pada realita gereja yang sedang penuh dengan orang-orang yang menyerahkan diri pada kekuasaan yang melebihi akal mereka. Aku tidak datang dengan niat itu. Sebaliknya, aku ingin meletakkan kepercayaanku di sini. Bertanya mengapa kuasa-Nya tidak bekerja atasku. Setelah bertahun-tahun lamanya, mengapa aku masih merasa seperti gadis remaja yang kabur dari rumah kala menginjakkan kaki di kota ini lagi. Mengapa doa-doaku justru semakin membuatku muak dan benci pada keyakinanku sendiri, keyakinan keluarga yang sejak bayi sudah dicokokkan ke mulutku, ke pikiranku. Doa yang tak juga terkabulkan malah menjelma kesesakan yang tiada tara. Penyesalan menjadi keniscayaan begitu hidup menemukan kesulitan tertingginya.
Satu malam. Hanya satu malam aku kembali ke sini dan menginap di rumah Tante Anna, adik bungsu ibuku. Ini adalah kemunculan pertamaku sejak aku kabur dari rumah dan memutus hubungan dengan seluruh keluarga. Seorang kerabat jauh menemukanku di pabrik tempatku bekerja setelah melihat fotoku di salah satu media sosial bersama teman kerjaku yang juga teman SMA-nya dulu di kota P. Dia menelusuriku diam-diam bersama kerabat lain dan akhirnya menemuiku di kos.
Iklan
Iklan
Ibuku mengidap demensia. Itu berita pertama yang mereka sampaikan padaku ketika bertemu. Kedua, Bapakku sudah meninggal kena wabah Covid-19 beberapa tahun lalu, yang memang sudah lama mengidap strok dan diabetes. Adik-adikku, Vina dan Angel, mereka sudah menikah dan pindah ke luar kota ikut suami mereka yang berprofesi sebagai tentara. Selama ini Ibu dirawat Tante Anna di rumahnya dengan pembiayaan yang dikirim rutin oleh adik-adikku.
Butuh waktu lama bagiku mempertimbangkan untuk mengambil kembali peran sebagai anak dalam keluarga kami yang sudah tercerai berai. Sejak Bapak meninggal, Ibu yang memang sudah memiliki gangguan ingatan sejak lama, akhirnya menyerah dan melupakan semua orang-orang terdekatnya.